Pengembalian ke Bentuk Asli Masjid Mlangi Masuki Tahap III

Kyai Salaman dan proses renovasi kolam masjid
YOGYAKARTA — Satu lagi Masjid yang termasuk cagar budaya di Sleman, Yogyakarta, dipugar. Pemugaran dilakukan untuk mengembalikan bentuk aslinya. Pasalnya, Masjid Jami Mlangi yang berada di desa Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta tersebut, sempat dibuat menjadi bertingkat dua sehingga menyalahi bentuk aslinya.
Masjid Jami Mlangi diperkirakan dibangun sejak tahun 1700-an, tatkala Kesultanan Mataram Hadiningrat di Yogyakarta baru saja berdiri. Masjid tersebut dibangun oleh alm Mbah Kyai Nur Iman, kakak dari Sultan HB I.  Demikian dikatakan Kyai Salaman (57), takmir masjid setempat sekaligus keturunan ketujuh Kyai Nur Iman, saat ditemui di masjid setempat, Rabu (14/10/205), siang.
Kyai Salaman menjelaskan, Masjid Jami Mlangi sekarang ini masih dalam proses pemugaran, untuk mengembalikan ke bentuk aslinya. Pasalnya, lanjut Kyai Salaman, masjid itu sekitar 5 tahun lalu dibuat bertingkat dua untuk menambah daya tampung jemaah yang terus bertambah. 
“Tapi mulai tahun 2012, pihak Keraton Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan Sleman meminta agar masjid itu dipugar total dan dikembalikan ke bentuk aslinya yang tidak bertingkat”, ujarnya.
Pemugaran dengan menghilangkan lagi bangunan lantai dua itu, kata Kyai Salaman, terpaksa dilakukan karena Masjid Jami Mlangi termasuk dalam Bangunan Cagar Budaya. “Maka, keasliannya harus dipertahankan dan dilestarikan”, ungkapnya.
Kini, menurut Kyai Salaman, pemugaran masjid dengan Dana Keistimewaan DIY sebesar kurang lebih Rp 2,6 Milyar itu sudah memasuki tahap ketiga. Yaitu, membangun lagi jagang atau kolam di sekeliling halaman masjid. Pada zaman dulu, kata Kyai Salaman, setiap masjid Jawa selalu dikelilingi kolam di bagian samping dan depan. 
“Ini karena agar siapa pun yang mau ke masjid menyeberangi kolam yang akan membersihkan kaki. Nilai filosofinya adalah siapa pun harus bersih lahir batin setiap hendak masuk ke masjid”, jelasnya.
Masjid Jami Mlangi menjadi salah satu masjid tua dan bersejarah di Kota Yogyakarta. Masjid itu dibangun oleh Kyai Nur Iman, setelah dengan kesaktiannya merubah rawa-rawa menjadi daratan sehingga bisa dibangun masjid. Karena kisah kesaktian Kyai Nur Iman itu, banyak jemaah yang sering meluangkan waktu untuk menjalankan solat di masjid itu sambil bertirakat.
“Kyai Nur Iman sekaligus adalah tokoh pertama yang mengajarkan Islam di desa ini. Sekarang, desa ini juga masih menjadi kampung santri, dengan sembilan pondok pesantren yang masih ada hingga kini”, kata Kyai Salaman, sembari mengimbuhkan jika selama bulan Suro ini, desa Mlangi akan semakin dikunjungi banyak peziarah dari berbagai daerah.
Disebutkan, setiap bulan Suro, terutama tanggal 15 Suro saat digelar Khaul Mbah Kyai Nur Iman, ratusan kyai dari berbagai daerah seperti Jawa Timur dan sebagainya akan berdatangan. 
Masjid Jami Mlangi setelah dikmbalikan tidak bertingkat
RABU, 14 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...