Sikka Dilanda Virus Demam Babi Afrika

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sejak awal Maret 2020 virus Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) mulai melanda Kabupaten Sikka, Provinsi NusaTenggara Timur (NTT), dimana puncaknya terjadi di bulan Juni 2020 yang menyebabkan 226 ekor babi mati mendadak.

Jumlah ini belum termasuk babi yang mati namun tidak dilaporkan ke Dinas Pertanian Kiabupaten Sikka dan dagingnya dikonsumsi oleh masyarakat bahkan diperjualbelikan.

“Virus Demam Babi Afrika ini diperkirakan masuk ke Kabupaten Sikka sekitar awal Maret 2020 dan kemungkinan besar masuk dari Pulau Timor dari daging babi yang dibawa masyarakat,” sebut Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Maria Margaretha Siko, Rabu (8/7/2020).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Drh. Maria Margaretha Siko, saat ditemui di kantornya, Rabu (8/7/2020). Foto: Ebed de Rosary

Dokter Metha sapaannya, mengatakan, jumlah terbanyak babi yang mati terjadi pada bulan Juni sebanyak 226 ekor sementara di bulan Juli 2020 hingga tanggal 8 Juli sudah ada 76 warga yang melaporkan babinya mati mendadak.

Dari 21 kecamatan di Kabupaten Sikka, virus demam babi ini sebutnya, sudah menyebar dengan cepat di 13 kecamatan dan paling banyak terdapat di Kecamatan Alok, Alok Timur dan Nita.

“Dari spesimen yang kita kirim dari Kecamatan Koting, Nita dan Alok untuk diperiksa di laboratorium di bulan Mei 2020 baru didapatkan hasil ternyata positif terserang virus Demam Babi Afrika. Penyakit ini belum ada vaksinnya dan tidak bisa diobati,” jelasnya.

Metha menyarankan agar masyarakat bila menemukan babi yang mati jangan dikonsumsi dagingnya tetapi lebih baik dipotong dan dikubur. Begitu juga sarannya, apabila ada babi yang terkena penyakit maka jangan disembelih dan dagingnya dimakan karena sudah ada virus di dalamnya.

Dia pun menyarankan agar jangan membawa babi antar daerah karena akan mempercepat peredaran penyakit ini serta jika memasak makanan babi sampai memang benar-benar mendidih minimal selama 30 menit.

“Penularannya bisa melalui manusia yang masuk ke kandang babi yang sakit lalu masuk ke kandang babi yang sehat. Selain itu, kandang babi harus selalu dibersihkan termasuk tempat makanannya dan bila pernah ditempati babi yang pernah terkena penyakit maka kandangnya harus disterilkan dahulu,” ujarnya.

Mengkonsumsi dagung babi yang terkena virus kata Metha memang tidak berdampak langsung terhadap kesehatan namun rasa dagingnya tidak enak dan bila tidak dimasak dengan sempurna maka virusnya tidak akan mati.

Dia pun menyarankan agar peternak babi bila menemukan ada babinya yang sakit, maka segera mungkin menghubungi pihaknya dan memisahkan babi yang sehat dari babi yang sakit. Selain itu sambungnya, babi yang terkena penyakit sebaiknya dibunuh karena sudah terkena virus dan pasti akan mati.

“Kami sejak bulan November telah mengumpulkan para peternak dan mengadakan workshop terkait penyakit ini agar masyarakat bisa mengantisipasinya sejak dini,” ujarnya.

Dinas Pertanian pun lanjut Metha, juga selalu melakukan sosialisasi dengan menggunakan mobil yang dilengkapi pengeras suara untuk menyampaikan kepada masyarakat. Sebab tidak mungkin mengadakan pertemuan dengan jumlah peserta yang banyak saat pandemi Corona saat ini.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha, mengatakan, di kabupaten Sikka populasi babi yang terdata sebanyak 71 ribu lebih dimana apabila seekor babi harganya Rp 2,5 juta maka nilainya mencapai Rp 177,5 miliar.

Bila babi sudah terkena penyakit ini kata Mauritz, maka pasti akan mengalami kematian padahal ternak babi mempunyai nilai ekonomis dan sosial yang sangat tinggi bagi masyarakat di Kabupaten Sikka.

“Kalau babi banyak yang mati maka harga babi di pasaran akan mengalami peningkatan. Padahal babi selalu disembelih dalam setiap ritual adat serta setiap pesta sehingga harga jualnya pun lumayan,” ungkapnya.

Lihat juga...