YOGYAKARTA — Dalam safari kunjungan kerja perorangan Wakil Ketua DPR RI Bidang Pertanian dan Perikanan, Titiek Hediati Soeharto, terungkap di wilayah Sleman Yogyakarta ternyata menyimpan potensi bisnis ikan koi yang cukup menjanjikan. Titiek yang datang ke sentra budi daya ikan koi dusun Blumbangan, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, Selasa (22/9/2015) siang, didampingi Kadinas Perikanan Sleman, Suparmono, menekankan agar segera dilakukan pengembangan teknologi budi daya ikan koi yang sangat potensial itu.
Ikan koi yang selama ini dikenal sebagai ikan hias berharga mahal dan selalu dari negara asing, oleh Kelompok Budi Daya Ikan Koi Karya Mina Dusun Blumbangan, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, telah dibudidayakan sejak tahun 1997. Dengan luas lahan 5.000 meter persegi, Kelompok Karya Mina mampu mengembangkan ikan koi beragam jenis dan arwana yang terkenal mahal di lahan berbeda seluas 7.000 meter persegi.
Kepada awak media, Titiek Soeharto dalam kunjungannya menyatakan jika keberadaan budi daya ikan koi ini merupakan potensi besar ekonomi yang belum banyak diketahui. Karena itu, katanya, media massa sekiranya harus berperan menyebarkan informasi ini yang juga berguna untuk menunjang upaya pemerintah di bidang pemberdayaan masyarakat. “Ini merupakan potensi besar. Ikan koi yang selama ini orang tahu hanya import, di wilayah Sleman ini ada dan tidak kalah kualitasnya. Baik dari sergi warna dan motifnya”, ujar Titiek.
Namun demikian, dalam diskusi bersama kelompok Karya Mina, Titiek mendapati beberapa kesulitan yang masih dihadapai oleh para petani ikan koi. Antara lain, masih mahalnya harga pakan dan belum adanya pengembangan teknologi budidaya ikan koi. Karena itu, kepada jajaran dinas terkait yang turut mendampingi kunjungannya tersebut, Titiek langsung meminta agar dilakukan kajian mengenai harga pakan dan riset agar nantinya bisa dibuat inovasi pakan sehingga para peternak ikan koi tidak disulitkan lagi dengan harga pakan yang mahal.
Titiek juga meminta, agar dinas terkait melakukan penelitian untuk mencari tahu kandungan air hujan. Pasalnya, dari budidaya ikan arwana yang dikelola oleh Kelompok Karya Mina, diketahui ikan arwana hanya bisa berpoduksi pada musim hujan. Agar tak tergantung cuaca, Titiek meminta dilakukan penelitian air hujan sehingga nantinya bisa dibuatkan teknologi yang bisa merekayasa air untuk budi daya ikan arwana.
Sementara itu, Santoso, Ketua Kelompok Karya Mina menyatakan terimakasihnya atas kunjungan dan kepedulian Titiek Soeharto dalam upayanya mengembangkan budi daya ikan koi. “Sekelas pejabat seperti Ibu Titiek, begitu tidak segan memberi makan ikan koi dan peduli dengan pengembangan budi daya ikan koi ini. Kami sangat mengharapkan ada dukungan Bu Titiek agar inovasi teknologi budi daya ikan koi bisa segera terwujud”, pungkasnya.