Hama Busuk Sebabkan Produksi Kakao di Lamsel, Turun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Perubahan cuaca dari musim hujan ke musim panas berimbas pada munculnya organisme pengganggu tanaman (OPT) pada buah kakao yang menyebabkan busuk buah.

Lukman, petani kakao di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyebut penyakit busuk buah kakao (BBK) menyebabkan penurunan produksi hingga 50 persen.

Menurut Lukman, hama busuk buah kakao ditandai dengan munculnya bercak putih pada buah. Setelah terinfeksi, bercak putih berubah menjadi warna cokelat, kemudian berubah menjadi kehitaman.

“Semua buah yang berwarna kehitaman dalam kondisi muda akan membusuk. Sementara pada buah muda, bagian biji tidak bisa dipanen,” kata Lukman, saat ditemui Cendana News, Senin (2/8/2021).

Lukman menjelaskan, penyakit busuk buah kakao atau Phytopora palmivora disebabkan oleh jamur. Buah akan diserang saat masih muda hingga menjelang masak. Serangan dimulai dari bagian ujung hingga tangkai buah, sehingga pengendalian hama terpadu harus dilakukan. Sebab jaringan luar yang diserang tanpa penanganan, akan menyerang hingga bagian dalam.

Petani kakao, Lukman, melakukan pembersihan lahan kakao untuk meminimalisir hama busuk buah di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (2/8/2021). -Foto: Henk Widi

“Solusi bagi petani dengan rutin melakukan pemangkasan pada tanaman penaung, agar matahari bisa menjangkau buah, sebab spora jamur akan meningkat saat musim penghujan dan menyebar ke bagian tanaman lain, tiupan angin serta binatang jenis tupai yang kerap memakan buah kakao,” terang Lukman.

Sebagai tindakan pengurangan hama, Lukman menggunakan fungisida. Penyemprotan zat kimia pemusnah jamur bisa dilakukan saat buah kakao muda. Cara itu bertujuan memusnahkan dan mengurangi populasi hama busuk buah.

Cara lain yang digunakan dengan pemeriksaan lapangan setiap pohon. Buah yang telah membusuk harus segera dipetik, dibuang dengan cara dibakar, dan memendam dalam tanah.

Cara tradisional, menurut Lukman dilakukan dengan pengendalian gulma. Sebab, lahan tanaman kakao kerap ditumbuhi rumput liar. Imbasnya, sirkulasi udara dan asupan sinar matahari menjadi kurang dan berimbas kelembapan pada area lahan kakao.

Ia juga melalukan teknik khusus menghindari gulma, dengan penggunaan mulsa plastik di area perakaran kakao. Cara itu bertujuan agar gulma bisa diminimalisir dan panen tetap produktif.

“Bagi petani kakao, hama buah tidak bisa dihindarkan, namun bisa diminimalisir agar tetap bisa menghasilkan,” bebernya.

Petani kakao di desa yang sama dan masih tetap bisa panen, Suryati, mengaku produksi anjlok hingga 40 persen. Ia mengaku teknik sortir dilakukan olehnya saat panen dimulai dengan kulit buah berwarna kuning.

Ia juga mengaku tidak memanen hingga kulit seluruhnya. Cara itu efektif, agar tetap bisa mendapat hasil sekitar 5 kilogram per pohon. Tanpa hama, ia bisa memanen hingga 10 kilogram per pohon.

“Harus telaten, karena perubahan cuaca berdampak pada penurunan produksi, minimal masih bisa mendapatkan hasil panen,” ulasnya.

Selain penyakit, saat perubahan cuaca para petani kakao juga kesulitan menjemur. Proses pengeringan manual dilakukan dengan menjemur memakai terpal. Ia harus kerap mengangkat biji kakao agar tidak terkena hujan. Proses fermentasi dilakukan, agar kualitas buah kakao lebih baik. Harga biji kakao kering pada level petani maksimal Rp20.000 per kilogram ke pengepul.

Sadiman, petani kakao di Desa Gayam, Kecamatan Penengahan, juga menyebut pengendalian hama busuk buah rutin dilakukan. Pengendalian terpadu akan menghasilkan panen yang masih bisa menguntungkan petani.

Langkah yang dilakukan dengan mengganti tanaman lama dengan bibit baru dari varietas unggul. Pengamatan hama dilakukan secara kontinu, sembari panen parsial.

“Saat panen kakao sekaligus mengamati hama, membuang penyakit yang menyerang dengan menyemprot memakai bahan kimia,” ulasnya.

Pengambilan buah sakit, sebut Sadiman, mutlak dilakukan. Meski demikian, buah sakit tidak langsung dimusnahkan, proses sortir masih bisa dilakukan. Pemeraman atau fermentasi dilakukan memakai zat kapur, agar buah tetap bisa dimanfaatkan.

“Pembersihan kebun rutin dilakukan menghindari jamur dan memakai bahan organik untuk pupuk. Normalnya, dari satu hektare mendapat 2 ton, namun kini hanya panen 1,2 ton,” pungkasnya.

Lihat juga...