Tambah Penghasilan Petani Budidayakan Jahe Sebagai Tanaman Sela

Petani jahe sedang memeriksa tanaman jahe yang dibudidayakan dikebun

CENDANANEWS(Lampung) – Harga komoditas jahe yang cukup menguntungkan mendorong petani di wilayah Umbul Dana Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Provinsi Lampung menanam jahe di lahan milik mereka. Dari pantauan Cendananews.com rata rata petani di wilayah tersebut terlihat tanaman jahe di lahan lahan kebun mereka.
Bahkan berdasarkan pengakuan Sumiati (34), dia dan warga sekitar sudah mengembangkan tanaman jahe sejak dua tahun lalu. Rata rata warga di sekitar Umbul Dana, Trans Cilacap, Trans Jember melakukan budidaya tanaman jahe setelah banyaknya permintaan tanaman jahe dari pabrik jamu di Pulau Jawa.
“Awalnya beberapa petani di sini mengembangkan jahe untuk kebutuhan pasar lokal, kemudian ada perusahaan jamu yang survei ke sini, lahan cocok dan kemudian banyak warga menanam jahe,” ujar Sumiati kepada Cendananews.com, Minggu (26/4/2015).
Rata rata petani menanam jahe di lahan yang ditanami dengan tanaman pokok seperti pisang dan tanaman lain. Jahe ditanam menggunakan sistem sela diantara tanaman pisang bersama tanaman cabe, kunyit, lengkuas serta tanaman lainnnya.
Sementara itu, Toheri petani lain mengaku,meskipun tanaman jahe baru bisa dipanen pada usia 8-10 bulan namun tanaman jahe tersebut bisa menjadi harapan bagi warga yang tinggal di kawasan transmigrasi tersebut. Untuk harga pasaran Toheri mengungkapkan harga jahe mencapai kisaran Rp8.000,- hingga Rp10.000 perkilogram, sementara tanaman kunyit dan lengkuas bisa mencapai Rp3.000,- hingga Rp5.000,- perkilogram.
Penanaman dengan pola tanam sela tersebut ungkap Toheri dilakukan karena perawatan tanaman jahe tida terlalu rumit. Tanaman jahe yang sudah disipakna sejak bibit hanya perlu mendapat perawatan pemupukan, pembersihan gulma dan juga hama yang hinggap, selebihnya petani bisa berkonsentrasi mengerjakan budidaya tanaman lain.
Toheri mengungkapkan jahe yang dibudidayakan oleh masyarakat di wilayah tersebut rata rata merupakan jahe biasa yang mencapai hektaran. Meskipun saat ini sedang marak pembudidayaan jahe merah, namun petani masih tetap melakukan penananam jahe biasa,
“Permintaan jahe masih cukup tinggi karena diminati konsumen, selain untuk obat minuman jahe menjadi kebutuhan pabrik untuk diolah menjadi jamu,” katanya.
Proses penjualan tanaman jahe milik warga pun terbilang mudah sebab penanaman menggunakan pola seragam dengan petani lain memudahkan pengepul yang akan membeli untuk kebutuhan pabrik bisa menentukan kapan akan dipanen. Bahkan saat musim panen sekitar 10 hingga 15 ton jahe diangkut dari beberapa petani daerah tersebut. Selain itu beberapa ton kunyit.
“Kalau di sini rata rata petani menanam jahe dan biasanya karena menanamnya bareng maka panen juga bareng dan pengepul untuk kebutuhan pabrik akan datang,”ungkap Toheri.

Budidaya tanaman jahe tersebut menurut Toheri telah terbukti membantu perekonomian warga di daerah tersebut. Jenis tanah yang subur untuk budidaya jahe semakin memudahkan petani membudidayakan jahe.

———————————————-
Minggu, 26 April 2015
Jurnalis : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————-

Lihat juga...