Kreativitas Pelaku Wirausaha, Kunci Usaha Kecil Tetap Untung

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Mengikuti perkembangan zaman jadi kunci pelaku wirausaha untuk memperoleh untung. Tren kekinian berbagai kuliner dibuat oleh Lestari di Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.

Ia menyebut, camilan kekinian dibuat dari sosis, mozarella hingga kentang. Sebelumnya ia sempat menjual makanan ringan berupa bakso ikan, peluang kuliner kekinian dipilih memperhitungkan pasar.

Kreativitas sebutnya diperlukan bagi pelaku usaha dengan modal terbatas. Meski sejumlah usaha kuliner dilakukan dengan sistem waralaba ia memilih memakai modal sendiri.

Memanfaatkan media sosial tutorial pembuatan makanan ia aplikasikan dalam produk kuliner. Ia menyebut peluang usaha mengandalkan kreativitas dilakukan dengan cara amati, tiru, modifikasi.

Selain kreativitas, Lestari bilang usaha kuliner kekinian mengandalkan tampilan fisik. Lapak atau booth usaha sebutnya dibuat lebih artistik, menarik untuk menarik konsumen.

Rela meninggalkan usaha kuliner dengan usaha jenis baru menurutnya bisa menjadi cara tetap mendapatkan keuntungan. Lokasi yang mudah dilihat, memiliki tempat nyaman jadi salah satu kunci untuk mendapatkan konsumen.

“Saat ini banyak bermunculan usaha sistem waralaba atau dikenal franchise kerap jadi pilihan karena ada peluang bisa menghasilkan keuntungan meski terbatas, namun tetap berkelanjutan,” terang Lestari saat ditemui Cendana News, Selasa (19/10/2021).

Lestari menyebut usaha kecil berbasis kuliner kerap mengikuti tren zaman. Berbagai produk kuliner berupa makanan, minuman kerap selalu berkembang. Sejumlah minuman yang sempat hits atau dikenal luas mulai redup sebagai sebuah usaha.

Peluang baru usaha kekinian sebutnya tetap bisa menghasilkan peluang jika dijalankan dengan benar. Memanfaatkan tempat usaha berpindah jadi pilihan menyiasati biaya sewa tempat.

Pelaku usaha berbasis kuliner, Slamet, di Tanjung Karang menyebut memilih membuat sate jamur tiram. Kreasi membuat kuliner berbahan jamur tiram sebutnya jadi peluang.

Kreasi olahan jamur jadi sate disediakan oleh Slamet di Tanjung Karang, Bandar Lampung, Selasa (19/10/2021) – Foto: Henk Widi

Tanpa menggunakan bahan daging ayam, daging kambing ia tetap bisa menyajikan sate. Kreativitas yang unik sebutnya tetap bisa memberikan penghasilan baginya ratusan ribu per hari.

“Usaha berbasis kuliner tetap bertahan karena setiap orang memiliki selera dan harga terjangkau,” ulasnya.

Varian olahan kuliner berbahan jamur tiram sebut Slamet masih jadi pilihan. Ia mengaku memiliki pangsa pasar konsumen yang ingin menikmati sate.

Bumbu terbuat dari kacang menurutnya memiliki rasa yang sama dengan sate ayam, kambing. Menjual per porsi sate jamur tiram dengan lontong daun pisang seharga Rp10.000 membuatnya bisa mendapat omzet ratusan ribu per hari.

Kreasi menciptakan produk turunan dari tebu dilakukan Suryanti di Kelurahan Sumber Agung, Kemiling. Ia menyebut hasil pertanian bisa dijual dalam bentuk batang tebu. Namun ia bisa menjualnya dengan bentuk minuman es tebu dengan keuntungan berlipat.

Bermodalkan alat pemeras elektrik, es dan gelas ia bisa menjual minuman es tebu. Minuman es tebu segar diminati berbagai kalangan terutama saat cuaca panas.

“Minuman es tebu bahan bakunya diperoleh dari cara menanam sehingga bisa menghemat bahan baku,” ulasnya.

Kreativitas dilakukan Wandi Wijaya di Segala Mider, Tanjung Karang Barat dengan membuat tahu gejrot, cilung. Kedua jenis makanan tradisional tersebut dijual dengan menyesuaikan pangsa pasar anak anak dan remaja.

Penggunaan gelas porsi terjangkau membuat ia bisa menjual produk kuliner tersebut dengan omzet ratusan ribu per hari.

Hal yang sama dilakukan Sutanto, pedagang buah durian dan beragam buah segar. Hindari buah tidak terjual, ia membuat tempoyak berupa daging buah durian yang difermentasi. Buah durian yang difermentasi sebutnya menjadi produk baru yang bisa dijual.

Per kemasan tempoyak sebutnya dijual seharga Rp10.000. Mengolah tempoyak menjadi cara agar produk durian tetap bisa terjual.

Lihat juga...