Manfaatkan Bambu, SDN Tanjungrejo 2 Malang Kembangkan Biopori Ramah Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MALANG — Banjir dan genangan air menjadi salah satu permasalahan yang kerap dirasakan masyarakat ketika dihadapkan pada musim penghujan. Kondisi yang sama juga kerap dialami Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tanjungrejo 2 Malang.

Guna menangani permasalahan banjir agar tidak terus terjadi, pihak sekolah kemudian berupaya menciptakan inovasi berupa Biopori ramah lingkungan dengan menggunakan barang-barang bekas, khususnya bambu bekas renovasi sekolah. Inovasi ini kemudian diberi nama Biopori Dolar yang merupakan kependekan dari nama latin bambu betung Dendrocalamus asper.

Kepala sekolah SDN Tanjungrejo 2 Malang, Suko Pramono menceritakan, ide awal pembuatan Biopori Dolar tersebut berawal dari banyaknya sisa bambu bekas pembangunan sekolah yang sudah tidak terpakai. Dari situ, dari pihak sekolah kemudian berinisiatif untuk memanfaatkan sebagai bahan pembuatan biopori ramah lingkungan.

“Di sini kalau hujan deras biasanya banjir. Maka untuk mengatasi masalah tersebut, kami mencoba menambah lubang biopori yang ada. Jika umumnya lubang biopori terbuat dari pipa paralon, maka sekarang kita ganti dengan bambu bekas sisa renovasi sekolah,” ujarnya usai acara peresmian Biopori Dolar sekaligus penanaman pohon Pule di halaman SDN Tanjungrejo 2 Malang, Rabu (10/3/2021).

Menurut Suko, penggunaan pipa paralon sebagai lubang biopori dinilai kurang ramah lingkungan karena materialnya berupa plastik yang sulit hancur atau terurai. Berbeda halnya jika menggunakan bambu yang sifatnya muda terurai sehingga lebih ramah lingkungan.

“Jadi kalau bambu ini nantinya hancur, akan menjadi kompos. Kemudian bisa kita ganti lagi dengan bambu yang baru,” terangnya.

Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko meninjau Lubang Biopori Dolar berbahan bambu di SDN Tanjungrejo 2 Malang, Rabu (10/3/2021). Foto : Agus Nurchaliq

Diakui Suko, semua bahan pembuatan Biopori Dolar tidak membutuhkan biaya yang besar karena pihak sekolah menggunakan bahan-bahan yang sudah tidak terpakai.

“Selain bambu, kami juga memanfaatkan besi bekas tiang toren untuk dibentuk dan dijadikan sebagai penutup lubang biopori,” ungkapnya.

Disebutkan, saat ini total ada 28 lubang biopori yang sudah terpasang untuk mengatasi permasalahan banjir di SDN Tanjungrejo 2 Malang.

“Kebetulan kemarin di sini hujan deras, dan Alhamdulillah meskipun masih ada genangan air, tapi bisa segera hilang karena sudah banyak terpasang lubang biopori,” tuturnya.

Sementara itu, wakil walikota Sofyan Edi Jarwoko, yang secara langsung meresmikan kegiatan tersebut, mengaku sangat mengapresiasi inovasi Biopori ramah lingkungan yang dibuat pihak SDN Tanjungrejo 2 Malang. Menurutnya, inovasi Biopori Dolar tersebut sejalan dengan program pemerintah kota Malang dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Alahamdulillah kami bersama Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) terus bergerak menumbuh dan membumikan pendidikan karakter kepada anak-anak untuk turut menjaga kelestarian alam dengan gerakan sedekah oksigen melalui penanaman pohon. Termasuk juga didalamnya mengurangi penggunaan bahan-bahan plastik dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan. Ini ternyata sudah diaplikasikan melalui inovasi Biopori Dolar. Semoga inovasi biopori ramah lingkungan ini bisa menginspirasi kita semua termasuk anak-anak,” tandasnya.

Lihat juga...