Butuh 23 Tahun Meyakinkan Pengungsi Desa Teka Iku Pindah Kependudukan

SENIN, 11 JANUARI 2016
Penulis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary

CATATAN JURNALIS—Pengungsi asal Desa Teka Iku yang sudah menetap di Desa Langir sejak 1992 karena bencana gempa bumi. Selama ini, walaupun mereka tinggal di Desa Langir tetapi secara administrasi, seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga) masih terdaftar di desa asalnya. 4 kali Kepala Desa Langir sudah berganti demikian juga dengan Camat Kangae, tapi mereka tetap tidak bersedia tercatat sebagai penduduk Desa Langir. 

Penyerahan dokumen kependudukan dari Camat Kangae (kiri) kepada perwakilan warga disaksikan Kepala Desa Langir

Kini, setelah melampaui proses 13 tahun, akhirnya mereka bersediia menjadi penduduk Desa Langir. Dari 34 KK (Kepala Keluarga) pengungsi asal Desa Teka Ikut ada 28 KK yang bersedia tercatat sebagai penduduk Desa Langir, 1 KK dinyatakan merantau, dan 3 KK masih belum bersedia menjadi penduduk Desa Langir dan akhirnya memilih kembali pulang ke Desa Teka Iku.

Awalnya, 34 KK tersebut mendiami Dusun Wolomude, Desa Teka Iku hingga akhirnya terjadi bencana gempa dan tsunami pada tahun 1992 yang memaksa mereka berpindah ke Dusun Habibuang, Desa Langir. Sejak kepindahan mereka, kepala desa sudah meminta mereka mengurus kelengkapan administrasi sehingga terdaftar menjadi penduduk Desa Langgir.


Dari Camat Kangae, Yohanes Yanto, diperoleh penjelasan bahwa yang menjadi alasan utama mereka enggan berpindah adalah Mahe ((altar untuk pemujaan saat ritual adat) milik mereka berada di wilayah desa Teka Iku. 

Para pengungsi selama ini mengira jika mereka tercatat sebagai warga Desa Langir, mereka tak bisa lagi ke Desa Teka Ikut untuk menjalankan ritual sesuai keyakinan mereka. Walaupun Kepala Dusun, Kepala Desa dan Camat sudah berusaha meyakinkan bahwa itu bukan masalah besar karena mereka tetap bisa pulang kapan saja untuk menjalankan ritual di desa asalnya tetapi tetap tidak mudah diterima. Terbukti, butuh waktu 23 tahun untuk membuat mereka yakin dan akhirnya bersedia menjadi penduduk Desa Langir.

Sebagai bentuk penghargaan atas upaya panjang selama 23 tahun sekaligus menyambut datangnya “warga” baru, Camat Kangae menggelar acara syukuran (ucap syukur) di halaman kantor Desa Langir yang dihadiri oleh Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan selamat kepada Kepala Desa Langir dan Camat Kangae atas keberhasilan mereka meyakinkan 28 KK untuk menjadi “keluarga baru” bagi Desa Langir. Dikatakan Ansar, masalah kependudukan di wilayah perbatasan memang masih jadi masalah besar di perbatasan, ia bisa memahami ini karena dulu ia pernah menjadi Camat Nita pada belasan tahun silam.

Kejelasan administrasi sangat penting sehingga memudahkan pemerintah dalam membuat perencanaan dan mengambil kebijakan. Untuk menyelasikan permasalahan perbatasan, pemimpin harus menjalin komunikasi intensif dengan warga dan tokoh adat serta aparat desa tetangga.

Cendana News juga berhasil menemui Karolus Asmen, salah seorang kepala keluarga yang memilih pindah status kependudukan. Karolus menyampaikan ada rasa hutang budi kepada semua warga dan aparat desa ketika terjadi gempa dan tsunami. Hanya saja, ia menyayangkan karena aparat pemerintah dari dua desa tidak pernah duduk bersama membahas masalah status kependudukan ini. Tapi, puncaknya, pada tanggal 9 Desember 2015 lalu, Camat datang dan menjelaskan lagi mengenai pentingnya status kependudukan. Dengan proses panjang tersebut, akhirnya Karolus dan beberapa KK lainnya pun memutuskan untuk pindah menjadi penduduk Desa Langir.

Disaksikan Cendana News, acara dimulai dengan ritual adat yang ditandai dengan penyembelihan seekor kuda dan diakhiri dengan perayaan misa Natal bersama sekaligus syukuran. Selain itu saat acara diserahkan kelengkapan administrasi dari Kepala Desa Langir kepada Camat Kangae dan diteruskan camat kepada warga. Tampak hadir mengikuti acara syukuran, Wakil Bupati Sikka, Drs.Paolus Nong Susar, Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga,SP serta para kepala desa di kecamatan Kangae dan warga Desa Langir.

Lihat juga...