Petani di Pesisir Selatan Didorong Kelola Lahan Tidur

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menargetkan produksi padi di daerah itu pada tahun 2020 mencapai 306.530 ton. Daerah yang digadang-gadang menjadi lumbung padi di Sumatera Barat ini, terus mendorong para petani tetap produktif.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kabupaten Pesisir Selatan, Nuzirwan, mengatakan, target produksi padi itu juga telah masuk dalam perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021, dimana target produksi padi di Pesisir Selatan tahun ini mencapai 306.530 ton.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kabupaten Pesisir Selatan, Nuzirwan di sela-sela kegiatan beberapa waktu lalu/Foto: M Noli Hendra

Bahkan ia menyebutkan hingga semester I tahun ini kondisi produksi padi di Pesisir Selatan bisa dikatakan telah membuat petani berbahagia, karena tidak terjadi adanya serangan hama yang parah. Ia pun memperkirakan, hingga Agustus mendatang target 306.530 ton bakal tercapai.

Menurutnya, melihat pada periode Januari 2020 hingga Maret 2020, total produksi gabah kering panen petani di Pesisir Selatan telah mencapai 114.892,5 ton, dengan luas area panen mencapai 22.751 hektar dari total 30.416 hektar lahan tanam.

“Nah dengan produktivitas 5,8 ton per hektar itu, dapat dikatakan jauh meningkat dari total produksi periode yang sama di tahun lalu,” katanya, Senin (20/7/2020).

Untuk itu, Nuzirwan meminta para petani, memiliki lahan sawah dengan irigasi teknis dapat menanami kembali sawahnya dengan padi. Apalagi turut diterapkan pula penanaman padi dengan sistem tanam benih langsung (Tabela), karena hal itu dinilai sebagai solusi untuk mengatasi persoalan bagi lahan tadah hujan.

Saat ini memang tidak dapat dipungkiri bahwa di Pesisir Selatan masih terdapat adanya sawah-sawah yang belum memiliki aliran irigasi yang bagus. Sehingga banyak lahan yang hanya bisa dikelola apabila di daerah itu dalam kondisi musim hujan.

Menurutnya, solusi untuk kondisi yang demikian ialah melakukan cara pertanian dengan sistem tabela. Sebab dengan menggunakan cara itu, dapat mengatasi keterbatasan pasokan air pada lahan sawah tadah hujan tersebut.

“Bisa dikatakan sistem tabela ini hal yang baru. Bagaimana supaya tabela ini bisa diterapkan, kita akan minta kepada penyuluh pertanian di kecamatan untuk turun ke masyarakat, dan memberikan sosialisasi terkait sistem tabela itu,” jelasnya.

Ia menyebutkan sistem tabela itu dapat meningkatkan efisiensi produksi, terutama efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja tanam. Hal ini dikarenakan sistem tanam benih langsung atau tabela tersebut, merupakan sistem penanaman tanaman padi tanpa melalui persemaian dan pemindahan bibit.

Nuzirman memaparkan sistem tabela pada dasarnya dibedakan atas dua cara, yaitu tanam benih langsung dalam larikan atau tanam benih langsung secara merata (broadcast) pada areal pertanaman.

Sehingga untuk cara tanam benih langsung dalam larikan itu, tidak banyak mengubah cara budi daya yang telah berlangsung selama ini. Sebab dalam penerapannya tetap menggunakan larikan dengan jarak antar barisan antara 22-25 cm, tergantung varietas yang ditanam.

“Kalau tentang cara tanamnya itu, dengan cara menyebarkan benih secara merata pada areal pertanaman mampu menurunkan curahan tenaga kerja sekitar 28 persen,” jelas dia.

Nuzirman juga mengimbau petani agar tidak menjual gabah secara berlebihan. Petani harus memiliki cadangan pangan. Sebab, persediaan itu sebagai antisipasi anjloknya harga gabah di tingkat petani saat panen raya seperti ini.

“Jika dijual secara jor-joran pada tauke, tentu akan berlaku hukum pasar, apabila barang melimpah, harga akan jatuh. Kini masih di kisaran Rp4.800 sampai Rp5.500 per kilogram. Jadi ada baiknya, pertimbangkan juga untuk kebutuhan konsumsi dari rumah tangga si petani,” ujarnya.

Dengan demikian, Nuzirman, menilai produksi padi di Pesisir Selatan bakal mencapai target. Apalagi di Sumatera Barat sendiri telah menerapkan target untuk produksi padi 3 juta ton pada tahun 2020. Sehingga di Pesisir Selatan juga terus berupaya dapat menambah dari kuota target tersebut.

“306.530 ton bukanlah jumlah yang sedikit. Jika kondisi cuaca bagus dan tidak terkendala soal pupuk dan yang lainnya, mungkin bisa melebihi dari target tersebut,” sebut dia.

Terkait target produksi padi di Sumatera Barat, Gubernur Irwan Prayitno, mengatakan, cara untuk memperoleh produksi padi adalah jangan sampai ada lahan kosong yang terbengkalai. Dengan cara itu, semoga lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pertanian.

“Jadi caranya itu bisa dilakukan untuk masa tanam secepat mungkin, dan jangan sampai lahan tersebut dibiarkan menganggur lama. Kan rugi jika dibiarkan, padahal lahannya produktif,” ungkap dia.

Irwan mengakui bahwa Sumatera Barat punya target 3 juta ton produksi padi, dan mudah-mudahan target ini tercapai dengan perhatian dan dukungan dari Kementerian pada petani, yakni melalui memberikan subsidi berupa bibit, pupuk, dan alsintan. Untuk bibit dan pupuk, adalah hal yang sangat berarti bagi petani.

Gubernur juga berharap pemerintah daerah menjadi lumbung pangan di daerahnya sendiri, sehingga dapat melakukan percepatan masa tanam. Untuk itu, demi mendapatkan hasil yang optimal, Irwan Prayitno juga menugaskan kepada Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat, untuk terjun langsung melakukan monitoring masa tanam di masing masing wilayah.

“Harapan kami dengan dimulainya masa tanam serentak ini bisa wujudkan swasembada pangan berkelanjutan,” harapnya.

Lihat juga...