Petambak Garam di Sikka Harus Mampu Manfaatkan Peluang Pasar
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
MAUMERE — Indonesia hingga saat ini masih impor garam dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebanyak 3,7 juta ton untuk garam produksi dan 550 ribu ton untuk garam konsumsi. Peluang usaha masih terbuka luas, dan seharusnya dapat dimanfaatkan oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Pangsa pasar masih terbuka sehingga perlu disiapkan dengan baik,” kata Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat Senin (27/7/2020).
Viktor meminta agar bisa memproduksi garam beryodium atau garam produksi tergantung permintaan pasar. Kalau lahannya lebih luas, maka produksinya akan lebih besar.
“Nanti melalui dinas Perindustrian Provinsi NTT kita akan anggarkan untuk perluasan tambak garam. Ada juga dana di Bank NTT yang bisa dipergunakan,” ungkapnya setelah mengecek pabrik. Dirinya mengaku mesin yang ada di tambak garam Nangahale memang sudah bagus.
Sementara itu penanggung jawab tambak garam Nangahale, Rm. Moses Kurenmas, Pr mengaku garam yang diproduksi mereka sudah sejak beberapa tahun lalu.
Proses produksinya jelas Romo Moses, air laut dialirkan ke 6 tambak berbagai ukuran yang dipasangi terpal geo membran agar proses penguapan air laut menjadi lebih cepat.
“Menggunakan terpal geo membran penguapan air laut akan lebih cepat sehingga 2 minggu sudah menjadi garam. Kami bukan menghasilkan garam kasar tetapi mengolah menjadi garam halus untuk konsumsi,” sebutnya.
Garam konsumsi ini sebut Romo Moses dinamakan Garam Tana Ai karena diproduksi di wilayah etnis Tana Ai di bagian timur Kabupaten Sikka.
Pengelola tambak garam Nangahale yang berada dibawah manajemen PT.Krisrama sebutnya, menjalin kerjasama dengan manajemen Koperasi Kredit Pintu Air Maumere untuk pengembangan usaha.
“Kami berharap agar pemerintah bisa membantu pengembangan areal lahan garam. Kami terkendala perluasan areal tambak garam karena lahan yang dipergunakan masih berstatus Hak Guna Usaha (HGU),” terangnya.