Tekan ‘Stunting’ di Surabaya, PKK Bersinergi dengan OPD

SURABAYA  – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, siap bersinergi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menekan angka stunting atau kekerdilan di tengah pandemi COVID-19.

Ketua Penggerak PKK Kota Surabaya, Rini Indriani, di Surabaya, Kamis mengatakan, untuk menekan stunting, pihaknya berkolaborasi dengan OPD terkait mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian hingga Dinas Pengendalian Penduduk hingga Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya.

“Untuk program yang sudah ada kita lanjutkan. Kemudian kita akan berkolaborasi, nanti saya bersama kader akan berupaya untuk menekan angka stunting,” kata Rini Indriani yang merupakan istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ini.

Rini menjelaskan, persoalan KB dan stunting adalah masalah yang cukup kompleks. Oleh sebab itu, untuk menanganinya diperlukan kekompakan berbagai pihak.

Apalagi, lanjut dia, kondisi pandemi COVID-19 ini perlu ada strategi khusus agar sosialisasi tetap dapat dilakukan tanpa meninggalkan protokol kesehatan.

“Kita berikan pengertian atau sosialisasi secara berkala,” ujarnya.

Rini Indriani pun mengurai sebenarnya, angka stunting dapat semakin masif ditekan dengan dua cara yakni pencegahan dan pengobatan.

“Bukan hanya anaknya saja yang dilihat. Jadi yang utama adalah faktor orang tua maupun keluarga. Nah faktor orang tua inilah yang mempengaruhi psikologis anak, gizi, nutrisi hingga kebersihannya,” katanya.

Oleh sebab itu, kata dia, rencananya sembari membentuk kepengurusan PKK Surabaya selesai, ia juga tengah menyiapkan formula yang sesuai dengan kondisi pandemi. Tujuannya agar program KB dan stunting dapat terlampaui tetapi tetap memperhatikan disiplin prokes.

“Sedang kami susun untuk itu. Bisa jadi pertemuan secara virtual tetapi kita kemas dengan konsep yang berbeda dan semenarik mungkin,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita, sebelumnya menuturkan kalau melihat data tiap tahun angka stunting mengalami penurunan.

Tercatat pada 2016, angka stunting di Surabaya sebanyak 29.608 balita atau 17,44 persen, 2017 sebanyak 19.362 balita atau 10,78 persen, 2018 sebanyak 16.220 balita atau 8,92 persen, 2019 sebanyak 15.391 atau 8,54 persen dan 2020 jumlah stunting 7.040 balita dari 178.043 balita atau hanya sekitar 3,95 persen.

“Jika melihat dari data ini, maka angka stunting menunjukkan tren penurunan,” kata Feny.

Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita). Penyebabnya, kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan atau 24 bulan kurang sehari. (Ant)

Lihat juga...