Putri Ayu, Pilihan Camilan Segala Usia
Editor: Makmun Hidayat
BOGOR — Tampilan cantik kue kukus warna hijau dengan taburan kelapa, mungkin menjadi alasan mengapa kue jajanan pasar ini disebut putri ayu. Teksturnya yang lembut dan dikukus membuat kue ini bisa menjadi pilihan camilan pagi segala usia.
Mak Suri, penjual putri ayu di Pasar Gandoang Cileungsi, menjelaskan putri ayu ini sudah dikenalnya sejak ia kecil.
“Sudah dari kecil, bantu ibu mak bikin kue ini. Gampang bikinnya dan bahannya juga tidak susah. Yang beli juga banyak,” kata Mak Suri, sambil melayani para pelanggannya, Sabtu (13/3/2021).
Ia menjelaskan setiap harinya, ia membawa 100 buah putri ayu dan dijual Rp1000 per buah, yang biasanya sudah habis sebelum jam 10 siang.
“Bikinnya gak lama. Ngadonin bahan paling setengah jam, langsung dikukus. Gak tahu berapa lamanya, cuma kelihatan kalau sudah matang. Begitu matang, didinginkan dulu, baru dimasukkan ke tempat plastik begini,” ucapnya.
Mak Suri menyebutkan kue putri ayu ini bisa dimakan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Dan ia sengaja membikin adonan yang tidak terlalu manis, karena manisnya nanti akan datang dari taburan kelapa di atas kue.
“Untuk warna hijaunya, mak pakai air daun suji. Tidak pakai pewarna makanan. Karena lebih bagus warna hijaunya. Dan yang paling penting itu pemilihan kelapanya. Harus yang baru diparut, supaya kelihatan bagus dan gak cepat basi kuenya,” kata Mak Suri lebih lanjut.
Pegiat kuliner, Ina Permana, menyebutkan putri ayu saat ini tidak hanya ditemukan di pasar tradisional saja. Tapi sudah masuk mall juga.
“Bentuk dan warnanya juga sudah mengalami perkembangan. Bahannya pun sekarang ada yang menggunakan ketan hitam, bukan hanya tepung terigu,” ucapnya saat dihubungi terpisah.
Jika dulu pilihan warna putri ayu hanya hijau, saat ini tak jarang ditemukan putri ayu yang berwarna merah muda atau coklat.
“Bukan cuma warna tapi juga rasa. Ada beberapa yang menjual dengan rasa coklat atau tiramisu. Atau yang merah dengan rasa strawberry,” ucapnya lagi.
Bentuknya pun berkembang. Ada yang berbentuk bunga mawar dan ada juga yang bentuknya tidak berubah tapi ketinggiannya berubah.
“Menjadi lebih tinggi sekarang itu. Dan gak musti bolong juga di tengahnya. Yang bentuk mawar itu, tidak bolong di tengah. Jadi mengikuti keinginan pembuatnya saja,” ungkap Ina.
Tapi, lanjutnya, walaupun banyak variasi warna dan bentuk, tampilan putri ayu dengan warna hijau, bulat dan bolong di tengah tetap menjadi primadona.
“Kurang tahu juga, kenapa yang model lama tetap jadi pilihan. Tapi mungkin imejnya itu dari dulu, sehingga masyarakat umum berpatokan kalau putri ayu ya warnanya hijau, bulat dan bolong. Walaupun, sebenarnya kalau kita coba, warna lainnya juga tidak ada rasa yang berbeda,” tuturnya.
Terkait asal-usul kue putri ayu ini, Ina menyebutkan kemungkinan berasal dari Jawa.
“Karena sebutan ayu itu, seperti mengindikasikan kecantikan dalam bahasa Jawa. Tapi, memang dibutuhkan penelitian dan wawancara lebih jauh lagi ya, kalau untuk sejarah pastinya,” pungkasnya.