Pembalasan

CERPEN YUSTINUS YUAN DAN YUDITEHA

Lentera Bumi, pendekar di perguruan Kapak Berduri telah lulus ujian terakhir —mengosongkan seluruh hasrat dalam semadi— bukti bahwa dirinya memang pantas menjadi pimpinan perguruan itu, sekaligus pewaris atas senjata andalannya: Kapak Berduri.

Sementara kau, teman seperguruan Lentera Bumi tak mampu menuntaskan tugas, hingga kau harus merelakan semua itu kepadanya.

Sesungguhnya hal itu bukan kompetisi, melainkan darma perguruan dari anggota. Namun kau menganggap peristiwa itu sebagai pertandingan, dan apa yang kau alami adalah kekalahan, hingga kau merasa sangat kecewa.

Meski begitu kau tak banyak komentar atas capaian Lentera Bumi, bahkan ketika kau mengikuti prosesi penobatannya pun juga dalam diam.

Sementara, bagi Lentera Bumi, keberhasilan itu bukan untuk gagah-gagahan. Dia menganggap apa yang diterima semata berkah Sang Semesta. Prosesi penobatan telah dilakukan yang dihadiri seluruh anggota perguruan dan undangan perwakilan dari perguruan-perguruan lain.

Lentera Bumi sebenarnya hanya rakyat biasa dan ayah dari seorang anak laki-laki bernama Langit Jingga. Sedangkan istrinya telah lama meninggal, tepatnya pada saat melahirkan Langit Jingga.

Pada saat penobatan Lentera Bumi, Langit Jingga yang saat ini baru berusia sepuluh tahun ikut menyaksikan.

Dua hari setelah penobatan itu, Lentera Bumi pergi ke makam, menziarahi istrinya sembari bercerita apa yang terjadi. Hal itu memang biasa Lentera Bumi lakukan selama perjalanan mengasuh Langit Jingga.

Menurutnya, cara itu cukup membuatnya tenang. Ketika dia pulang dari makam, melintasi jalan lengang di perbukitan, kau mencegatnya.

“Seharusnya aku yang mendapatkan Kapak itu,” ucapmu mengagetkan Lentera Bumi.

Lentera Bumi sempat termangu mendengar perkataanmu, sebelum akhirnya berkata bahwa jika bukan karena amanah, Kapak Berduri itu pun boleh kau miliki.

“Cuih!” sahutmu menyangsikan apa yang dia bilang.

“Benar saudaraku, jika bukan amanah, kau boleh memilikinya,” ulang Lentera Bumi.

“Kalau begitu, sini berikan padaku!”

“Arti perkataanku tadi, aku harus menjaganya dari siapa pun, termasuk kau.”

Tanpa banyak bicara lagi, kau langsung menyerang Lentera Bumi. Kau merasa percaya diri bisa mengalahkannya sebab kau masih ingat, ketika kalian mengikuti pelajaran jurus-jurus silat tingkat akhir, kaulah yang lebih dulu menguasainya.

Lentera Bumi yang sesungguhnya belum siap dengan seranganmu kewalahan hingga tanpa susah payah dengan cepat kau merebut Kapak Berduri darinya. Tak ingin mengulur waktu, begitu kapak kau raih, kau ayunkan ke tubuhnya.

Kapak Berduri menancap tepat di dadanya hingga seperti terbelah. Kau pikir usahamu sudah berhasil. Namun setelah itu ada yang membuatmu gusar, karena kapak itu tak bisa kau ambil.

Kapak itu seperti menyatu dengan tubuhnya. Sementara, dari kejauhan kau melihat ada beberapa orang yang akan melintasi tempat itu. Terpaksa kau pergi untuk menghindari masalah.

Setelah kau berlalu, Lentera Bumi yang sebenarnya belum mati berhasil mencabut kapak dari tubuhnya. Pada saat itulah dia mendengar suara yang menyarankan kepadanya, selagi badannya masih terjaga, segera mencari orang untuk menjaga kapak itu.

Orang yang kelak membawanya akan menjadi sakti, dan punya keinginan untuk membunuh siapa pun yang berani mengganggu hidupnya.
***
Cakra Alam, lelaki tua, sesepuh kampung yang tidak jauh dari Perguruan Kapak Berduri membuat geger warganya.

Tiba-tiba dia tak henti histeris, seperti orang yang kehilangan kewarasannya, dengan kondisi pakaiannya penuh bercak darah. Sementara di kampung itu juga ditemukan jasad seorang begal dengan luka dada terbelah.

Dilihat dari bekas luka itu, seperti luka karena Kapak Berduri. Kau yang waktu itu telah didaulat menggantikan Lentera Bumi gegas pergi ke kampung tersebut.

Suara angin terdengar menyisir dedaunan rimbun yang telah dibaluti tipis embun ketika kau melintasi perbukitan sunyi. Ketika kau sampai di kediaman Cakra Alam, dia tak lagi histeris karena tertidur.

Melihat keadaannya kau menduga memang seperti ada yang aneh. Pada saat Cakra Alam terjaga, kau membawanya ke ruang depan, lalu menanyainya. Namun lelaki tua itu tampak bingung, bahkan dia sendiri heran mengapa pakaiannya penuh bercak darah.

Cakra Alam juga tidak merasa melakukan pembunuhan terhadap siapa pun, juga tidak kepada begal itu. Kau memperhatikan sekeliling ruangan, tak kau lihat keberadaan kapak yang kau cari, namun kau merasa ruangan itu dipenuhi bau aneh.

Selama beberapa saat, kau hanya mengamati lelaki itu. Meski Cakra Alam tak mengaku, tapi karena di pakaiannya banyak bercak darah, akhirnya kau tetap memperkarakannya, dan meminta para pengawal untuk membawanya ke perguruan.

