Teori kebijakan publik membedakan antara belanja preventif dan kuratif. Gizi anak termasuk belanja preventif dengan biaya relatif lebih rendah dan dampak jangka panjang yang luas. Sementara rumah sakit menangani konsekuensi dari masalah kesehatan yang sudah terjadi.
Menggeser anggaran dari gizi ke rumah sakit berarti menerima biaya sosial lebih tinggi di masa depan. Akibat penyakit kronis, rendahnya produktivitas, dan beban fiskal kesehatan yang terus meningkat.
Lebih jauh, kritik terhadap MBG cenderung berorientasi jangka pendek dan mengabaikan dimensi antar generasi. Pembangunan manusia bukan proyek lima tahunan. Melainkan proyek lintas generasi.
Negara-negara yang kini memiliki produktivitas tinggi dan ketimpangan rendah, seperti Finlandia dan negara Nordik lainnya, memulai investasi besar pada gizi dan kesejahteraan anak. Sejak puluhan tahun sebelum hasilnya terlihat. Secara empiris, investasi gizi anak dikaitkan dengan penurunan ketimpangan pendapatan dan peningkatan kohesi sosial dalam jangka panjang.
Dengan demikian, mempertanyakan MBG karena “hasilnya tidak langsung terlihat” justru menunjukkan bias waktu (present bias). Sering menjadi kelemahan kebijakan populis.
Ini tidak berarti MBG kebal dari kritik. Risiko kebocoran anggaran, kualitas makanan yang buruk, dan beban fiskal yang besar adalah persoalan nyata. Harus diatasi melalui desain kebijakan, tata kelola, dan evaluasi yang ketat.
Namun kritik terhadap implementasi tidak boleh disamakan dengan penolakan terhadap rasionalitas strategis program itu sendiri. Menolak MBG dengan alasan anggarannya bisa dipakai untuk kebijakan lain adalah bentuk kritik semu.