Pemerintah: Kuartal III Jadi Pertaruhan Ekonomi Nasional

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers virtual terkait hasil riset Pertumbuhan Ekonomi Nasional Kuartal II 2020, pada Rabu (5/8/2020). Foto Amar Faizal Haidar

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan hasil riset pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2020. Sesuai prediksi, laju perekonomian Indonesia melambat di angka -5,32 persen dari PDB year on year (YoY) dan -4,19 persen quartal on quartal (QoQ).

“Puncak dari dampak pandemi Covid-19 ini memang di kuartal II, khususnya bulan April dan Mei. Dahsyat sekali dampaknya,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Berdasarkan struktur pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran, konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi -5,51 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) -8,61 persen, dan ekspor -11,66 persen. Sementara itu, konsumsi pemerintah terkontraksi hingga -6,9 persen, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) -7,76 persen, dan impor -16,96 persen.

Suhariyanto menyatakan seluruh komponen konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi, kecuali komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga, serta kesehatan dan pendidikan yang triwulan II 2020 masih tumbuh positif 2,02 persen.

Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi, Suhariyanto menyebut penyebab kontraksi tertinggi berasal dari konsumsi rumah tangga yang mencapai -2,96 persen, diikuti oleh PMTB yang mengalami -2,73 persen.

“Jadi ke depan, karena perekonomian kita sangat dipengaruhi konsumsi rumah tangga dan investasi kita harus berupaya agar dua komponen ini bergerak lebih baik lagi di kuartal III,” ujarnya.

Menanggapi hasil tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, meski ekonomi nasional tumbuh negatif, namun tingkat kedalamannya masih lebih baik bila dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya.

“Kalau kita lihat negara lain, kita sebetulnya masih cukup baik. Misalnya Amerika yang tumbuh negatif -9,5 persen, Eurozone -15 persen, Jerman -11,7 persen, Prancis -19 persen, Hongkong -9 persen, Singapura -12,6 persen, Meksiko -18,9 persen,” tandas Airlangga.

Di luar itu, Airlangga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional akan dipertaruhkan pada kuartal III tahun ini. Apabila hasilnya masih negatif, maka dapat dipastikan Indonesia terjerumus di jurang resesi.

“Kita harus bisa melakukan recovery atau pembalikan, dan di saat yang sama kita juga berharap ada perbaikan pada ekonomi global, baik itu melalui Cina maupun negara lain yang sudah lebih dulu pulih,” tukas Airlangga.

Sebagai informasi tambahan, bahwa hampir seluruh lembaga keuangan internasional memprediksi ekonomi global akan negatif di akhir tahun 2020. OECD memproyeksikan ekonomi global -6 persen sampai -7,6 persen, World Bank -5,2 persen, IMF -4,9 persen.

Lihat juga...