Penulis: Henk Widi / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Henk Widi

Pemandangan yang sama juga bisa ditemui pada jembatan gantung di Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Jembatan gantung sepanjang 15 meter dan lebar 1,5 meter yang ditopang dengan tali baja tersebut kini kondisinya semakin memprihatinkan. Di beberapa bagian jembatan sudah nampak keropos dan jebol. Perbaikan sering dilakukan tetapi swadaya masyarakat sekitar sehingga hasilnya belum maksimal dan tidak berpengaruh banyak pada kondisi jembatan yang Sungai Way Pisang Kecamatan Penengahan.
Dari Sunarko (40), salah satu warga, Cendana News mendapatkan penjelasan bahwa sebelum jembatan gantung yang sekarang ini, sudah ada jembatan sejenis tetapi tak bersisa setelah diterjang banjir. Akhirnya, dibangunlah jembatan gantung yang ada sekarang ini.
Pembangunan jembatan gantung secara swadaya ini karena warga sangat membutuhkan jalan penghubung antar desa termasuk akses bagi anak-anak menuju sekolahnya. Besarnya manfaat dari jembatan gantung tersebut memang sangat berdampak bagi warga jika tidak segera ada perbaikan.

Pantauan Cendana News, jembatan gantung yang kerusakannya hanya ditambal dengan bambu tersebut hanya mampu dilewati pejalan kaki dan pengendara kendaraan roda dua, dengan catatan kendaraan roda dua tersebut tidak membawa beban berlebih karena jika itu terjadi, sangat berbahaya bagi pengendaranya, walaupun tetap saja ada pengendara yang nekat.
Ada upaya dari warga untuk membangun jalan darat berbahan paving blok yang diharapkan mampu menghubungkan Desa Karangsari dan Desa Sukabaru namun karena ada rencana pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pengerjaan jalan hanya sebatas jalan lingkar desa untuk efisiensi.
Saat Cendana News melakukan konfirmasi kepada Budi Santoso selaku Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (KUPT) Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Penengahan, ia mengaku telah melakukan peninjauan terhadap kondisi jembatan gantung tersebut.

Apa yang disampaikan oleh Budi Santoso tentu mampu menjawab harapan warga yang menginginkan jembatan gantung di desanya berubah jadi jembatan permanen. Sungguh pun demikian, prosesnya tentu tidak mudah karena menurut Budi, ia harus mengajukan perencanaan tersebut ke Pemkab (Pemerintah Kabupaten).
Harapan Budi dan warga sekitar, jembatan permanen segera dibangun sebagai pengganti jembatan gantung yang kondisinya semakin membahayakan. Diharapkan, dengan dibangunnya jembatan permanen nantinya bukan hanya pejalan kaki dan pengendara roda dua yang bisa melintas tetapi juga kendaraan roda empat mengingat di wilayah tersebut ada perkebunan yang tentunya butuh kemudahan akses bagi kendaraan roda empat guna mempermudah proses angkut hasil kebun dan kebutuhan lainnya.