Imbas Sinetron, Toko dan Bengkel Sepeda di Lampung Banjir Orderan

Perbaikan sepeda di bengkel
LAMPUNG — Sejak bergulirnya sinetron yang mengangkat cerita tentang anak yang menghasilkan uang dalam membantu keluarga dengan beratraksi sepeda membuat toko dan bengkel sepeda kebajiran order. Seperti yang dialami salah satu pemilik bengkel sepeda di Lampung, Mat Khon (67).
Dia menyebutkan, sejak anak anak mulai menyukai sepeda dalam kurun sebulan ini, bengkelnya yang berada di jalan lintas Kecamatan Palas- Kecamatan Sragisetiap hari tak pernah sepi .
“Banyak anak anak datang minta dipompa ban sepedanya, minta diperbaiki bagian yang rusak malah ada yang beli sepeda,”ungkap Mat Khon sambil melayani pembeli.
Proses perbaikan sepeda yang dilakukan oleh Mat Khon diantaranya memperbaiki jeruji sepeda, bagian sepeda lain tetapi jika sedang tak ada perbaikan ia akan merakit sepeda bekas. Sepeda bekas tersebut digantinya beberapa bagian dengan onderdil baru sehingga tampak menjadi baru untuk dijual kembali.
Mat Khon mengaku membeli sepeda bekas dan sudah rusak di beberapa bagian dengan harga sekitar Rp100ribu-Rp150ribu. Setelah diperbaiki sepeda tersebut akan dijual dengan harga Rp250ribu-Rp300ribu. Penjualan pun tergantung kondisi sepeda serta onderdil yang diganti.
“Banyak yang membeli sepeda bekas karena harganya lebih miring terutama bagi yang memang belum cukup memiliki uang tapi sang anak segera ingin memiliki sepeda,”ungkapnya.
Ia bahkan membandingkan jika di toko sepda harga sepeda baru mencapai Rp500ribu hingga Rp1,5 juta, namun sepeda yang sudah diperbaiki dan seperti baru lagi bisa dijual dengan hanya seharga Rp250ribu-Rp300ribu.
Mat Khon yang terbilang sudah cukup berumur tersebut bahkan mengaku akibat musim anak anak menyukai sepeda, penghasilannya dalam sehari bisa rata rata mencapai ratusan ribu rupiah. Penghasilan tersebut diperoleh dari menjual sepeda bekas atau memperbaiki kerusakan onderdil sepeda. Ia mengaku belum memiliki modal untuk membuat toko yang menjual sepeda baru.
“Modalnya besar maka saya hanya bisa membuat bengkel dari papan dan alhamdulilah saya masih bisa mencukupi kebutuhan saya untuk makan dan kebutuhan lain,”ungkapnya.
Sementara itu salah satu pemilik toko sepeda di pasar Sukaraja Kecamatan Palas Udin (40) mengaku dalam sepekan sebanyak 5-7 sepeda baru bisa terjual. Sepeda sepeda tersebut rata rata dibeli oleh anak anak usia sekolah dasar dengan kisaran harga Rp500ribu-Rp1juta.
“Sepeda yang saya jual rata rata baru dan masih terbungkus plastik dari pabriknya sehingga lumayan mahal, tapi sekarang permintaan sedang banyak dari anak anak,”ungkapnya.
Selain menjual sepeda baru ia juga menjual perlengkapan sepeda serta aksesoris yang disukai oleh anak anak yang sedang gemar bermain sepeda. Perlengkapan helm, sepatu serta perlatan lain bahkan dijual di tokonya yang penjualannya meningkat akhir akhir ini.
Salah satu guru sekolah dasar Asty (29) mengaku pengaruh sinetron televisi secara langsung telah mempengaruhi anak anak. Bahkan setiap hari kini semakin banyak siswa yang pergi ke sekolah dengan sepeda.
“Biasanya diantar orangtuanya tapi kini sudah banyak yang naik sepeda, tetap saya ingatkan untuk berhati hati selama menggunakan sepeda ke sekolah,”ungkap Asty.
Ia bahkan tidak melarang dan hanya menghimbau kepada anak didiknya agar meski menonton sinetron di televisi yang membuat anak menyukai sepeda, ia selalu berpesan agar anak anak tetap tidak melupakan untuk belajar.
Menurut salah satu orangtua yang anaknya minta dibelikan sepeda, Sodikin (36) karena sering menonton sinetron.
“Sejak ada sinetron tersebut anak anak minta dibelikan sepeda dan setiap sore banyak anak anak yang bermain sepeda di lapangan, ini malah minta diperbaiki di bagian pedal,”ungkap Sodikin yang menemani puterinya yang duduk di kelas 5 SD di Lampung Selatan, Rabu (30/9/2015).
Sodikin mengakui tren, musim anak anak bermain selalu dipengaruhi oleh tren ataupun pengaruh televisi. Biasanya anak anak akan mulai bermain layang layang, kelereng, lompat tali, serta permainan lain karena saat tersebut anak anak sepermainan memainkan permainan di setiap kampung. Selain karena faktor tren terkadang televisi pun ikut menjadi andil dalam mempengaruhi anak anak.
“Selama adegan atau aktifitas yang ada di televisi tak berbahaya dan ditiru oleh anak anak wajar wajar saja tapi sebatas untuk kegiatan olahraga juga bagus untuk anak anak,”ungkap Sodikin.
Sepeda bekas

RABU, 30 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...