Kedelai Lokal Petani Bantu Pasokan Bahan Baku Tempe

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Melambungnya harga kedelai impor mempengaruhi bahan baku tempe, tahu hingga oncom. Pengusaha tradisional memutar otak dengan mulai melirik produksi lokal.

Sartono, petani di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menyebutkan,  produsen tempe skala tradisional terbantu dengan adanya pasokan kedelai lokal.  Ia menyebut harga kedelai pada level pengecer sempat mengalami Rp10.000 perkilogram. Meski kedelai impor mulai turun pada level Rp9.200 namun kembali naik menjadi Rp9.400 perkilogram. Kedelai lokal dengan ukuran kecil bisa dijual seharga Rp7.500 perkilogram.

Mempergunakan lahan seluas seperempat hektare ia menanam 20 kilogram kedelai dengan hasil panen sebanyak 5 hingga 10 kuintal.

“Penanaman kedelai belum begitu banyak dilakukan karena saat musim tanam penghujan atau rendengan lahan sawah kerap untuk penanaman padi sehingga petani memanfaatkan lahan sawah yang jauh dari sumber irigasi dan lahan kebun,” terang Sartono saat ditemui Cendana News, Senin (18/1/2021).

Penanaman kedelai sebutnya cukup menguntungkan sebab bisa dipanen saat kulit sudah menguning. Sebelum dipanen ia menyebut telah mendapat pesanan dari produsen tempe, tahu. Saat harga kedelai impor mulai stabil ia masih bisa terserap pasar untuk pembuatan susu, tahu dan oncom.

Petani lain, Siami menyebutkan, lahan yang tidak dipergunakan sebagai tempat menanam padi sementara digunakan untuk menanam kedelai dan komoditas pertanian lain. Ia memilih menanam kedelai, kacang tanah serta timun suri.

“Kedelai lokal cocok dijual dalam kondisi basah untuk direbus sebagian dipertahankan hingga tua untuk dikeringkan,”bebernya.

Petani kacang kedelai, Sartono, di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan memanfaatkan lahan untuk menghasilkan kedelai untuk bahan pembuatan tempe, Senin (18/1/2020). Foto: Henk Widi

Siami menyebut memanfaatkan kedelai hasil pertanian miliknya untuk membuat tempe. Tempe tradisional buatannya menggunakan kemasan daun pisang dan waru. Penggunaan kedelai lokal kerap dipakai untuk tempe bahan baku pembuatan mendoan. Meski jadi tempe dengan ukuran lebih kecil produk dari lokal dan lebih disukai karena memiliki rasa lebih renyah.

Sumino, pedagang tempe, tahu dan oncom di pasar Pematang Pasir menyebut sempat memakai kedelai lokal. Produksi tempe ,tahu dan oncom setiap hari menurutnya membutuhkan rata rata 50 kilogram.

“Produsen tempe memilih membeli kedelai impor karena ukuran lebih besar sehingga cocok untuk tempe dan tahu dengan ampas lebih banyak untuk oncom,” cetusnya.

Ia menjual tempe dengan ukuran berbeda mulai harga Rp3.000 hingga Rp6.000. Kemasan yang digunakan berupa plastik dan daun pisang. Saat pasokan impor terbatas ia memilih mempergunakan kedelai lokal. Pasokan dari petani diperoleh melalui sejumlah pengepul. Memasuki pekan kedua Januari ia menyebut harga mulai membaik berimbas lancarnya produksi tahu, tempe dan oncom.

Lihat juga...