DAHULU kala, di zaman setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, hidup seorang raja lalim yang setiap tahun menggelar sayembara menari. Sayembara itu harus diikuti seluruh padepokan seni yang berada di wilayah kerajaannya.
Bagi padepokan yang tidak mengirimkan penari terbaiknya, pemimpinnya akan dihukum berat dan padepokannya dibubarkan.
Ki Ponco termangu resah memikirkannya. Satu purnama lagi sayembara tari kerajaan akan digelar. Padepokannya terlalu terkenal untuk tak turut mengirim penari terbaiknya.
Tetapi ia tidak rela jika Ning sampai terpilih sebagai yang terbaik karena artinya anak semata wayangnya itu akan diselir oleh raja.
“Romo, malam yang begini tentram, kenapa wajah Romo begitu suram?” suara lembut Ning menyapa keresahan Ki Ponco.
Ki Ponco menatap wajah ayu anaknya dan kesedihannya justru semakin menjadi.
“Nduk ayu, maafkan Romo, Nduk,” kata ki Ponco berbarengan air mata yang menetes dari matanya.
“Kenapa Romo menangis?”
“Romo tidak tahu harus bagaimana lagi, Nduk. Sebentar lagi sayembara tari kerajaan digelar dan semua orang sudah terlanjur tahu bahwa kamulah penari terbaik dari padepokan ini. Kita pasti dianggap melawan kerajaan jika tidak mengajukanmu, Nduk.”
Sebenarnya, sudah sejak Raja baru itu naik tahta, Ki Ponco berharap agar Ning tidak menjadi penari. Tetapi darah penari terlanjur mengalir di nadinya. Bakat dan kecintaan Ning pada tari terus tumbuh seiring usia.
Ki Ponco tak tega lagi untuk menghalangi keinginan Ning yang sejatinya bukanlah hal yang nista itu. Terlebih Ning yang saat itu baru berumur 6 tahun pernah berkata, “Romo, saat saya njoget, saya merasa sedang ditimang Ibu.”
Ki Ponco mahfum, anaknya mengisi kekosongan sosok ibu yang meninggal saat melahirkannya itu dengan menari seperti ibunya.
Seandainya Ning hidup di masa raja sebelumnya, bakat dan kecintaan yang diasah dengan keseriusan latihan, tentu membuahkan keadaan yang baik dan nilai yang tinggi untuknya, baik sebagai manusia atau sebagai perempuan.
Penguasa sebelumnya meletakkan penari di tempat yang tinggi.
“Penari adalah empu keindahan yang menggambarkan nilai-nilai agung negeri. Keindahan wujud dari manembah (menyembah) kepada Sang Hyang Widhi, juga keindahan yang turut membangun keselarasan penduduk kerajaan. Harmonis kepada alam dan sesama manusia,” demikian raja terdahulu itu pernah bersabda.
Sungguh malang nasib Ning, berlian terbaik yang hidup di masa pemimpin yang buta nilai. Penari hanya dipandang sebagai hiburan dan tontonan berahi belaka. Pagelaran tari memang tetap rutin digelar tetapi nilainya anjlok menjadi sekedar hajat syahwat kerajaan.
Sungguh malang nasib negeri dimana rajanya tak tahu nilai. Rakyat pun mencontoh penguasanya. Mereka turut meletakkan kesenian secara sembarangan dan berimbas pada padepokan-padepokan yang kemudian terpaksa menciptakan tari-tarian untuk menuruti selera kebanyakan.
“Romo, apakah waktu satu bulan cukup untuk saya belajar Tari Amba Nitis Sewu?” kali ini Ning memberanikan menatap mata ayahnya untuk menunjukkan kebulatan tekadnya.
“Oalah, Nduk, dari mana kamu tahu soal itu? Buang jauh-jauh pikiran semacam itu, bahaya!”
“Romo, bukan hanya Romo yang gelisah akhir-akhir ini. Saya pun resah jika kembali teringat kepada hari di mana saya harus menari untuk tujuan yang tidak saya kehendaki. Kemarin saya menangis dan mengadu pada kubur Ibu. Saya jatuh tertidur di pundennya. Kemudian saya bermimpi bertemu Ibu, beliau mengisahkan tari Amba Nitis Sewu. Romo, bukankah itu petunjuk dari Sang Hyang Widhi untuk kesusahan kita ini? Saya mohon, Romo, saya tidak mau menjadi selir Raja, saya tidak mau Romo dihukum, dan saya tidak mau ada lagi penari yang diperlakukan tidak layak begini.”
Kebulatan tekad dan batin Ning yang penuh, akhirnya berbuah restu Ki Ponco dan ia sendiri yang akan melatih Ning menjadi penari Amba Nitis Sewu.
Sudah sekitar seabad, tari itu tidak pernah dimainkan lagi. Tetapi ilmu untuk mempelajarinya terus diajarkan secara turun menurun secara rahasia.
Tari Amba Nitis Sewu termasuk tari yang wingit. Menuntut beberapa syarat laku bagi penarinya. Ning diharuskan menjalani laku pati urup. Yakni, ia tidak boleh menggunakan penerangan untuk segala kegiatannya di malam hari.
