Pasar Tumpah Masih Jadi Tumpuan Pelaku Usaha Kecil

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kerap dianggap sebagai biang kemacetan, keberadaan pasar tumpah tetap jadi lokasi favorit bagi pedagang, terutama yang tidak memiliki kios, pedagang kecil atau dadakan.

Tuti Karyati, pedagang ikan di pasar tumpah Garuntang, Teluk Betung, Bandar Lampung menyebut istilah pasar tumpah imbas dari pedagang yang kerap memakai bahu jalan. Sebelumnya sebagian aktivitas pedagang bahkan berada di dekat rel kereta api. Namun setelah dilalukan pemagaran, beralih ke tepi jalan.

Pelaku usaha kecil dominan juga pedagang di pasar yang sudah ada, namun memanfaatkan waktu sore untuk kembali berjualan di Garuntang sejak siang hingga petang untuk memudahkan memenuhi kebutuhan warga, terutama sayuran, lauk pauk hingga kebutuhan lain.

“Adanya pasar sore atau pasar tumpah ikut membantu pelaku usaha kecil. Sebab ia bisa meningkatkan volume penjualan barang yang sebagian dijual pagi hari,” terang Tuti Karyati saat ditemui Cendana News, Selasa (9/3/2021).

Tuti mendapatkan pasokan dari nelayan yang mendarat di dermaga Gudang Lelang, Teluk Betung. Ikan segar yang diperoleh banyak diminati warga untuk kebutuhan menu makan malam.

Mamat, salah satu pedagang menyebutkan,pasar tumpah kerap dianggap sebagai biang kemacetan. Namun bagi sektor usaha kecil ia mengaku sangat memberi peluang. Sebagian warga yang hendak memenuhi kebutuhan tidak harus pergi ke pasar resmi.

“Selasa sore bisa di wilayah Garuntang dan hari lain menyesuaikan pedagang lain beroperasi di titik berbeda,” bebernya.

Tuti Karyati, pedagang ikan di pasar sore Garuntang tak jauh dari lokasi rel kereta memanfaatkan sebagian akses jalan setapak untuk berjualan, Selasa (9/3/2021). Foto: Henk Widi

Mencoba peruntungan dengan berjualan pada pasar tumpah sebut Mamat jadi ladang usaha. Ia menjual alpukat dan jengkol mulai harga Rp10.000 per kilogram. Dibanding hanya mengandalkan berjualan pada lokasi menetap, pasar tumpah ikut menaikkan jumlah penjualan.

Pedagang pakaian, Hasan, menyebut pasar tumpah jadi perpanjangan usaha. Sebab ia telah memiliki kios di Jalan Yos Sudarso, Teluk Betung. Mengandalkan tenda, tiang penggantung pakaian ia bisa menjual puluhan stel baju.

Hasan juga bilang memilih menerapkan harga pada setiap pakaian dengan promo unik. Metode penjualan pada pasar tumpah sekaligus bisa memenuhi target penjualan. Sebab meski pandemi ia mengaku pinjaman dari bank untuk modal tetap harus dibayar.

Pedagang yang jumlahnya ratusan sebutnya berimbas sebagian menggunakan bahu jalan. Meski demikian toleransi dari pengguna jalan dilakukan dengan tidak melintas memakai mobil di wilayah pasar tumpah. Beberapa pedagang yang berjualan di tepi rel kereta api arah Stasiun Tanjung Karang ke Panjang juga hafal jadwal kereta melintas.

Lihat juga...