Berkah Corona, Warga Malang ini Sukses di Produksi Kuning Telur Asin
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
MALANG — Pada kondisi pandemi seperti sekarang, para pelaku UMKM memang dituntut berpikir kreatif agar usahanya bisa tetap bertahan. Hal ini pula yang dilakukan Sugeng Suryanto, pelaku usaha telur asin yang berinovasi dengan membuat produk turunan berupa Kuning Telur untuk dijual.
Diceritakan Sugeng, di awal pandemi, usaha telur asinnya sempat mandek, lantaran konsumen banyak yang membatalkan pesanan. Bukan hanya itu, pasar yang selama ini menerima pasokan banyak yang terpaksa tutup. Kondisi ini membuat Sugeng bersama keluarganya harus berpikir keras bagaimana caranya agar telur asin yang jumlahnya ribuan butir tersebut bisa tetap terjual.
Dari situ akhirnya Sugeng berinisiatif untuk memecahkan semua telur bebek yang telah diasinkan tersebut dan hanya mengambil bagian kuning telurnya saja, untuk disimpan dalam freezer.
“Jadi semua telur asin yang jumlahnya ribuan itu saya pecah dan ambil bagian kuning telurnya untuk disimpan,” akunya saat ditemui Cendana News di rumahnya yang berlokasi di Gang 21 C, kelurahan Gadang, kecamatan Sukun, kota Malang.
Di luar dugaan, ternyata kuning telur asin buatannya justru banyak diminati oleh beberapa resto dan tempat makan. Sejak itu Sugeng kemudian menjadikan kuning telur asin sebagai salah satu produk yang ia jual selain telur asin.
Dijelaskan Sugeng, untuk membuat kuning telur asin prosesnya sama dengan membuat telur asin. Namun yang membedakan ada pada lama waktu proses pengasinannya.
“Kalau membuat telur asin, proses pengasinannya hanya 2-3 minggu saja. Tapi kalau untuk mendapatkan kuning telur asin yang bagus, proses pengasinannya memakan waktu satu bulan,” sebutnya.
Kemudian, agar bisa mendapatkan kuning telur yang berkualitas dibutuhkan telur bebek yang benar-benar bagus dan kondisinya masih fresh. Karenanya, ia tidak membeli telur bebek dari pengepul, tapi langsung membeli telur dari peternak bebek di daerah Dampit, kabupaten Malang.
“Kalau telur bebeknya tidak bagus, kuning telurnya bisa rusak. Telurnya terlalu lama di luar juga rusak. Jadi telur bebeknya harus benar-benar yang bagus, kalau tidak bagus tidak bisa,” terangnya.
Selain itu, proses pengasinan yang memakan waktu selama satu bulan tersebut, tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan.
“Prosesnya juga harus bagus. Kalau asal-asalan, kuning telurnya bisa rusak atau busuk di dalam karena proses pengasinannya tidak hanya satu atau dua minggu, tapi satu bulan,” ungkapnya. Jadi selain bahan bakunya harus bagus, prosesnya juga harus bagus supaya hasil akhirnya juga bagus, tandasnya.
Sementara menantu Sugeng, Yazid Lutfi, yang turut membantu mengembangkan usaha telur asin tersebut menyebutkan, produk kuning telur yang mereka jual merupakan merupakan berkah dari corona.
“Ini memang produk corona. Jadi kalau tidak ada corona ya mungkin tidak ada produk kuning telur asin ini,” sebutnya.
Menurutnya, peminat kuning telur asin tidak hanya dari Malang saja tapi juga dari luar. Bahkan saat ini ia sudah memiliki pelanggan tetap dari Surabaya.
Diceritakan Lutfi, saat itu ia coba memasarkan kuning telur asin secara online. Ternyata ada konsumen dari Surabaya yang tertarik dan kemudian datang kesini untuk membeli satu plastik kuning telur. Mungkin karena mereka cocok dengan kualitas kuning telur yang kami buat, akhirnya mereka sekarang jadi pelanggan tetap.
“Jadi setiap bulan kami kirim dua ribu butir kuning telur ke konsumen yang ada di Surabaya,” ucapnya.
Hingga saat ini dikatakan Lutfi, kebanyakan pelanggan kuning telur memang dari resto, rumah makan atau hotel. Menurutnya, disana kuning telur biasanya diolah sebagai bahan campuran dalam membuat masakan.
“Yang saya tahu bisa dijadikan saus telur asin, bubur telur asin, bakso atau dijadikan untuk masakan Jepang,” sebutnya.
Terkait harga, karena mereka memproduksinya sendiri tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan harga di pasaran.
“Untuk satu plastik isi 20 butir kuning telur asin kami hargai Rp56.000 atau Rp2.800 per butir,” pungkasnya.