Budidaya Melon Alina Peluang Menguntungkan Petani di Penengahan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sistem penanaman bergilir memanfaatkan lahan dilakukan oleh petani untuk mendapatkan keuntungan. Pemanfaatan lahan untuk budidaya tanaman semusim dilakukan Suyatin, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan yang menanam melon alina.

Jenis melon alina sebutnya dilakukan dengan sistem guludan, mulsa plastik dan ajir bambu. Budidaya melon alina ditekuni Suyatin sejak belasan tahun silam bersama komoditas lain.

Memaksimalkan keuntungan dalam setahun ia melakukan pergiliran tanaman dari melon ke tanaman cabai merah besar. Budidaya melon yang memiliki sifat menjalar sebutnya dilakukan dengan jumlah tanaman sekitar 8.000 tanaman. Budidaya dilakukan dengan berbagai tahap hingga panen.

Masa budidaya melon dari pemindahan bibit ke lubang mulsa hingga panen sebut Suyatin mencapai 55-60 hari. Proses perawatan dilakukan dengan pemberian pupuk, penyiangan gulma, pengamatan hama, pengikatan dan penyortiran. Bibit melon alina sebutnya bisa dipindah ke media tanam yang telah diberi mulsa plastik. Mulsa plastik dalam sejumlah bedengan sebutnya memakai bahan tanah gembur, subur untuk ruang tumbuh tanaman.

“Jenis melon alina memiliki ketahanan atau toleransi terhadap kondisi kekurangan air sehingga cocok ditanam pada musim tanam ketiga dengan sistem penyiraman kocor memakai selang, masa tanam hingga panen mencapai dua bulan lebih dilakukan selama dua tahap,” terang Suyatin saat ditemui Cendana News, Senin (16/8/2021).

Sebagai varietas melon hibrida yang cocok ditanam pada dataran rendah, Suyatin bilang jenis tersebut disukai konsumen. Budidaya melon sebutnya dilakukan dengan perawatan insentif  dengan merambatkan sulur pada lanjaran. Saat tanaman mulai berbuah, proses perimpilan daun dilakukan untuk merangsang pertumbuhan buah. Rata rata satu tanaman disisakan sebanyak dua buah agar bobot maksimal.

Pilihan pada varietas melon alina sebut Suyatin karena memiliki daging buah tebal, tekstur lembut, rasa manis. Saat usia 60 hari ia menyebut sebagian buah melon sudah bisa dipanen. Sistem pengendalian hama, penyakit pada tanaman melon dilakukan secara manual. Ia mengaku memakai tekhnik ramah lingkungan sehingga buah aman, layak dikonsumsi. Perawatan dilakukan oleh lima pekerja sejak masa tanam hingga panen.

“Saat panen tahap pertama dilakukan pagi hari memakai pisau dengan ciri net pada kulit berbentuk sempurna, kulit berwarna hijau kekuningan, aroma kuat dan buah lunak,” ulasnya.

Pada proses pemanenan tahap awal Suyatin bilang mendapat hasil panen sekitar 8 ton. Melon hasil panen langsung ditimbang selanjutnya dikirim memakai truk ke Banten dan Bandar Lampung. Jenis melon alina sebutnya di level petani dijual seharga Rp7.000 sehingga ia masih bisa mendapat hasil Rp56juta. Tahap kedua pada melon hasil panen mencapai 2 ton dengan omzet Rp14juta. Total hasil panen beromzet sekitar Rp70juta.

Hasil penjualan buah melon ke pengepul sebutnya digunakan untuk menutupi biaya operasional. Ia menyebut biaya operasional terbesar sebutnya berasal dari pembelian bibit, mulsa plastik, sewa lahan, upah pekerja, perawatan hingga upah muat dan distribusi. Meski biaya operasional tinggi, budidaya melon alina masih memberi keuntungan bagi petani. Strategi agar mendapat untung dilakukan dengan bergilir menanam cabai merah.

“Setelah menanam melon alina, mulsa plastik bisa digunakan untuk budidaya cabai merah dan tomat,” ulasnya.

Budidaya buah melon sebutnya lebih cepat dipanen daripada padi sehingga Suyatin memilih buah segar tersebut. Keberadaan lahan yang dekat dengan sumber aliran sungai kecil membuat ia bisa melakukan pengaturan irigasi memakai selang plastik. Budidaya melon sebutnya juga memberdayakan petani lain yang merupakan binaannya. Petani binaan akan menjual melon saat ada permintaan memudahkan distribusi.

Memiliki petani binaan di wilayah Palas membuat ia bisa memenuhi kuota permintaan. Kuota permintaan buah melon sebutnya bisa mencapai sepuluh ton sekali pengiriman. Saat kuota tidak terpenuhi dari hasil kebunnya, ia bisa membeli melon dari petani binaannya. Strategi petani berkelompok memudahkan distribusi, kepastian pembelian dan memudahkan tukar pengalaman.

“Tantangan bagi petani melon tentunya beragam, namun dengan sistem budidaya yang benar masih mendapat keuntungan,” bebernya.

Budidaya melon juga menjadi lapangan pekerjaan bagi Damin, salah satu warga setempat. Saat panen ia bisa mendapatkan pekerjaan proses pemanenan hingga bongkar muat. Upah diperolehnya saat membantu proses penimbangan dan memuat ke atas truk. Selain bagi pekerja bongkar muat, sebagian warga bisa membantu Suyatin bekerja merawat tanaman. Usaha pertanian sebutnya menjadi lapangan pekerjaan saat pandemi.

Lihat juga...