Selintas lalu rumah itu tampak artistik. Atap joglonya mengesankan klasik. Pintu model kuno berbahan kayu jati tua berlapis pelitur coklat keemasan. Hiasan kaca berwarna hijau lumut pada jendela yang selaras membaur dengan pepohonan rindang yang tumbuh di depan rumah. Lantai keramik coklat lembut juga terkesan kalem nan bersahaja.
Menjelang Magrib, rumah semi permanen itu teramat senyap. Cahaya bohlam sepuluh watt yang dipasang di teras rumah kurang bersinar terang tetapi tidak juga remang. Sinar lampu neon dari dalam rumah yang memantul pada kaca hijau lumut menyumbang terang yang demikian anggun.
Pemilik rumah adalah seorang janda. Suaminya meninggal karena suatu penyakit paru. Sementara dua anaknya yang telah dewasa pergi merantau. Menikah dan menetap di perantauan.
Janda itu tak terlihat kesepian. Meski hidup sendirian di dalam rumah yang bisa dibilang terlampau luas untuk dirinya seorang diri. Baginya, kesendirian bukan berarti hidup kesepian.
Ia tak pernah terlihat murung. Wajahnya selalu berbinar-binar ceria. Ia selalu punya alasan untuk bahagia.
Suatu kali janda itu menemukan seekor kucing hitam. Matanya bening dan terang seperti bola peramal. Janda itu tergoda memeliharanya.
Ia pikir kucing itu bisa menjadi temannya yang setia. Maka kemudian hiduplah janda itu dengan seekor kucing yang ke mana-mana selalu mengikutinya. Kecuali ketika janda itu ke pasar.
Saban wage, ia berangkat ke pasar. Menumpang pikap tetangganya. Ia terkenal sebagai penjual nasi kluban yang enak. Berbagai macam gorengannya pun tidak mengecewakan. Gedang gorengnya manis. Tempe mendoannya renyah. Bakwannya empuk serta gurih.
Sementara pulangnya ia selalu mengojek dengan tukang ojek yang sama. Hingga orang-orang mendesuskan ia punya hubungan khusus dengan tukang ojek yang masih lajang itu.
Seperti sudah kebal dari omongan tetangga, janda itu hanya menanggapi dengan senyuman. Toh, waktu akan menampakkan kebenaran.
***
Aku tengah duduk santai di teras rumah. Kujilat sebelah tangan yang masih menyisakan amis bandeng. Lalu lalang orang yang lewat tak kuhiraukan. Aku asyik dengan kesibukanku hingga suara cempreng obrolan menggugah perhatian.
“Rumah siapa ini, Yu?” tanya wanita berkerudung coklat pada rekannya yang pakai caping. Serta-merta keduanya sejenak mematikan langkah. Dari penampilannya, aku tahu mereka buruh tandur. Sekarang memang sedang musim tanam. Ibu-ibu rumah tangga di pedesaan ini memanfaatkan kesempatan untuk mencari tambahan uang belanja.
“Rumah jandanya Pak Karso,” jawab wanita pakai caping usai sekilas matanya menyapu pandang rumah yang ditunjuk temannya.
“Oh … Pak Karso yang dulu kerja di kecamatan itu?”pertanyaan wanita berkerudung coklat diangguki oleh wanita bercaping.
“Janda Pak Karso belum menikah lagi to, Yu? Padahal dia masih muda dan cantik, pasti banyak yang mau,” imbuh wanita berkerudung coklat.
“Dengar-dengar sudah banyak orang yang datang melamar tapi ia memang memutuskan tak akan menikah lagi,” terang wanita pakai caping melajukan langkah.
“Kenapa? Apa karena anak-anaknya tidak memperbolehkan?” buru wanita berkerudung coklat sembari beranjak menyusul langkah temannya.
“Ia tak mau kehilangan pensiun dari almarhum suaminya. Kalau ia menikah lagi, pensiun yang dia dapat akan dicabut pemerintah,” jelas wanita pakai caping, memelankan suara.
“Kalau aku jadi dia mungkin aku juga begitu. Kecuali yang melamar orang kaya raya, mungkin aku bisa mempertimbangkan.”
“Jangan mengkhayal! Suamimu cuma tani. Tak dapat pensiun.”
Laju kaki dua wanita buruh tandur itu makin menjauh. Suara bincang mereka mulai terdengar sayup-sayup di telingaku.
