Pemilahan Sampah, Kurangi Pencemaran Lingkungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pemilahan sampah skala rumah tangga, menjadi solusi mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu juga bisa menambah penghasilan, dengan membuat sampah plastik sebagai produk daur ulang, dan membuat pupuk dari sampah organik.

Sersan satu Yus Karyanto, Babinsa Koramil 421/03 Penengahan, menyebut kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan bisa dimulai dari keluarga. Salah satunya dengan mendaur ulang sampah untuk dijual atau dibuat pot bunga.

Kegiatan bersih lingkungan  menjadi bagian penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya pencegahan penularan Covid-19. Sebab, penerapan protokol kesehatan bisa diterapkan dengan memulai menjaga kebersihan pekarangan, lingkungan dusun hingga desa.

Lisdaryanti (kanan) warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan memilah sampah kertas dan plastik yang sebagian bernilai jual, Sabtu (19/9/2020). -Foto: Henk Widi

Melalui World Cleanup Day, kata Sertu Yus Karyanto, menjadi momentum untuk menggerakkan peningkatan kebersihan. Gangguan sampah plastik, botol air mineral di sejumlah selokan berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Meski menghadapi pandemi Covid-19, sejumlah penyakit menular berasal dari lingkungan kotor tetap menjadi perhatian.

“Kepedulian pada kebersihan dilakukan dengan mengurangi dumping atau pembuangan sampah di tanah lapang, kebiasaan buruk membuang sampah di selokan, sungai juga harus dihilangkan karena ada sebagian sampah bernilai ekonomis,” terang Sertu Yus Karyanto, Sabtu (19/9/2020).

Kehadiran babinsa sebagai pembina masyarakat yang terjun langsung ikut membersihkan sampah, menjadi bentuk sosialisasi penerapan PHBS. Saat kegiatan membersihkan sampah di Dusun Pasuruan Atas, Desa Pasuruan, Sertu Yus Karyanto sekaligus mengajak warga menyiapkan alat cuci tangan dengan sabun. Langkah tersebut dilakukan untuk pendisplinan prokes.

Aksi bersih lingkungan yang dilakukan masyarakat, menurut Sertu Yus Karyanto sekaligus antisipasi musim kemarau. Keberadaan sampah liar di sejumlah lokasi berpotensi menimbulkan penyakit dari lalat. Saat tumpukan sampah terbakar, berimbas kebakaran pada lahan kebun dan merugikan tanaman pertanian.

“Dampak sampah yang tidak terkontrol sekaligus kesadaran masyarakat yang minim, akan berdampak pada kesehatan dan kerugian ekonomis,” bebernya.

Pembersihan lingkungan bersama masyarakat dilakukan oleh personel TNI AD tersebut, dengan membersihkan rumput. Sejumlah selokan yang tersumbat oleh tanah dan sampah plastik dibersihkan memakai cangkul. Pembersihan selokan saat kemarau, mengantisipasi luapan air saat penghujan tiba yang bisa berimbas banjir.

Indarto, Kepala Dusun Pasuruan Atas, menyebut bersih lingkungan dilakukan sebagai bagian World Cleanup Day. Masalah sampah diakuinya menjadi persoalan sepele, namun menjadi biang estetika yang kurang rapi, kesehatan masyarakat terganggu. Kesadaran setiap keluarga memilah sampah agar tidak dibuang sembarangan, bisa menjadi solusi.

“Sejumlah lokasi yang ada di tepi jalan kerap, menjadi tempat pembuangan sampah liar telah ditutup, diberi tanda peringatan agar tidak kotor,” cetusnya.

Pengelolaan sampah di setiap keluarga, menurutnya bisa diawali dengan penyortiran. Sejumlah sampah bernilai jual jenis kertas, botol minuman, kemasan makanan dikumpulkan. Jenis sampah organik yang bisa didaur ulang berupa limbah sayuran, buah, daun bisa dibuatkan lubang. Meminimalisir proses pembakaran sampah dengan membuat kompos, menghasilkan pupuk organik untuk tanaman.

Munculnya pengepul sampah bernilai jual disebut Indarto bisa menjadi sumber penghasilan. Sebab, sejumlah sampah bernilai jual banyak dicari pengepul. Penyortiran dilakukan agar sampah terbuang di selokan dan pekarangan bisa diminimalisir. Selama kemarau, imbauan untuk tidak membakar sampah digencarkan mencegah polusi dan kebakaran.

Lisdaryanti, warga Desa Pasuruan, mengaku mengumpulkan sampah untuk dijual. Jenis sampah yang memiliki nilai jual seperti botol minuman, kardus, dan kertas. Sebagian sampah tersebut memiliki harga jual mulai Rp500 hingga Rp4.000 per kilogram. Butuh waktu satu bulan untuk menghasilkan sekitar 50 kilogram sampah bernilai jual.

“Daripada terbuang atau dibakar sehingga mencemari, sebagian bisa dijual untuk daur ulang,” cetusnya.

Sebagian sampah dari kemasan minyak goreng, kaleng dan gelas plastik dipilah olehnya untuk pot tanaman. Jenis tanaman sayuran tomat, bawang merah, kangkung ditanam memakai kemasan makanan tersebut. Selain mengurangi sampah yang sulit terurai selama pandemi Covid-19, menanam sayuran bisa menjadi cara menjaga ketahanan pangan tanpa harus membeli.

Lihat juga...