Cuaca ekstrem, nelayan Bandar Lampung istirahat melaut

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG, Cendana News – Cuaca ekstrem di sejumlah perairan Indonesia, termasuk Lampung berimbas pada aktivitas nelayan. Sejumlah nelayan di Teluk Lampung, Bandar Lampung memilih istirahat,  memperhitungkan faktor keselamatan.

Hasanudin, nelayan di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur menyebut cuaca perairan didominasi angin kencang, gelombang tinggi. Sejumlah nelayan bagan apung, bagan congkel, nelayan payang memilih sementara istirahat melaut.

Hasanudin memilih menepikan kapal bagan congkel di muara sungai Way Balau yang terlindung dari angin kencang. Keberadaan vegetasi mangrove jenis api api membantu nelayan menyandarkan perahu di lokasi aman.

“Sebagian nelayan memilih menyandarkan kapal bagan congkel di lokasi yang aman dan diberi jarak aman dengan kapal lain agar tidak berbenturan. Sebagian bagan apung diperkuat dengan jangkar pemberat agar tidak terseret arus,” terang Hasanudin saat ditemui Cendana News, Kamis (29/12/2022).

Cuaca ekstrem dimanfaatkan oleh nelayan untuk memperbaiki alat tangkap. Hasanudin memilih memeriksa kondisi mesin kapal, lampu penerangan, membersihkan keranjang ikan dan melakukan pengecatan pada bagian lambung kapal bagan congkel.

Nelayan lain, Firman memilih mengumpulkan bambu untuk bahan perbaikan bagan apung. Bambu ditarik dari jalur laut untuk digunakan sebagai pengganti tiang konstruksi bagan apung.

“Angin kencang disertai gelombang berimbas konstruksi rumah bagan rusak, sekarang sedang proses penggantian,”ulasnya.

Isi waktu istirahat melaut, sejumlah nelayan melakukan perbaikan pada bagian drum pelampung bagan. Sopian, warga Kota Karang menyebut bagan apung yang ditepikan akan diganti dengan drum baru sebagai pelampung.

“Waktu istirahat sekaligus akhir tahun digunakan nelayan untuk perbaikan sarana tangkap,” ujarnya.

Sopian bilang imbas cuaca ekstrem nelayan dengan ukuran kapal kecil memilih menyandarkan perahu. Ia mengaku selain ikan susah diperoleh, faktor keselamatan jadi alasan tidak melaut.

Sopian bilang mendapat imbauan dari pemerintah setempat dan otoritas maritim sementara memperhatikan faktor cuaca. Ia mengaku saat ini ia dan sejumlah nelayan bisa mengakses kondisi prakiraan cuaca perairan melalui website resmi badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) wilayah pelayanan Panjang.

Sopian menyebutkan, berdasarkan informasi dari BMKG, peringatan dini diberlakukan sejak 29 Desember hingga 30 Desember 2022. Tinggi gelombang sesuai prakiraan dapat mencapai 1.25-2.5 meter di wilayah perairan Teluk Lampung bagian Utara. Tinggi gelombang dapat mencapai 2.5-4.0 meter di wilayah perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian Barat dan Perairan Samudera Hindia Barat Lampung.

“Kecepatan angin bisa mencapai 4 hingga 25 knots dan berdampak bagi nelayan yang melaut,”ungkapnya.

Lihat juga...