
Lihat saja saat hari libur panjang anak sekolah, liburan Lebaran Idul Fitri, setiap tahun pasti di sepanjang Jalan Lintas Sumatera hingga Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan, penganan nan lezat yang cara makannya ditemani dengan sambal pedas ini selalu dijajakan oleh penjual. Ratusan penjual kemplang akan berjajar di pinggir Jalinsum untuk menawarkan kepada para pemudik yang akan pulang ke Pulau Jawa dengan harga yang relatif terjangkau di kantong.

Nah, sebetulnya bagaimana proses di balik pembuatan kemplang yang lezat tersebut. Cendananews langsung mendatangi salah satu usaha kecil yang dikelola langsung oleh warga di Desa Klaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Mendatangi lokasi pembuatan kemplang yang terlihat mula mula adalah jemuran terbuat dari bambu yang digunakan untuk menjemur kemplang untuk dikeringkan sebelum dipanggang. Ingat, dipanggang bukan digoreng!
Sambutan dari sang pemilik usaha pembuatan Kemplang Sulistiono dan sang istri Ratna Yunianti sungguh bersahabat. Selain sang pemilik terlihat puluhan ibu ibu yang sedang sibuk memanggang kemplang di atas bara api yang dibakar di anglo. Lainnya sibuk mengukus bahan kemplang, membungkus ke plastik dan Sulistiono pun sambil berbincang dengan Cendananews masih tetap melakukan pekerjaannya membuat adonan yang terbuat dari tepung tapioka.
.jpg)
“Beginilah proses pembuatan kemplang, sederhana dan dikerjakan oleh kaum ibu di lingkungan desa ini yang di waktu luangnya bisa ikut bekerja membuat kemplang, ” ujar Sulistiono Selasa (17/2/2015).
Menurut Sulistiono proses pembuatan kemplang dari mulai berwujud tepung tapioka terbilang cukup mudah. Mula mula bahan yang sudah disiapkan akan diproses yakni daging ikan segar jenis ikan Belida atau ikan Parang dibersihkan, daging ikan digiling, daging ikan yg sudah digiling selanjutnya dicampur dengan air, garam, penyedap rasa dan gula. Selajutnya proses pengadonan / pengulian dengan tepung sagu atau tepung tapioka.

Setelah itu adonan dipress menggunakan alat khusus hingga terbentuk lembaran lalu dicetak berbentuk lingkaran kecil kecil. Stelah dicetak cetakan disusun di atas rak bambu yang disiapkan untuk dikukus, setelah dikukus lalu diangkat lalu dijemur di rak bambu di bawah sinar matahari hingga kering. Setelah kering maka proses pemanggangan dilakukan dengan menggunakan anglo yang dibakar dengan bara api dari arang kayu. Setelah matang maka proses terakhir adalah pengepakan di plastik yang sudah disiapkan lengkap dengan sambal dan diberi label.

“Jika musim menanam jagung biasanya berkurang menjadi hanya 15 orang namun akan semakin banyak jika permintaan kemplang meningkat terutama menjelang liburan,” ujarnya.
Dalam sehari Sulis mengaku menghabiskan sekitar 40-60 kilogram tepung tapioka dan puluhan kilogram ikan serta bahan bahan lainnya. Dalam sehari tahapan demi tahapan dilakukan jika tak terkendala cuaca mendung atau hujan maka bahan yang kering bisa langsung dipanggang hingga proses packing.
“Lumayan mas untuk tambahan sebab jika kami sudah tak sibuk di ladang atau sawah membuat kemplang ini kami mendapat uang tambahan,” ujar Sumiati, salah seorang ibu rumah tangga yang ikut membantu pembuatan kemplang tersebut.
Dalam sekali pembuatan yang menghabiskan sekitar 40-60 kilogram tepung tapioka tersebut Sulistiono mengaku bisa menghasilkan sekitar 18 ball plastik kemplang. Total keseluruhan kemplang dalam 18 ball kantong plastik besar tersebut mencapai 540 bungkus.
Tak sampai disitu, setelah proses pembuatan kemplang selesai maka para agen akan menghubunginya melalui telepon. Agen agen dari wilayah Lampung hingga Banten dan Jakarta bahkan saat Cendananews berada di “pabrik” tradisional tersebut sudah minta dikirim beberapa ball.
Meski termasuk usaha kecil Sulistiono mengaku menekuni usaha tersebut untuk menghidupi kedua anaknya yang duduk di Bangku SMP dan SMA. Selain itu melihat kaum perempuan yang ada di kampungnya yang jik atak sibuk di ladang hanya menganggur maka ia menawarkan untuk ikut membantunya membuat kemplang.
Menggunakan rumah serta areal pekarangan sebagai tempat produksi kemplang yang semua dilakukan secara manual terbukti sudah ditekuni selama lebih dari lima tahun. Usaha kecil tersebut selain memberdayakan kaum perempuan juga menurut Sulis sudah dikenal oleh konsumen karena cita rasa ikan yang dibuat sehingga permintaan tetap stagnan dan cenderung naik.
“Permintaan tak pernah sepi hanya saja karena keterbatasan tenaga, cuaca dan pastinya modal membuat terkadang pasokan agak telat,” ungkapnya.
Meski demikian ia mengaku usaha mikro miliknya pun untungnya mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan juga dari Provinsi Lampung berupa bantuan modal dan peralatan untuk produksi. Sulistiono bahkan enggan disebut usahanya masuk kelas menengah karena ia masih kesulitan modal. Selain melestarikan makanan tradisional yang dikenal sebagai ciri khas di daerah Sumatera Selatan dan Lampung Sulistiono juga telah ikut memberdayakan kaum perempuan di desanya.