APM Permudah Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Matematika
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
SEMARANG — Mata pelajaran (mapel) matematika disajikan dalam kurikulum, pada jenjang pendidikan dasar (SD-SMP) dan pendidikan menengah (SMA, SMK). Berbagai inovasi hasil riset dan pengembangan, telah diimplementasikan dalam pembelajaran tersebut.
“Namun berbagai permasalahan masih dijumpai, matematika abstrak dan sulit, pembelajarannya tidak menyenangkan, nilai kurang bagus, dan lainnya,” papar guru besar bidang Ilmu Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Isti Hidayah, saat dihubungi di Semarang, Kamis (11/3/2021)
Mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan inovasi. Termasuk penyediaan alat bantu atau media, khususnya pada pembelajaran jenjang pendidikan dasar, sebagai upaya untuk memediasi materi yang abstrak bagi anak usia SD-SMP, yang masih berada pada tahapan berpikir operasional konkret.
Dipaparkan, berdasarkan teori pembelajaran Piaget, Dienes, Brunner, dan Ausubel, menguatkan pentingnya penggunaan benda konkrit dalam pembelajaran matematika, agar pembelajaran menjadi bermakna.
“Dengan belajar bermakna ini, siswa diharapkan dapat dengan mudah memahami konsep, dan pemahaman itu tidak mudah terlupakan,” lanjutnya.
Disebutkan, berdasarkan kajian literatur secara sistematis, menunjukkan bahwa penggunaan manipulatif atau alat peraga konkret, dalam pembelajaran matematika merupakan strategi yang efektif dibanding pembelajaran yang disajikan secara abstrak, hanya menggunakan simbol-simbol matematika.
“Tidak hanya untuk pendidikan dasar, hasil meta analisis juga menunjukkan keefektifan penggunaan alat peraga konkret ini , dalam penelitian dengan sampel peserta didik dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi,” tandasnya.
Tidak hanya sekedar teori, pihaknya pun sudah mengembangkan produk alat peraga matematika (APM), yang diharapkan mampu memfasilitasi guru dan siswa, dalam mencapai tuntutan kurikulum. Di samping itu, APM juga dapat memfasilitasi anak bereksplorasi dalam rangka mengembangkan keterampilan berpikir.
“Pentingnya penyediaan APM, sebagai salah satu wujud representasi dalam pembelajaran matematika, telah kami kembangkan melalui riset pengembangan hingga hilirisasinya. Produk APM ini siap diproduksi dan dipasarkan secara masal. Hasil uji coba terbatas, uji coba lebih luas, dan uji coba pada lingkungan, menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika efektif, menyenangkan, dan menanamkan beberapa karakter siswa,” tandasnya.
Isti menjelaskan, ada dua APM yang digunakan yakni klasikal dan individual. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
“APM individual dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan APM klasikal, yang selama ini pemanfaatannya terbatas oleh guru dan untuk pembelajaran kelompok di kelas. APM individual ini, juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak sebagaimana kebutuhan anak akan alat tulis yang lain,” lanjutnya.
Pihaknya pun berharap produk hilirisasi hasil riset dan inovasi APM dapat dimanfaatkan, untuk memenuhi kebutuhan guru dan siswa sebagai pengguna, sekaligus memberikan peluang lahirnya inovasi-inovasi pendidikan sesuai tuntutan perkembangan zaman.
Terpisah, Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman, saat dihubungi juga mendukung keterlibatan civitas akademika Unnes, dalam menerapkan keilmuan mereka untuk pengembangan dunia pendidikan di Indonesia.
“Penelitian dan inovasi yang dilakukan para dosen atau mahasiswa Unnes, kita dorong agar mencapai tahapan hilirisasi, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, untuk mengatasi beragam tantangan yang ada. Tidak hanya di bidang pendidikan, namun juga bidang lainnya,” terangnya.
Pihaknya pun mendukung adanya hilirisasi APM dalam membantu penguatan pendidikan di bidang matematika, sehingga diharapkan guru lebih mudah dalam menyampaikan pembelajaran dan siswa juga lebih gampang memahaminya.