Literatur kesehatan dan ekonomi pembangunan menunjukkan stunting dan malnutrisi kronis menurunkan kemampuan kognitif, konsentrasi, dan produktivitas kerja di masa dewasa. Bank Dunia mencatat anak mengalami stunting dapat kehilangan potensi pendapatan hingga 20 persen saat dewasa.
Kerugian ini tidak dapat dipulihkan dengan beasiswa, subsidi pendidikan tinggi, atau pelatihan kerja di kemudian hari. Argumen “lebih baik gratis kuliah” mengasumsikan bahwa seluruh anak memiliki kapasitas biologis dan kognitif yang sama untuk mencapai pendidikan tinggi. Padahal kapasitas tersebut sangat ditentukan kualitas gizi pada masa kanak-kanak.
Kelemahan berikutnya adalah asumsi implisit beasiswa atau pembebasan biaya kuliah lebih inklusif dibanding MBG. Secara empiris, pendidikan tinggi selalu bersifat selektif. Bahkan ketika biaya kuliah digratiskan. Penerima manfaat utamanya tetap berasal dari kelompok yang telah berhasil melewati seleksi akademik dan sosial pada jenjang pendidikan sebelumnya.
Ini berarti kebijakan tersebut cenderung menguntungkan kelompok menengah- atas. Setidaknya mereka yang sudah relatif lebih siap. Sebaliknya, MBG bersifat universal atau semi-universal pada kelompok usia sekolah. Sehingga berfungsi sebagai instrumen pemerataan kesempatan sejak titik awal.
Dalam kerangka teori keadilan distributif ala John Rawls, kebijakan yang paling adil adalah kebijakan yang paling menguntungkan kelompok paling rentan. Dari sudut pandang ini, MBG memiliki justifikasi normatif lebih kuat dibanding subsidi pendidikan tinggi yang bersifat elitis secara struktural.
Kritik terhadap MBG juga sering kali menggunakan logika pembangunan fisik, seperti pembangunan rumah sakit, sebagai pembanding. Di sini terjadi kekeliruan kategori. Rumah sakit adalah investasi penting dalam sistem Kesehatan. Fungsinya dominan pada aspek kuratif dan pemeliharaan produktivitas. Bukan pembentukan kapasitas manusia.