Kelengkeng Rawan Serangan Kelelawar Jelang Masa Panen

Admin

JAKARTA, Cendana News – Saat ini, makin banyak masyarakat menanam pohon buah kelengkeng di halaman rumah. Dari yang sekadar untuk hobi, penghias halaman rumah, hingga untuk usaha sampingan penambah penghasilan.

Namun tidak semua jenis pohon buah kelengkeng cocok di semua daerah.

Mengutip laman litbangpertanian, Senin (11/4/2022), ada dua jenis kelengkeng di Indonesia. Kelengkeng dataran tinggi dan kelengkeng dataran rendah.

Kelengkeng dataran tinggi adalah jenis yang pertama berkembang di Indonesia. Dan, hanya mampu berproduksi di daerah dataran tinggi seperti Temanggung, Ambarawa dan Tumpang.

Sedangkan kelengkeng dataran rendah berasal dari Thailand dan Vietnam. Dan, mulai berkembang di Indonesia beberapa tahun terakhir ini.

Kelengkeng jenis dataran rendah berkembang sangat baik di daerah dataran rendah, namun juga bisa berproduksi di daerah dataran tinggi.

Tiap varietas, proses pembentukan dan perkembangan buah kelengkeng dari bunga mekar hingga siap panen butuh waktu yang berbeda.

Adapun waktu terpendek pada varietas diamond river dan pingpong yaitu 4,5 bulan. Sedangkan varietas lain sekitar 5-6 bulan.

Semua bagian buah selama proses tersebut mengalami perubahan morfologi dan fisiologi.

Sementara itu buah kelengkeng siap panen mempunyai ciri tekstur kulit buah yang halus. Berwarna coklat, lunak ketika ditekan dan rasanya manis serta dan beraroma.

Pada masa menjelang panan inilah, hama kelelawar seringkali menyerang dengan ganas. Hama kelelawar ini menyerang pada fase penebalan daging buah, yang terjadi satu bulan sebelum panen.

Tanda fase penebalan daging buah kelengkeng adalah warna biji yang sudah coklat dari sebelumnya berwarna putih.

Peneliti Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Buyung Al Fanshuri, menyebut hama kelelawar termasuk hama utama pada tanaman kelengkeng.

“Kalau tidak diantisipasi sebelumnya, buah kelengkeng dalam satu tanaman bisa habis dalam waktu semalam,” kata Buyung.

Menurut Buyung, ada beberapa teknik untuk mengantisipasi hal tersebut.

Antara lain dengan menyamakan masa panen buah kelengkeng dengan panen buah lainnya.

Kemudian pembungkusan buah, pemasangan jaring dan pengalihan aroma.

Dia menjelaskan, pembungkusan buah bisa dengan brongsong plastik berlubang-lubang kecil atau anyaman bambu. Atau dengan kain kasa atau paranet.

“Bisa pula dengan memasang jaring pengaman di sekitar kebun atau di atas tanaman kelengkeng,” kata Buyung.

Sementara untuk pengalihan aroma bisa menggunakan bahan lain yang memiliki aroma lebih tajam. Misalnya, terasi atau ikan asin yang disebar di sekitar tanaman.

“Belerang juga bisa menjadi alternatif, karena kelelawar tidak menyukai bau belerang,” kata Buyung.

Lihat juga...