Sistem Irigasi Tetes Cocok Diterapkan di NTT
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Sistem penyiraman tanaman menggunakan irigasi tetes yang mengadopsi teknologi dari Israel cocok dikembangkan pada lahan pertanian di Kabupaten Sikka terutama di Provinsi Nusa Nusa Tenggara Timur yang curah hujannya rendah.
Beberapa daerah di NTT curah hujannya rendah di mana dalam setahun maksimal 21 hari terjadi hujan bahkan kurang sehingga banyak lahan pertanian tadah hujan selalu mengalami kekeringan dan gagal panen akibat curah hujan rendah.
“Untuk daerah yang sumber daya airnya terbatas maka cocok digunakan sistem irigasi tetes dalam budidaya pertanian khususnya holtikultura,” sebut Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung, Senin (20/7/2020).
Menurut Wim sapaannya, penerapan sistem irigasi tetes tentu tidak bisa dilakukan oleh petani yang modalnya pas-pasan. Hal ini kata dia, butuh modal besar untuk jaringan irigasi tetes karena harga selangnya masih sangat mahal.
Selain itu lanjutnya, butuh modal untuk mengebor air dan membuat penampungnya karena air akan dialirkan menggunakan sistem gravitasi. Ini yang menurutnya sulit terjangkau oleh petani di NTT yang modal bertaninya masih sangat minim.
“Memang sistem ini bagus karena hemat air apalagi di daerah yang kesulitan air. Namun tentunya tidak semua petani bisa menerapkannya karena butuh modal besar untuk menyiapkan jaringannya,” ungkapnya.

Petani muda di Kelurahan Wailiti Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka, Yance Maring juga mengakui dirinya yang pertama kali di Kabupaten Sikka menggunakan sistem irigasi tetes dalam budidaya tanaman holtikultura.
Yance menyebutkan, untuk membuat jaringan irigasi tetes di lahan seluas satu hektare bisa membutuhkan modal Rp30 juta. Hal ini terjadi karena selang irigasi tetes sebutnya,harus dipesan dari Cina.
“Kita harus memesan selangnya dari Cina menggunakan aplikasi online. Ada selang yang diproduksi di Indonesia namun kualitasnya kurang bagus dan harganya pun memang lebih murah,” ujarnya.
Yance mengaku berani menggunakan sistem irigasi tetes karena menurutnya lebih hemat air. Dirinya pernah menggunakan selang biasa namun mengalami kerugian besar karena gagal panen.
Meskipun mengalami kerugian hingga Rp75 juta tidak membuatnya patah semangat dan terus mengembangkan budidaya holtikultura. Dia mengaku menanam tomat, cabe keriting, cabe besar, semangka serta jagung.
“Saya ingin mengembangkan lahan pertanian lagi dan sudah ada yang menawarkan lahannya untuk dikontrak. Saya sedang mencari tambahan modal untuk mengembangkan budidaya pertanian karena memiliki prospek yang bagus,” ungkapnya.
Bantuan pemerintah, kata Yance, hingga saat ini belum diperolehnya meskipun beberapa pejabat di Dinas Pertanian Kabupaten Sikka pernah mengunjungi lahan kebunnya.