Menjaga Tradisi di Tengah Pandemi, Babaritan di Kranggan Digelar Sederhana

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Upaya para sesepuh di Kampung Kranggan, dalam menjaga dan mempertahan tradisi budaya di tengah hiruk pikuk arus kehidupan Kota Bekasi, masih terus dilaksanakan.

Kampung Kranggan terletak persis di perbatasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Masyarakat Kranggan lekat dengan adat Sunda dan mempunyai tradisi yang dijaga turun temurun, konon telah ada sejak berabad-abad lamanya bernama babarit. 

Sore tadi, tradisi babaritan dilaksanakan dengan cara sederhana di RW 007,  karena saat ini suasana pandemi Covid-19. Tahun ini, tidak ada hiburan jaipongan, tari topeng atau lainnya mengiringi acara adat Babaritan atau sedekah bumi di Kampung Kranggan.

Baritan adalah suatu ritual adat memohon kepada Maha Kuasa agar Kampung dan warganya diberi keselamatan. Memasuki 1 Muharram 1442 Hijriyah atau dikenal sebagai bulan Suro, tradisi budaya Babaritan di kampung Kranggan, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, tetap dilaksanakan dengan sederhana.

Melalui tradisi babaritan, terlihat keguyuban warga di RW 007 Kranggan, Kelurahan Jatirangga, saling mauran (membantu) dalam menyediakan sajian yang dibawa dari rumah masing-masing untuk menjadi hidangan usai doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang yang dituakan biasa dipanggil Olot.

Memasuki bulan Suro, babaritan di Kampung Kranggan, biasa dilaksanakan di beberapa tempat secara terpisah. Pastinya di tempat Olot panggilan untuk sesepuh yang dituakan oleh masyarakat setempat. Tradisi, lainnya adalah suguhan kopi manis.

Babaritan adalah ritual adat asli Kampung Kranggan yang telah terjaga secara turun temurun sejak berabad-abad silam,” ungkap Abah Saman, salah satu sesepuh di Kampung Kranggan, kepada Cendana News, Kamis (20/8/2020).

Abah Saman (kiri) salah satu sesepuh di Kampung Kranggan bersama Abah Sa’an (kiri), Olot yang memimpin ritual babaritan di RW 007, Kampung Kranggan, Kelurahan Jatirangga, Jatisampurna, Kamis (20/8/2020). -Foto: M. Amin

Dikatakan babaritan adalah ritual adat untuk memohon keselamatan kampung dan isinya kepada Sang Kuasa dari segala musibah. Oleh warga Kranggan dulu biasa disebut gerebelan atau sedekah dengan doa bersama di tempat tertentu secara bersama-sama.

Selamatan bumi atau kata lainnya babaritan merupakan akronim dari kata ngababarkeun ririwit. Artinya melenyapkan kesusahan atau bisa disebut sebagai sedekah bumi, bentuk rasa syukurnya terhadap alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Abah Sa’an, yang memimpin doa babaritan di RW 007, Kelurahan Jatirangga, mengatakan selain bentuk rasa syukur telah diberi kesehatan, cukup sandang pangan, tidak ada bencana dan bala juga sebagai bentuk doa memohon keselamatan selama setahun kedepan.

Babaritan sore tadi,  terlihat sesajian hasil bumi berupa buah-buahan, kue, ikan, daging, bubur lima warna, nasi kuning serta ayam bekaka  yang diletakkan dalam sebuah jalinan bambu yang beralaskan daun pisang. Sisanya berbagai kudapan tersebut dihidangkan dalam piring dan mangkok yang dihampar.

Sebelum dibagikan aneka hidangan tersebut dibacakan doa yang pertama dilantun seperti mantra dalam bahasa Sunda  yang maknanya ucapan rasa syukur dan memohon keselamatan kepada Sang Kuasa Alam sambil membakar kemenyan dan sesekali ditaburi bunga yang telah tersedia di depan Kolot Sa’an hingga menambah khidmat suasana.

Kolot tersebut seolah berbincang-bincang dalam bahasa Sunda untuk menyampaikan maksud dan tujuan selain menerangkan dengan ringkas bagaimana sejarah dan tradisi di Kranggan.

Setelah selesai dan kemenyan yang dipegang habis terbakar, sebagai doa penutup, dengan membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, An-Nas dan Al Alaq, ada lima ayat surat pertama Al Baqarah, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Setelah selesai berdoa, hidangan yang disajikan disantap bersama dan dibagi-bagikan kepada warga sekitar sebagai berkat.

Lihat juga...