Sedangkan siangnya, ia diharuskan laku pati mripat. Mata Ning ditutup kain agar tidak bisa melihat. Kedua laku itu dijalankan Ning selama 10 hari dan malam (harmal). Tujuan dari pati urup adalah ketajaman mata Ning diasah dengan kegelapan, sedangkan pati mripat ditujukan agar pelaku mengasah ketajaman indera selain mata.
Setelah 10 harmal terlewati, Ning menjalani pati omong atau tapa mbisu hingga hari pertunjukan. Ia tidak boleh mengungkapkan kehendak dan maksud dengan kata-kata. Ia hanya boleh membatin lalu mengungkapkannya dengan sorot mata.
Kesulitan laku ini adalah Ning diharuskan tetap bersinggungan dengan orang lain, baik di pasar, di kali, atau di jalan tanpa memberi tahu bahwa dirinya sedang menjalani laku pati omong.
Setelah 7 harmal dilakoni, orang-orang yang bertemu dan berbicara dengan Ning sama sekali tidak sadar bahwa baru saja Ning bercakap tanpa pernah berkata-kata sekalipun. Batin Ning dan sorot matanya dapat mengimbangi percakapan mereka.
Lalu setelah lewat dari sepuluh hari, Ning telah mampu memerintah binatang dengan menatap matanya. Pada 7 hari sebelum pertunjukan, Ning diharuskan menjalani laku nggremet, yakni bergerak dengan sangat lambat di dalam setiap kegiatan kesehariannya.
Untuk bangun tidur menuju duduk saja, lamanya bisa sampai sekitar satu bakaran dupa. Saat sudah sampai di tahap ini, Ning dipingit, tak boleh dijumpai siapa pun, kecuali Ki Ponco.
Selama 7 harmal, Ki Ponco menembangi Ning dengan tembang yang diulang seratus kali di setiap harinya. Tembang inilah yang akan dirapal dalam batin penari Amba Nitis Sewu ketika sedang menarikannya.
Tembang inilah mantra yang akan menggerakkan tubuh Ning secara naluriah di dalam pertunjukannya nanti dan hanya akan dipraktikkan langsung ketika pertunjukan telah benar-benar digelar.
Gerak di dalam tari tersebut bukanlah gerak yang bisa dilatih dengan hapalan sebagaimana tari-tari yang lain, ia semacam gerak alamiah, dimana tubuh berserah untuk digerakkan oleh kekuatan yang tak kasat mata.
***
PARA pemain gamelan resah mendapati Ki Ponco tidak mengadakan latihan sama sekali dan justru memerintahkan mereka berjaga secara bergantian di pagar padepokan. Guna melarang siapa saja yang hendak masuk. Padahal, pertunjukan tinggal tiga hari lagi.
“Mungkin, Ki Ponco tidak ingin mengirim Ning maju sayembara.”
“Wah, bisa-bisa Ki Ponco dihukum berat karena dianggap melawan titah raja.”
“Jangan-jangan beliau sengaja merencanakan pertunjukan yang tidak bagus, agar Ning tidak menang.”
“Baguslah kalau tidak menang, tidak rela aku kalau Ning dijadikan selir raja.”
“Hush, hati-hati kalau ngomong.”
Seakan menangkap keresahan dari pelataran padepokan, Ki Ponco keluar untuk menghampiri mereka malam itu juga.
“Ning dan saya sedang mempersiapkan tarian untuk pagelaran sayembara tari lusa. Percayalah, pantang bagi saya mempertunjukkan tarian yang tidak sungguh-sungguh. Tapi tarian kali ini tidak sama dengan tari-tari yang pernah kita mainkan, bentuk persiapannya pun berbeda. Untuk itu, saya minta kalian juga bersungguh-sungguh dan percaya bahwa pertunjukan lusa juga merupakan wujud manembah kita kepada Sang Hyang Widhi, sebagaimana pagelaran-pagelaran kita sebelumnya.”
“Lalu apa yang harus kami persiapkan, Romo? Bagaimana kami bisa mengiringi tarian kalau kami tidak tahu bentuk tarinya?”
“Perbanyaklah meditasi mulai malam ini, itu yang harus kalian siapkan. Nanti saat Ning mulai menari, rasakanlah suasana dan aura waktu itu. Ikutilah kata hati kalian untuk menentukan kapan dan bagaimana kalian mulai memainkan. Kalian hanya boleh memainkan perpaduan tiga nada yang diulang-ulang.”
Melihat para pemain gamelannya masih keheranan, Ki Ponco kembali berkata, “Sekali lagi saya mohon percayalah dengan saya dan Ning. Banyaklah berdoa dan minta petunjuk kepada Sang Hyang Widhi.”
Ki Ponco kemudian meninggalkan para pemain gamelan ketika merasa mereka telah sepenuhnya percaya dengan arahannya.
Kemudian malam berjalan sebagaimana malam-malam yang sebelumnya. Tetapi malam bagi Ning, Ki Ponco, dan para pemain gamelan lebih hening dan akan semakin hening oleh meditasi mereka.
