Rekreasi Sambil Mengenal Alam di Mangrove Graha Indah Balikpapan

Peneliti Asing di Mangrove Indah
CENDANANEWS (Balikpapan) – Hutan bakau selain memiliki fungsi utama sebagai pelindung garis pantai, ternyata juga menyimpan potensi wisata yang tak kalah menarik. Di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, hutan bakau yang terletak di Kelurahan Graha Indah, disulap menjadi objek wisata alam dan pendidikan. Setiap akhir pekan, ada saja warga yang memanfaatkan hari libur berkeliling kawasan hutan yang lebih dikenal dengan mangrove ini.
Hutan mangrove  seluas 150 hektare yang tak jauh dari Teluk Balikpapan ini telah memikat para pembesar negeri. Tercatat menteri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Marie Elka Pangestu dan Baltazar Kambuaya, mengunjungi kawasan ini. Para peneliti dari Eropa dan Asia juga menjadikan kawasan ini sebagai objek penelitian.   
Taman ini tak hanya memiliki satu jenis mangrove. Menurut Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Soneratia, Agus Bei, sedikitnya ada belasan jenis mangrove. Beragam vegetasi tumbuh di tanah lumpur berair pasang surut. Ada jenis-jenis bakau (Rhizophora), tumbuhan api-api hitam (Avicennia alba) yang buahnya jadi kesukaan para bekantan. Terdapat pohon-pohon nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris), bintaro (Cerbera spp.) dan lain-lain.
Kawasan ini berada sekitar 7 kilometer dari pusat kota Balikpapan. Untuk mencapainya, pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi, atau menyewa. Satu-satunya transportasi umum yang dekat ke lokasi adalah Trans Balikpapan  dari terminal Batu Ampar ke arah Kariangau.
Setelah turun di Perumahan Graha Indah, perjalanan berikutnya ditempuh menggunakan ojek. Setibanya di lokasi, kita bisa menyewa kapal motor berkapasitas 8 orang dengan harga sewa Rp 250 ribu. Motoris akan membawa pengunjung berkeliling mangrove dan menceritakan apa saja tentang kawasan ini.  
Bekantan, Pesut dan Burung Langka
Apa saja yang bisa kita jumpai di Mangrove Graha Indah? Selain mangrove dan habitatnya, ada beberapa satwa endemis yang bisa disaksikan jika Anda berkunjung di jam yang tepat. “Di sekitar kawasan ini kita bisa melihat bekantan, monyet, burung-burung khas Kalimantan. Jika beruntung, mungkin saja akan nampak pesut dan buaya,” kata Agus Bei. 
Pesut adalah lumba-lumba air tawar yang hanya bisa ditemukan di Kalimantan. Ia biasanya terlihat di arus pertemuan antara sungai dan laut. Sulit menemukan hewan langka ini, namun kemunculannya di permukaan seringkali terlihat pada pagi hingga jam 10.
Agus Bei
Sedangkan bekantan yang menjadi ikon tempat wisata legendaris, Dufan, gampang terlihat pada siang hari ketika mengambil biji mangrove sebagai makanan mereka. Buaya di wilayah ini adalah jenis buaya muara. Namun kemunculannya semakin jarang.   
Selama perjalanan menyusuri mangrove, pengunjung bisa beristirahat di bagan sambil memberi makan ikan.  
Sejarah Mangrove Graha Indah
Awal tahun 2000, bencana menerjang warga di Kelurahan Graha Indah Kecamatan Balikpapan Utara. Gelombang pasang menghajar pesisir pantai menyebabkan banjir bak tsunami. Ratusan  rumah warga terendam, aktivitas lumpuh dan tak sedikit yang kehilangan harta benda. Penyebab banjir bandang ini adalah ketiadaan bakau sebagai pemecah ombak.
Sebagai ketua rukun tetangga, Agus Bei kemudian berinisiatif menanam bakau setelah banjir surut. Bersama warganya, sedikit demi sedikit, kawasan yang dulunya hutan bakau kemudian dibabat untuk proyek perumahan, kembali dihidupkan.  Ia berhasil mengajak masyarakat dan kalangan akademisi untuk menanami kembali mangrove di kawasan ini.
Untuk menjaga kawasan ini dari perambahan, masyarakat sekitar mendirikan kelompok masyarakat pengawas bernama Soneratia, yang diambil dari salah satu jenis mangrove. Menurut Agus Bei, dengan semakin banyaknya masyarakat mengunjungi mangrove center, kepedulian terhadap mangrove semakin besar. 
———————————————-
Sabtu, 25 April 2015
Jurnalis : Ferry Cahyanti
Fotografer : Koleksi Agus Bei / Ferry Cahyanti
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————-
Lihat juga...