Karena kau tak menemukan keberadaan Kapak Berduri di kediaman Cakra Alam, kau tak ikut ke perguruan bersama mereka, tapi pergi melihat jasad begal itu.

Sampai di sana, kau memperhatikan irisan dari belahan daging di dada begal itu terlihat bentuk gerigi yang hal itu membuatmu yakin, luka itu disebabkan Kapak Berduri.

Melihat kenyataan itu akhirnya kau memutuskan bahwa Cakra Alam telah membunuh begal itu, dan menuduhnya menyembunyikan Kapak Berduri.

Cakra Alam tetap merasa tidak melakukan pembunuhan, tapi dia mengakui bahwa kapak itu memang dia sembunyikan tapi dia tidak ingin mengatakan di mana tempatnya. Karena itu kau memutuskan hukum penggal kepala bagi Cakra Alam.

Ketika Kapak Berduri ramai dibicarakan, Langit Jingga pun mendengar, bahkan ketika dia juga tahu bahwa ada orang yang akan dihukum penggal karena dakwaan pembunuhan dengan Kapak Berduri membuatnya penasaran, terlebih perihal Kapak Berduri yang membuat nama ayahnya disebut-sebut dalam perkara itu.

Karenanya Langit Jingga bertekad menemui lelaki tua itu dengan sembunyi-sembunyi pada malam sebelum eksekusi penggal esok paginya.

“Siapa kau, Nak?” Cakra Alam terkejut ketika mendapat kunjungan anak kecil.

“Saya anak Lentera Bumi.”

“Ayahmu orang baik. Mengapa kau menemuiku, Nak?”

Langit Jingga kemudian mengatakan bahwa dia percaya bahwa lelaki tua itu tidak benar-benar melakukan pembunuhan atas kesadarannya, meski begitu Langit Jingga juga yakin bahwa sebab kematian begal itu karena Kapak Berduri kepunyaan ayahnya.

“Mengapa kau begitu yakin?” tanya Cakra Alam.

Langit Jingga menjelaskan bahwa sehari setelah penobatan, ayahnya memperlihatkan Kapak Berduri itu kepadanya sembari menceritakan apa saja yang menyangkut perihal kapak itu.

Termasuk kemampuan kapak itu berkomunikasi dengan tuannya, dan pengaruh yang bisa ditimbulkan jika memiliki kapak itu.

“Kapak itu berada persis di bawah pintu depan rumah saya. Saya pendam di sana.”

Dengan diantar pemuda kampung, Langit Jingga berhasil menemukan Kapak itu. Dia memperhatikan kapak itu masih ada darah yang telah mengering di ujung-ujung geriginya yang terlihat seperti karat, tampak tidak tajam.

Langit Jingga berusaha menyentuh ujung gerigi itu, seketika itu tubuhnya bergetar, dan telapak tangannya menjadi memerah.

Pada saat itu lambat laun Langit Jingga seperti merasakan semacam kecemasan, yang membuatnya seakan tak kuat lama-lama menyentuhnya, tapi Langit Jingga berusaha bertahan, yang setelah beberapa waktu kemudian dia terbayang-bayang kejadian yang melingkupi kapak itu.

Malam itu juga Langit Jingga dengan Kapak Berduri di tangan pulang ke kampungnya. Aroma anyir darah seperti menguar di sepanjang perjalanan, yang mungkin hal itu membuat Langit Jingga seperti tidak dalam kesadarannya.

Malam itu, di pintu gerbang perguruan, salah satu penjaga yang bertugas di sana melihat ada lelaki berbadan besar dan tegap masuk ke dalam bangunan perguruan.

Lelaki itu sedang memegang kapak dengan kemilau darah yang licin terpancar dari ujung gerigi kapaknya, seperti sebuah gambaran ada banyak kegetiran di celah gerigi-gerigi itu.

“Saya melihat orang masuk,” kata penjaga itu kepada yang lainnya

“Hahh! Mengapa tidak kau tahan?” sahut penjaga yang lain, dan ketika mereka bersama-sama memeriksa ke dalam bangunan perguruan, tidak ditemukan siapa pun.

Sementara itu, Langit Jingga telah sampai di rumahnya. Semalaman dia istirahat ditemani kapak itu sembari mengenang ayahnya sampai raganya terlelap. Ketika fajar belum benar-benar datang, Langit Jingga telah bangun, lantas melakukan perjalanan menuju ke Perguruan Kapak Berduri.

Mendaki perbukitan dan menuruni lembah. Kira-kira Langit Jingga telah mendapat setengah perjalanan, dalam bayangannya dia melihat sebuah gubuk kecil di sebuah bukit yang akan dia lintasi.

Perlahan Langit Jingga melangkah mendekat dengan perasaan was-was. Ketika Langit Jingga membuka pintu, dia melihat seorang perempuan bersama anak kecil, tapi mereka seperti tidak menyadari keberadaan dirinya.

Langit Jingga yang terpana dengan apa yang dia saksikan, tiba-tiba terkejut ketika perempuan itu memanggil anak itu, sama dengan namanya.

Langit Jingga tersadar hingga merasa ada yang aneh dan seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi tapi ketika dia melihat kapak yang ada di genggamannya, Langit Jingga seperti lupa dengan apa yang baru dialami.

Pada saat itu gegas dia meneruskan perjalanannya ke Perguruan Kapak Berduri. Tentu saja sudah jelas, dia pergi ke sana ingin mencari siapa. ***

Yustinus Yuan dan Yuditeha, pasangan anak dan ayah yang sama-sama menggemari sastra. Bergiat di Komunitas Kamar Kata, Karanganyar, Jawa Tengah.

Lihat juga...