***
TIBALAH giliran padepokan Ki Ponco untuk menyajikan tariannya. Mata Ning terkatup, ia berjalan anggun ke atas arena panggung dengan mata pejam. Kepalanya tunduk, berjalan khusyuk, setiap langkah kakinya dinantikan ribuan pasang mata di sekitarnya.
Tak ada yang berani bicara, tak ada yang berani bergerak. Seakan diaba-aba, semua menghirup nafas ketika telapak kaki Ning terangkat dan turut menghembus ketika kaki agung itu menjejak.
Kemunculan tubuh yang telah melalui berbagai macam laku itu menjadi pancer, satu-satunya pusat di keramaian itu. Irama ruang telah di bawah kendali Ning, bahkan ketika ia diam sekalipun.
Ning mulai bersimpuh di tengah panggung yang menghadap singgasana raja. Adanya Ning tepat di hadapan, membuat Sang Raja merasa sangat kecil. Ia telah kehilangan segala kuasa. Tubuh bersimpuh itu telah merajai ia yang duduk di singgasana.
Gamelan mulai merambat.
“Ting…tong..ting…tung Ting…tong…ting….tung….”
Susunan tiga nada berulang memecah kesunyian. Ning menegakkan kepala dan membuka mata. Langsung menghunus tepat ke mata raja. Ada yang melesat dari sorot matanya, tubuh raja terhempas ke belakang seperti didorong hingga punggung menekan sandaran singgasana. Napasnya jadi tak karuan, ada semacam kekuatan yang meringsek perasaan.
Jiwa Ning telah lebur dengan tembang yang dirapal dalam batin. Tubuhnya bergerak mengungkap dinamika kemanunggalan itu. Matanya tak pernah lepas dari mata raja yang telah ia tawan. Bunyi gamelan menyelubungi peristiwa massal yang berpusat pada satu, tubuh Ning. Lalu…
Seribu orang di sekitar Ning terbawa suasana, mereka kerasukan dan tanpa aba-aba mereka raih segala benda berujung lancip terdekat. Siapa saja, punggawa, penonton, perempuan, laki-laki, tua, muda, dewasa, anak-anak, sekitar seribu jumlahnya, seakan menjelma seribu anak panah Srikandi dimana Amba menitis.
Irama tari semakin menegang, seperti busur yang direntang. Pada puncak ketegangan itu Ning menahan gerak dan gamelan pun berhenti. Dalam diam yang tegang, rapal dan kehendak ia pusatkan layaknya sebuah bidikan panah yang sejurus dengan arah tatapan matanya.
Ning melepas gerak, seperti busur panah yang memuntahkan anaknya. Sontak orang-orang lecut seperti ribuan anak panah yang berlari menuju Sang Raja.
Mereka menghunjamkan apa saja ke tubuh raja, bergelombang dan berganti-gantian. Dalam ketaksadaran massal itu, suara gamelan kembali mengalun dengan pukulan keras dan irama yang memuncak. Tari Amba Nitis Sewu telah sampai babak terakhir. Babak di mana tarian tunggal itu dilanjutkan oleh seribu orang yang tak sadar bahwa sedang memerankan pembunuhan secara kejam terhadap satu sasaran tubuh.
Ki Ponco mengangkat tubuh Ning yang jatuh pingsang. Ia bopong tubuh anaknya itu menjauh dari keriuhan babak pungkasan Amba Nitis Sewu. Meski sudah tak bernyawa lagi, tubuh naas raja masih terus dihunjami kesakitan. Baru setelah orang keseribu, semua berhenti; gamelan berhenti, semua orang jatuh pingsan, mereka terlelap hingga malam berakhir.
***
ESOKNYA tak ada yang ingat apa yang semalam terjadi. Tubuh raja yang hancur tercabik-cabik adalah satu-satunya penanda bahwa telah terjadi sesuatu. Tetapi tak ada yang sanggup mengingat. Peristiwa tarian Ning seperti tidak pernah ada di dalam ingatan siapa pun. Kecuali seorang laki-laki berbatin kuat.
Ia hadir di sana tetapi tidak turut hilang kesadaran sebagaimana orang-orang yang tersirap oleh Tari Amba Nitis Sewu yang dimainkan Ning. Tetapi ia memilih merahasiakan itu semua dengan mengaku bahwa ia pun turut pingsan.
Dialah satu-satunya yang tahu bahwa Ning dan Ki Poncolah dalang dari pembunuhan Sang Raja. Tetapi ia memilih diam karena hatinya terlanjur jatuh cinta dengan gadis penari yang setelah peristiwa itu tidak pernah ia jumpai lagi. Dari keturunan lelaki itulah kisah ini sampai padaku. ***
Idnas Aral, sutradara dan penulis lakon di Teater Sandilara. Tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah. Buku yang sudah diterbitkan naskah lakon SRI (2017), Tentang Ketidakpastian (Kumpulan Cerpen dan Lakon Pendek, 2018), dan Catatan Gumam (2020).
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.