Harga Cabai Rawit Capai Rp100.000 per Kilogram di Lampung
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Harga cabai jenis rawit merah masih bertahan tinggi di sejumlah pasar tradisonal di Lampung. Per kilogram seharga Rp100.000 paling murah Rp90.000 perkilogram. Minimnya pasokan jadi faktor naiknya harga.
Marsanti, salah satu pedagang di pasar Bakauheni, Lampung Selatan menyebutkan, sebagai solusi ia menyediakan jenis lain, berupa cabai keriting merah, caplak dan hijau besar. Jenis keriting merah dijual Rp50.000 per kilogram, caplak Rp45.000 per kilogram dan Rp40.000 untuk jenis hijau besar.
Lonjakan harga sebutnya dikeluhkan pedagang, pelanggan dan pedagang kuliner. Ia menyebut harga cabai yang tinggi dipengaruhi pasokan terhambat, penghujan dan tingginya permintaan. Ia memprediksi kenaikan masih akan bertahan hingga Ramadan.
“Bagi sebagian pedagang pasokan cabai keriting masih lancar sehingga maksimal masih dijual seharga Rp40.000 per kilogram, jenis cabai tersebut berasal dari petani lokal,” terang Marsanti saat ditemui Cendana News, Kamis (11/3/2021).
Marsanti bilang naiknya harga cabai disiasati konsumen dengan sistem campuran. Sebagian pedagang kuliner tetap membeli cabai rawit dengan jumlah yang dibatasi. Sisanya dipilih jenis caplak, merah keriting dan hijau besar.

Hasan, pedagang di pasar Inpres Kalianda menyebutkan, kenaikan harga cabai terjadi merata. Pasokan menurutnya diperoleh dari petani yang menanam pada kaki Gunung Rajabasa.
“Varietas cabai rawit stoknya kurang namun kami sediakan jenis cabai keriting agar konsumen tetap bisa mendapat bumbu,” cetusnya.
Hasan bilang sebagian pelanggan memilih menggunakan bumbu alternatif. Sebab jenis cabai rambat, lada dan pala berpotensi menjadi penambah rasa pedas. Dalam sehari ia menyediakan sebanyak 100 kilogram meski hanya terjual sekitar 50 kilogram.
Peningkatan harga cabai rawit belum mendongkrak harga cabai merah keriting. Atin, salah satu petani bilang pada level petani cabai merah keriting maksimal dijual Rp35.000. Harga tersebut lebih baik dibanding sebelumnya hanya mencapai Rp25.000 perkilogram. Harga stabil sebutnya menyesuaikan permintaan, biaya distribusi ke luar daerah.
“Kenaikan harga cabai di pasaran tidak akan langsung menaikkan harga di level petani karena butuh biaya operasional sebelum tiba di pasar,” cetusnya.
Permintaan cabai keriting merah banyak berasal dari wilayah Sumatera Barat. Cabai tersebut akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sambal kemasan, sambal balado. Proses penanaman bertahap jadi cara agar ia bisa panen jelang Ramadan. Usia panen cabai mencapai 75 hari membuat ia mengatur pola tanam untuk penuhi kebutuhan pasar.