
CENDANANEWS – Petani Nilam di Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung terpaksa membongkar tanaman Nilam. Pasalnya, produksi dan kualitas panen Nilam tahun ini mengalami penurunan dari segi kualitas dan kuantitas.
Panen pada tahun ini mengalami penurunan sekitar 25 hingga 30 persen dibanding panen sebelumnya. Hal ini menyebabkan penghasilan petani Nilam merosot tajam dan memilih untuk beralih menanam tanaman lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Dikatakan Nawawi(39 Thn) , warga Desa Way Kalam yang mulai menanam nilam beberapa tahun lalu ini mutu dan banyaknya produksi nilam tak sebagus tahun-tahun sebelumnya. Secara ekonomis memang tanaman nilam ini harganya cukup tinggi dan merupakan komoditas ekspor untuk bahan baku minyak wangi. Sebagai petani dan pemilik pabrik penyulingan nilam saat ini dirinya mulai memanen nilam namun produksi tidak memuaskan sesuai harapannya.
“Kami memiliki luas lahan 0,5 hektare (ha) tahun lalu dari luas tersebut mampu memproduksi nilam sebanyak 10-15 kilo. Sementara pada panen kali ini hanya 6-8 kilo saja,” ungkapnya kepada Cendananews.com Kamis (12/3/2015).
Walaupun nilam masih bisa dipanen pada musim ini, lanjutnya, namun karena kurangnya curah hujan dan musim kemarau tahun ini membuat kualitas penyulingan menurun. Dari 4-5 kuintal tanaman nilam yang disuling hanya menghasilkan1,5 kilogram saja.
“Biasanya bisa mencapai 2,5 kilogram,” imbuhnya.
Dia menuturkan, tanaman Nilam pernah mencapai kejayaanya dengan harga jual hingga Rp 1.200 ribu per kilo. Nawawi membandingkan harga jual sekarang yang hanya mencapai kisaran Rp 350 ribu sampai 550 ribu perkilo.
“Penurunann kualitas ini terjadi karena tanaman Nilam mulai terganggu dengan tanaman yang berkanopi lebar. Sehingga menghalangi sinar matahari secara langsung pada tanaman Nilam. Nilam yang diinginkan berkualitas baik, memang harus bebas dari halangan untuk terkena sinar matahari secara langsung,” imbuhnya.
Akan Lebih baik lagi, sambungnya, jika lahan dibelukarkan jangan ditanami apapun dulu, maka setelah ditanami nilam kembali akan mempunyai kualitas baik karena nilam hampir menyerupai rumput.
Menurutnya, menurunnya produksi bahan baku minyak wangi ini disebabkan cuaca ekstrem pada tahun ini. Musim kemarau membuat batang tanaman mengering dan daun rontok. Padahal sumber bahan baku utamanya adalah daun nilam itu sendiri.

“Ada beberapa petani yang masih mempertahankan tanaman nilam di kebunnya dan dijadikan tanaman sela, tapi justru sebagian besar membongkar tanaman nilam dan beralih ke tanaman palawija seperti jagung dan sayur mayur untuk menyambung hidup tahun ini. Sebab kalau begitu kami tidak bisa makan,” ujarnya.
Para petani hanya mampu berharap musim kemarau berakhir dan berganti musim penghujan, sehingga selain bertanam Nilam mereka bisa menanam tanaman lain untuk menambah penghasilan mereka. Karena perkebunan merupakan penopang utama kehidupan mereka.
———————————————————-
Kamis, 12 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-