Produksi Tanaman Pangan di Sikka Meningkat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Bupati Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) Fransiskus Roberto Diogo menyebutkan, di bidang pertanian, pencapaian produksi tanaman pangan pada 2020 sebesar 118.012,7 ton.

Bupati Sikka, NTT, Fransiskus Roberto Diogo saat konferensi pers di Kantor Bupati Sikka, Jalan El Tari, Kota Maumere, Senin (16/8/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Selain itu, produksi di bidang tanaman perkebunan mengalami peningkatan sebesar 29.163 ton dari luas lahan sebesar 70.541,91 hektar,” tambahnya dalam pidato memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-76 di Kantor Bupati Sikka, Jalan El Tari, Kota Maumere, Senin (16/8/2021).

Pada sektor perkebunan pemerintah melaksanakan upaya peningkatan produksi dan produktivitas serta mutu hasil komoditas perkebunan strategis yaitu kakao, kelapa, jambu mente, cengkeh, pala dan vanili.

“Kita melakukan melalui kegiatan intensifikasi, perluasan areal, peremajaan dan pengendalian organism pengganggu tumbuhan,” sebutnya.

Untuk meningkatkan produksi pertanian, pemerintah juga telah menyiapkan sarana dan prasarana pertanian dan penyediaan sumber-sumber air untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pertanian.

Disebutkan juga, pada Sektor Tanaman Hortikultura, pengembangan aneka sayur sebagai alternatif komoditas baru, saat ini menunjukkan trend peningkatan yang menggembirakan.

“ Pemberdayaan petani melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL) budidaya aneka sayur seperti tomat, cabai, bawang merah, bawang putih, kentang, wortel dan aneka sayur lainnya,” terangnya.

Ia berharap dengan keberadaan Bendungan Napun Gete kedepannya akan memberikan kontribusi yang nyata dalam peningkatan produksi di bidang pertanian.

NTT pada umumnya sektor pertanian menjadi sektor dominan dengan 4 sub sektor seperti pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang menjadi mata pencaharian warganya.

“Di masa pandemi Corona ini hanya petani yang bisa bertahan. Pemerintah mengajak kaum milenial untuk bertani seperti melalui mitra Yayasan Bina Tani Sejahtera dan Badan Usaha Milik Desa),” ungkapnya.

Wilayah Pulau Flores kata Robi mayoritas lahan pertaniannya berada lebih dari 300 meter di atas permukaan laut dan memiliki keunggulan banyaknya gunung berapi yang menyediakan pupuk alami.

Dia tegaskan, pertanian di Flores harus maju dan Kabupaten Sikka akan menjadi pusat perindustrian dan pengolahan hasil komoditi pertanian dari berbagai wilayah di Pulau Flores.

“Kita telah menggandeng Kementerian Desa, Transmigrasi dan PDT untuk membangun pabrik sentra proses pengolahan vanili untuk pasar ekspor,” terangnya.

Sementara itu, petani milenial di Kecamatan Nita, Erik Paji mengadukan terkait harga komoditi hortikultura di Kabupaten Sikka yang sangat terpengaruh oleh masuknya komoditi dari luar Flores.

Erik menjelaskan, ketika stok hortikultura di Pasar Alok menumpuk maka otomatis harga jual akan menurun sehingga para petani lokal pasti mengalami kerugian.

Dirinya menyarankan agar pemerintah mendata berapa luas lahan hortikultura, berapa petani yang bergelut di hortikultura serta mengatur penanaman komoditi tersebut.

“Sering sekali ketika produk dari Sulawesi maupun NTB masuk ke pasar dalam jumlah banyak, otomatis harga jual akan menurun. Petani lokal mengalami penurunan pendapatan akibat jatuhnya harga,” ucapnya.

Lihat juga...