Ranti dan Cepokak, Tanaman Jenis Terung yang Mudah Dibudidayakan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Ranti dan cepokak, jenis terung-terungan yang cukup banyak peminat ternyata cukup mudah dalam pembudidayaan. Pengembangannya dapat dilakukan dengan sistem tumpang sari dan hidup dalam jangka waktu cukup lama. 

Sumarni, petani di Kelurahan Sukarame II, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung menyebut budidaya dapat dilakukan dengan sistem generatif. Buah ranti yang telah tua ditandai dengan warna ungu kehitaman menyerupai tinta dipilih sebagai bibit dengan proses penyemaian. Buah ranti yang matang akan dipecahkan lalu biji dikeringkan. Hal yang sama juga berlaku ada buah cepokak tua berwarna hijau tua bijinya bisa dikeringkan lalu disemai.

“Tanaman ranti dan cepokak saya budidayakan sebagai tanaman sela pada tanaman utama berupa buncis, kacang tunggak untuk pagar sekaligus menghasilkan buah yang bisa dipanen setelah usia tiga bulan, selanjutnya bisa dipanen setia hari hingga batang tanaman mati mencapai usia enam bulan,” terang Sumarni saat ditemui Cendana News, Senin sore (16/8/2021).

Ranti oleh petani setempat kerap dikenal dengan leunca dengan nama ilmiah solanum nigrum. Sementara jenis cepokak atau tekokak bernama ilmiah Solanum torvum kerap dikenal rimbang. Sepintas dua jenis tanaman menyerupai terung kerap digunakan sebagai lalapan dan campuran sayur.

Proses perawatan juga cukup mudah, setelah penyemaian, bibit tanaman dipindahkan pada bedengan yang telah diberi media tanam subur. Ia memanfaatkan perpaduan pupuk kandang, kompos agar tanaman lebih subur.

“Kedua jenis sayuran ranti dan cepokak masih banyak diminati sehingga saya budidayakan sebagai sumber penghasilan,” ulasnya.

Sumarni menyebut agar lebih tahan lama, panen ranti dan cepokak harus disertakan bagian tangkai, daun. Pemanenan memakai gunting, pisau dilakukan agar buah tetap awet sebelum disajikan. Ia menyebut menjualnya dalam kemasan dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000.

Anak Sumarni, Rianawati menyebutkan, budidaya ranti masih dilakukan petani untuk lalapan. Sebagian petani menjadikan tanaman ranti untuk memagari tanaman utama. Jenis tanaman utama yang kerap dibudidayakan berupa kemangi, kacang tanah, buncis dan kacang tunggak. Setelah berbuah, ranti dan cepokak dipilih yang masih muda atau belum terlalu tua.

“Buah ranti dan cepokak yang dipesan pedagang kuliner harus selalu segar sehingga pemetikan menyertakan tangkai,” ulasnya.

Aminah, memanen ranti atau leunca untuk bahan lalapan, sebagian dipesan pemilik usaha warung makan pecel lele di Kelurahan Sukarame II, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, Senin sore (16/8/2021). Foto: Henk Widi

Sepintas budidaya ranti, cepokak sebut Rianawati kurang menguntungkan. Namun ia memastikan masih bisa mendapat hasil ratusan ribu. Semakin terbatasnya petani yang menanam kedua komoditas tersebut membuat ia bisa mendapat keuntungan

Membantu orangtua dilakukan Aminah dengan merawat, memanen ranti, cepokan dan beragam sayuran. Putri bungsu Sumarni itu menyebut membantu panen setiap sore. Proses pemanenan pada sore hari dilakukan agar buah ranti, cepokak selalu segar. Usai panen ia bertugas mengantarkan pesanan kepada sejumlah pelanggan pemilik usaha pecel lele sebagai lalapan dan campuran sayur asam.

Lihat juga...