“Walaupun istri tani, memangnya aku tidak boleh mengkhayal? Kejam sekali dunia ini…” suara wanita berkerudung coklat terdengar merajuk. Selanjutnya bergema suara tawa dari keduanya.
“Nis….?” panggilan majikanku memangkas pengamatanku. Bergegas kupenuhi panggilan majikan yang sudah menunggu di ruang tengah. Aku lewat pintu samping karena pintu depan terkunci.
“Kok makan siangnya tidak dihabiskan, Nis? Sudah kenyang atau tidak doyan?” deretan tanya dari majikanku membuatku merasa bersalah.
Hendak kujelaskan bahwa bandeng yang kumakan sepertinya mengandung formalin. Terlambat. Majikanku sudah berlalu ke dapur dengan membawa wadah makanku.
Aku berlari-lari kecil untuk menyusul. Ingin kubilang bahwa aku akan menghabiskannya nanti sore. Namun majikanku sudah membuang sisa makan siangku ke tong sampah.
Perilaku majikanku itu di luar kebiasaan. Tak pernah sebelumnya, majikanku membuang-buang makanan begitu saja. Biasanya ia akan menyimpannya lebih dulu.
Kukira ia demikian karena sedang kesal. Tadi pagi dompetnya kecopetan di pasar. Padahal di dalam dompet itu ada sisa gaji pensiun suaminya juga uang jerih payah berdagang.
Kutelusuri paras majikanku dengan seksama. Gurat kelelahan bercampur kesedihan begitu kentara. Aku mendekat untuk menghibur seperti biasa. Kugunakan berbagai cara untuk membuatnya tersenyum. Dan lihat hasilnya! Giginya yang rapi dan putih itu sudah mulai tampak.
“Tok, tok! Assalamualaikum?” Ketukan pintu pula salam memutus senda gurau kami.
Ketukan di pintu makin rapat, membuat majikanku cepat menuju ruang depan. Kuekori langkah majikanku.
“Alaikumsalam. Ya, sebentar!”
“Siapa ya?” tanya majikanku sesaat setelah pintu terbuka. Wajah seorang pemuda yang belum kukenal muncul dari balik pintu.
“Saya David, Bu. Anak Bu Maryam yang punya toko emas Sriwijaya,” jawab tamu itu ramah. Senyum tipis terpulas di bibir pinknya. Dapat kutebak, ia tak merokok. Aku suka pria tak merokok. Begitu halnya dengan majikanku.
“Oh iya. Silakan duduk dulu, saya buatkan minum sebentar.”
“Tidak usah repot-repot, Bu!” sela tamu itu cepat tetapi tetap terlambat. Majikanku sudah berlalu menuju dapur. Kali ini aku tak mengekor langkahnya.
Aku memilih duduk menggelosor di sofa panjang. Mengawasi gerak-gerik pemuda di depanku.
“Silakan diminum tehnya,” ujar majikanku ramah.
Tamu muda itu tampaknya terpesona dengan senyum anggun milik majikanku. Kuamati pemuda itu kikuk untuk beberapa jenak.
“Saya datang ke sini disuruh ibu mengantar dompet. Tadi pagi dompet ini tertinggal di dekat meja kasir.”
“Masya allah … Iya ini punya saya. Alhamdulillah … dompet ini tidak hilang. Terima kasih banyak ya Mas eh Dik David.” Majikanku bersuka cita. Binar-binar bahagia terpancar di wajahnya.
“Panggil saya David saja,” pinta tamu muda itu. Lantas pandang mereka bertemu di satu titik. Aku seolah terjungkal dari ruang ini karena keduanya tengah menyatu di zona merah jambu.
***
Majikanku sedang kasmaran, begitu orang-orang menyebut. Aku tak ambil pusing dengan omongan tetangga. Yang penting buatku, majikanku bahagia.
Majikanku tetaplah seorang wanita yang punya hati. Secara kodrati, ia masihlah ingin diperhatikan, disayangi, dikasihi. Statusnya sebagai janda tak berhak merintangi cinta yang berhasrat tumbuh.
Omongan tetangga ternyata memang lebih tajam dari pisau sembelih. Ini bukan soal kekebalan diri dari serangan luar melainkan penyakit minder yang tumbuh dalam diri sendiri.
