Para Laskar Pelangi yang Berjuang Melawan Stigma

SMA Negri 1 Kendari
CENDANANEWS – Menjadi orang daerah itu bukan hal yang mudah, selain luput dari perhatian media nasional fasilitas pendidikan masih kalah jauh dibanding orang-orang yang tinggal di daerah pusat informasi dan kekuasaan, selain itu logat bicara orang daerah terkesan “aneh” dibanding logat suku-suku lain yang sudah familiar. Setidaknya itulah pengakuan Dra. Zatiar Ihfa sang komandan Laskar Pelangi SMA Negeri 1 Kendari salah satu sekolah selain SMAN 4 yang menjadi pilot project penerapan Kurikulum 2013 di Kota Kendari.
Dra. Siti Zatiar Ihfa
Namun bukan pelaut tangguh bila berlayar di perairan tenang, sekolah yang telah berusia lebih dari setengah abad ini mampu mengukir prestasi dari tingkat lokal, nasional hingga Internasional. Hal yang menarik dari anak-anak daerah Bumi Konawe ini mereka memiliki prestasi membanggakan dengan menjadi perwakilan propinsi tiap tahunnya dalam perlombaan ilmiah pelajar. Para anak-anak laskar pelangi dibawah gemblengan Dra. Zatiar ini kerap mendorong siswa-siswinya untuk mengangkat kearifan lokal sebagai proyek penelitian, misalnya mengolah sinonggi (makanan khas tolaki) menjadi produk camilan kemasan, pemanfaatan getah rotan (hasil hutan Sulawesi Tenggara) sebagai obat luka, memanfaatkan ekstrak daun sirsak sebagai pembasmi lalat/serangga disamping alat pompa air non elektrik untuk membantu para petani beras mengairi sawahnya (ikuti liputan cendananews selanjutnya).
Siswa SMAN 1 Kendari pada Olimpiade Pelajar Seluruh Indonesia
Masih menurut penjelasan Zatiar Ihfa, kegiatan siswa di bidang seni budaya tak kalah kompetitif, para siswa tiap semesternya diperlombakan pembuatan film dokumenter untuk mengangkat kearifan lokal dan tak main-main juri penilai diambil dari profesional yang bekerja dibidang seni dan teater. Film dokumenter para siswa ini dapat diakses melalui youtube tak perlu diragukan kualitas pengambilan gambar yang disutradarai anak-anak daerah ini.
Sebagaimana keluhan para siswanya menurut pengakuan Zatiar manajemen waktu siswa sangat diperlukan mengingat kegiatan belajar dan ekstra kulikuler yang padat membuat para siswa harus memanfaatkan waktu luangnya. Kurikulum 2013 ini sebenarnya sudah bagus namun harus dibarengi dengan para pendidik yang harus terus meningkatkan kemampuan jadi tidak hanya siswa saja yang harus didorong maju namun juga para gurunya juga sehingga malah tidak ketinggalan dari siswanya sendiri ungkapnya.
——————————————
Kamis, 5 Maret 2015
Jurnalis : Gani Khair
Editor : Sari Puspita Ayu
——————————————
Lihat juga...