CENDANANEWS– Setelah pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium bersubsidi dari Rp 6.600 menjadi Rp 6.800 per liter, yang diberlakukan sejak Minggu (1/3/2015) pukul 00.00 tidak mempengaruhi harga eceran di sejumlah kios di Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan.
Bahkan ditingkat pengecer harga premium tetap normal sebesar Rp8000 per liter. Penjual premium eceran di Desa Hatta Bakauheni, Mukmin (36) mengatakan, sejak harga bbm naik sebesar Rp200 per liter, dirinya enggan menaikkan harga ditingkat pengecer. Sebab, penaikan tersebut tidak mempengaruhi keuntungan yang diperolehnya.
“Saya tetap menjual dengan harga. Setelah ada penaikan dari Pemerintah Pusat sebesar Rp200 per liter, harga premiun masih dijual Rp8000 per liter. Soalnya saya beli sendiri langsung ke SPBU, jadi tidak masalah kalau naiknya cuma segitu,”kata dia kepada Cendananews.com Kamis (5/3/2015).
Berbeda dengan penjual bensin lainnya, Jumali (40) mengatakan, dia membeli bbm jenis premium melalui agen dengan harga Rp7.300 per liter. Dengan adanya kenaikan tersebut, dirinya terpaksa menaikkan harga dari Rp8000 menjadi Rp8500 per liternya.
“Saya bingung kalau tidak menikkan harga bensin. Jika tidak dinaikkan, saya tidak mendapatkan keuntungan. Jadi, setelah penaikkan tersebut, saya menaikkan sebesar Rp500 per liter,” ungkapnya.
Sementara itu, HAmid (29) warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni mengatakan, dirinya kaget saat membeli bensin di salah satu kios di desanya. Sebab, dirinya tidak mengetahui dengan adanya penaikkan harga bbm jenis premium tersebut.
“Saya baru tahu kalau harga bensin naik. Tapi harga solar nggak ikut naik ya? Enggak jadi masalah kalau harga bensin naik. Yang penting semua kebutuhan bahan pokok jangan ikut naik. Sebab, saat BBM turun harga-harga bahan pokok tidak ikut turun. Apa hal ini tidak akan membuat petani kecil semakin terpuruk,” ujarnya.