KAMIS, 7 JANUARI 2016
Penulis : Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: H. Wuata Saranani
KENDARI—Presiden RI ke-2, HM. Soeharto tetapi lebih lekat di hati segenap rakyat Indonesia dengan nama Pak Harto atau Bapak Pembangunan. Salah satu cara sekelompok kalangan untuk menyudutkan Pak Harto adalah dengan menyebutnya sebagai pemimpin yang hanya ingin membangun Pulau Jawa, tidak memikirkan wilayah Indonesia yang lain. Pendapat tersebut dibantah oleh H. Wuata Saranani.
![]() |
Mantan Camat Pondidaha Dati II Kabupaten Kendari (sekarang Kabupaten Konawe) ini, untuk pertama kali ke Istana Negara di Jakarta pada tahun 1983. Wuata Saranani ditugaskan khusus oleh Andrey Djufri, mantan Bupati Kendari untuk menerima Peraturan Pemerintah No 29 tahun 1982 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Kendari dari wilayah administratif Kendari ke Kecamatan Unaha Wilayah Kabupaten Kendari Dati II.
“Saya ditugaskan Pak Bupati Kendari ke Istana Negara. Di istana saya menerima langsung Peraturan Pemerintah tentang perpindahan ibukota Kabupaten Kendari dari tangan Bapak Soeharto. Ini sejarah hidup bagi saya, untuk pertama kali saya bertemu Presiden RI,” kata Wuata Saranani yang pernah menjabat sebagai camat selama 21 tahun.
![]() |
| Wuata Saranani mendapatkan penghargaan dari Pak Harto |
Kenangan lain yang sangat bersejarah dibenak tokoh adat masyarakat Sulawesi Tenggara ini, ketika Presiden Soeharto mencanangkan bulan bakti nasional LKMD di Desa Duriaasi, Kecamatan Pondidaha Kabupaten Kendari, pada tanggal 11 Maret 1996.
“Saya yang menyambut langsung kunjungan kerja Pak Harto di Desa Duriaasi waktu itu. Saya masih menjabat sebagai camat Pondidaha pada saat beliau meresmikan gelanggang olahraga Bangga Sukadesa,” ungkapnya.
Kepada Cendana News Saranani memamerkan penghargaan abdi negara masa kerja 10 tahun, masa kerja 20 tahun dan masa kerja 30 tahun. Satu dari tiga penghargaan yang ia peroleh diserahkan langsung oleh Pak Harto di Istana Negara.

“Penghargaan 10 tahun dan 20 tahun, hanya dikirim. Tapi penghargaan 30 tahun, saya diundang ke Istana Negara. Penghargaan diserahkan langsung oleh Pak Harto,” ungkapnya.
Pak Harto Sangat Memperhatikan Daerah Pelosok
Kepada yang muda-muda (demikian Saranani mengistilahkan), ia ingin mengingatkan bahwa Kendari atau Konawe yang nampak sekarang ini sangat jauh berbeda dengan kondisi masa itu. Jalanan masih belum diaspal dan listrik masih belum ada. Jadi ketika Pak Harto datang ke Kendari, jalanan masih jelek dan gelap gulita.
“Tetapi begitu Pak Harto meninjau langsung kondisi di sini, tidak lama lagi, jalanan diaspal dan desa dialiri listrik. Itu bukti bahwa Pak Harto tidak banyak bicara tapi padat karya (banyak kerja),” jelasnya berapi-api.
Ia sangat tidak sepakat dengan tuduhan bahwa Pak Harto hanya memperhatikan Pulau Jawa karena menurutnya Pak Harto selalu menyertakan pembangunan daerah pedalaman dalam setiap rencana kerjanya dalam Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
“Bagi saya dan banyak rakyat Indonesia, Pak Harto bukan hanya Bapak Pembangunan tetapi Bapak Kesatuan RI, karena Pak Harto berhasil memperhatikan seluruh wilayah Indonesia dalam bingkai Kesatuan RI, semuanya dirangkul sehingga suasana yang damai selalu tercipta,” kenangnya.

Ia menambahkan, Pak Harto adalah pemimpin yang mampu memajukan desa, banyak program-program yang dilakukan oleh Pak Harto untuk pedesaan, bukan sekedar slogan yang dicanangkan. Karenanya, ia sangat menyesalkan jika ada upaya untuk mengaburkan jasa-jasa Pak Harto dalam membangun seluruh pelosok tanah air.
Harus diingat oleh seluruh generasi muda di negeri ini bahwa apa yang dilakukan oleh BJ. Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan sekarang Jokowi adalah melanjutkan pembangunan Indonesia yang sudah lebih dulu dibangun pondasinya oleh Pak Harto.
Dengan tegas ia memberikan nasehatnya, janganlah memutar balikkan fakta dan menutupi jasa-jasa para pendahulu yang sudah berjuang sekuat tenaga memajukan bangsa Indonesia agar memiliki derajat yang sama dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Jika ada pro kontra tentang gelar Pahlawan Nasional bagi Pak Harto, itu bukan masalah besar karena yang ia yakini, di hati segenap rakyat Indonesia, Pak Harto adalah Bapak Pembangunan dan Bapak Kesatuan RI, segala upaya bisa dilakukan untuk mengaburkannya tetapi bukti sejarah tidak akan pernah bisa dihapus bahwa Pak Harto sangat kerja keras memajukan seluruh desa yang ada di pelosok negeri tanpa kecuali. Demikian Saranani menutup pembicaraan dengan Cendana News.
