![]() |
| Sumber air |
LAMPUNG — Sumber kebutuhan air selama musim kemarau bagi masyarakat Desa Kelau Kecamatan Penengahan, yang berada di kaki Gunung Rajabasa masih bisa diperoleh. Sumber mata air yang berada di sekitar pohon gondang oleh masyarakat pun dibuat penampungan sebelum disalurkan dengan selang ke rumah rumah warga.
Tokoh masyarakat yang tinggal tak jauh dari lokasi tersebut, Komar (40) mengaku sumber mata air atau yang disebut ‘belik’ sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Berkat kearifan lokal warga yang masih menganggap pohon pohon besar di wilayah tersebut merupakan peninggalan leluhur maka sumber pasokan air tetap terjaga.
“Kita memiliki sebuah keyakinan bahwa leluhur kita di sini menjaga hutan serta pohon di sini sebagai warisan untuk anak cucu sehingga tak ada yang diperbolehkan menebangnya,”ujar Komar kepada Cendananews.com, Sabtu (31/10/2015).
Ia bahkan mengungkapkan, ada semacam sanksi denda serta sanksi sosial bagi warga yang menebang kayu di wilayah sumber resapan air di wilayah tersebut. Terutama saat musim kemarau beberapa bulan belakangan ini pasokan air sangat kurang sehingga keberadaan sumber penampungan air sangat diperlukan.
Sumber air yang berasal dari Gunung Rajabasa tersebut ungkap Komar bisa diperoleh oleh warga di Desa Kelau dengan gratis tanpa membayar biaya langganan. Namun Komar menambahkan setiap waktu tertentu yang telah disepakati warga bergotong royong membersihkan saluran air serta tempat penampungan air dari kotoran daun daunan di sekitar penampungan.
Selain menjadi sumber mata air yang jernih bagi masyarakat aliran air tersebut menjadi mata air sungai kecil yang masih tetap mengalir di wilayah tersebut meskipun musim kemarau.
Komar dan warga sekitar tidak menampik di beberapa bagian lereng Gunung Rajabasa yang tidak masuk kawasan hutan lindung sebagian dijadikan lahan perkebunan dan pertanian. Beberapa pohon pun terpaksa ditebang untuk kebutuhan tersebut.
Kondisi tersebut membuat warga yang peduli akan keberlangsungan sumber air menggiatkan pengawasan di sekitar sumber mata air. Beberapa pohon yang rentan ditebang bahkan diberi tanda larangan untuk tidak ditebang dan jika berada di perkebunan warga pohon tersebut dibeli oleh desa supaya tidak ditebang.
“Inisiatif musyawarah warga pohon yang potensial ditebang dibeli pihak desa dan diberi tanda agar tak ditebang karena sebagai penahan sumber mata air,”ungkap Komar.
Warga lain di sekitar lokasi sumber air Komariah (39) mengungkapkan, selain sebagai sumber mata air warga biasa memanfaatkan untuk mandi. Lokasi yang cukup jauh dari perkampungan warga dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit tersebut bahkan digunakan untuk rekreasi warga dan digunakan untuk mandi karena aliran air yang masih cukup segar.
“Mandi di sini tak kalah dengan mandi di kolam renang dan di sini justru airnya masih alami jadi banyak yang mandi di sini sekaligus mengambil air untuk minum,”ujar Komariah.
Warga terkadang membawa derigen kecil untuk dibawa pulang sehabis mandi dan memanfaatkan air bersih tersebut untuk keperluan memasak.

SABTU, 31 Oktober 2015
Editor : ME. Bijo Dirajo
Jurnalis : Henk Widi

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.
Akun Twitter: @Henk_Widi