Majikanku terpaksa memenggal kisah asmara yang sedang subur-suburnya. Majikanku merasa tak cukup layak memadu kasih dengan David.
“Kamu masih muda, David. Harapanmu banyak. Masa depanmu masih panjang,” ungkap majikanku parau.
“Berapa kali lagi harus kutegaskan? Masa depanku adalah kamu.”
“David … tahun depan umurku empat puluh lima. Lalu tahun-tahun berikutnya aku akan semakin bertambah tua dan tua. Pikirkan itu!”
“Aku tak peduli kamu menua menjadi nenek-nenek yang jelek, keriput dan sakit-sakitan. Aku mencintaimu tanpa syarat,” lembut suara David seolah lagu nina bobok.
Berikutnya yang kulihat bukanlah seperti kenyataan tetapi ini lebih mirip film romantis. Katup mata majikanku terpejam kala meresapi hangat bibir David.
“Tidak David! Tidak! Aku tak bisa lagi melanjutkan ini!” seru majikanku seraya melepaskan pelukan David dengan buru-buru. Majikanku mundur beberapa langkah.
“Sekarang pulanglah! Jangan sekali-kali menyambangi rumah ini lagi. Aku tahu Bu Maryam tak suka kamu main ke mari. Ayahmu juga melarang bukan?”
“Orang tuaku memang belum setuju dengan hubungan kita, tetapi aku akan terus memberinya pengertian.”
David menghampiri wanitanya. Sebuah peluk dan kecup hampir saja mendarat lagi. Gesit majikanku menghindar.
David yang muda dan perkasa tak ubahnya pegulat ulung. Tak selang lama sejak sasarannya terlepas, kini ia bisa meringkusnya kembali.
“Cukup David! Cukup! Kita tidak mungkin bersama!” Majikanku meronta-ronta kala lengan kokoh David berhasil mengapit tubuhnya.
“Beginikah balasanmu atas cinta suciku? Benarkah apa yang dikatakan orang-orang di luar itu bahwa kamu tidak akan melepas gaji pensiunan almarhum suamimu?” kecam David tajam. Gurat wajah David mengeras. Giginya gemeletuk menahan geram.
“Ya, benar,” tukas majikanku sembari menyikut keras dada David. Refleks pelukan kuat David terlepas. Majikanku menggunakan kesempatan itu untuk menjauh.
“Aku memang tak rela kehilangan gaji pensiunan suamiku. Aku lebih memilih hidup nyaman dan tenteram sebagai janda ketimbang hidup tak tentu denganmu,” tandas majikanku, runcing. Aku tahu majikanku berbohong. Apa yang diucapkannya tak sesuai dengan hati nuraninya.
“Oh, jadi begitu?” sergah David emosi. Wajahnya yang bening berkilat kemerahan.
Peristiwa selanjutnya melintas cepat bagai tipuan seorang pesulap. Tak-tak-tak. Aku seolah terjebak. Aku yang sedari tadi duduk tenang mengamati pertengkaran sepasang kekasih yang bagiku hal biasa dibuat terpana seketika. Aku bagai penonton pertunjukan sulap yang telah terperdaya.
Di depanku mendadak saja terhampar dua manusia yang tengah meregang nyawa usai sebuah belati kecil menembus dua jantung secara bergantian. Amat tak kusangka David melakukan hal serupa ini.
Darah meluber menutupi kemilau keramik. Aku meraung-raung. Aku berlari kebingungan. Mendadak aku lupa dimana letak pintu rumah.
Aku menangis dengan suara yang menyayat-nyayat. Berharap orang-orang segera datang menolong majikanku dan kekasihnya.
“Dasar kucing gila! Malam-malam begini berisik!”rentetan caci maki itu lamat-lamat menyelusup celah-celah rumah janda yang setahun lebih menjadi majikanku. ***
Catatan:
Kluban: urap, sayuran yang dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu.
Yu: dari kata Mbakyu, sebutan untuk perempuan yang lebih dewasa.
Tandur: menanam padi dengan berjalan mundur.
Endang S. Sulistiya, menetap di Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah. Alumnus FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. Menulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Beberapa kali tulisannya, baik cerpen, cernak dan artikel mendapatkan kesempatan dimuat media lokal dan nasional. Tergabung dalam grup kepenulisan Diskusi Sahabat Inspirasi.