Budi Kuncahyo: Pergerakan PKI Terlihat Kembali di Indonesia

Haris Budi Kuncahyo
MALANG — Ditemui saat memimpin aksi Gerakan Bela Negara (GBN) menolak rekonsiliasi HAM PKI di depan Kantor Balai Kota Malang, Haris Budi Kuncahyo S.Ag,MSi. yang juga merupakan salah satu aktivis GBN ini menjelaskan bahwa sejak awal sistem politik yang dianut oleh PKI adalah salah. 
Kenapa salah, yang pertama karena mereka justru menghancurkan umat beragama yang ada di Indonesia dan yang kedua adalah berkhianat kepada NKRI dan Pancasila serta sering menghasut dan menyebarkan fitnah di dalam masyarakat.
“Seandainya PKI saat itu tidak melakukan hal tersebut maka PKI akan menjadi partai yang besar namun kenyataannya, PKI justru melukai umat beragama dan telah menghasut, memfitnah dan mengadu domba masyarakat,” ucapnya.
Laki-laki yang pernah mengenyam pendidikan sarjananya di Universitas Islam Negeri Fakultas Tarbiyah mengingatkan, pergerakan PKI kini sudah mulai terlihat kembali di beberapa daerah di Indonesia.
“Pada tahun 2010, PKI telah melakukan kongres di daerah Grabag Magelang Jawa Tengah. Dalam kongres tersebut kemudian mereka berhasil melahirkan partai komunis baru yaitu Neo PKI dengan lambang palu dan arit yang di pegang dengan kedua tangan dan gambar padi dan kapas di sebelah kanan kirinya,”ungkapnya.
Sejak saat itu, dengan rentang waktu tahun 2010 hingga 2015 telah banyak terjadi rentetan peristiwa diantaranya pembuatan film Jagal, film senyap dan konflik Agraria serta kasus peserta karnaval di Pamekasan yang membawa atribut PKI.
Saat disinggung mengenai rencana pemerintah meminta maaf kepada keluarga PKI, Haris menjawab bahwa pada awal-awal memang terjadi wacana pada pidato kenegaraan Presiden Jokowi pada tanggal 14 Agustus 2015 yang berkomitmen untuk melakukan rekonsiliasi pelanggaran HAM berat. 
“Namun di situ tidak disebutkan kata PKI. Tapi kemudian ada pernyataan dari Ribka Tjiptaning Proletariyati anggota DPR RI yang menyatakan kecewa pada pidato Presiden Jokowi yang tidak merekonsiliasi HAM keluarga PKI, “jelasnya.
RABU, 30 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...