![]() |
| Pelabuhan Nusantara Kendari |
CATATAN JURNALIS—Waktu menunjukkan pukul 09.20 Wita. Namun matahari yang bersinar sudah memancarkan cahaya panas yang menyengat perih di kulit. Ya maklum sejak bulan Agustus lalu hingga November, hujan yang dinanti-nanti masyarakat Kota Kendari tak kunjung turun.
![]() |
| Pelabuhan Nusantara Kendari |
Jika melihat sejarah pelabuhan di Teluk Kendari, era Presiden Soeharto berkuasa, perkembangannya sangat pesat. Karena pada tahun 1970-an, belum ada pelabuhan yang semegah sekarang. Yang ada ketika itu hanya tempat menambatkan perahu di dermaga kayu seadanya.
![]() |
| Pelabuhan Perikanan |
Dermaga itu juga menjadi pusat bongkar muat pasokan bahan bangunan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Surabaya Jawa Timur (Jatim) dan Batavia kini berubah nama menjadi DKI Jakarta.
![]() |
| Pelabuhan Kassipute Kabupaten Bombana |
Di zaman Alala masih menjabat gubernur Sultra, pelabuhan terbesar di Kota Kendari hanya ada Pelabuhan Kendari yang kini dijadikan pelabuhan untuk menghubungkan Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Muna. Letak pelabuhan tersebut di ujung kota lama. Pelabuhan itu terbuat dari kayu.
![]() |
| Pelabuhan Kontainer Bungkutoko |
Berbeda diungkapkan Marjan, pria asal Kabupaten Wakatobi. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Kendari pada tahun 1987, dia menumpang perahu motor bertonase 4 ton. Dari Wakatobi menuju Kendari, waktu tempuh 2 hari 2 malam lamanya.




