Penjualan Hewan Kurban di Bandar Lampung Sepi Selama Masa Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah pedagang penjual hewan kurban di Lampung alami penurunan jumlah pembeli. Sujito, pedagang hewan kurban jenis kambing membandingkan, lima hari jelang Idul Adha pada 31 Juli mendatang ia baru bisa menjual 20 ekor kambing. Tahun sebelumnya sepekan jelang Idul Adha ia bisa menjual sekitar 50 ekor kambing.

Penjualan hewan kurban saat pandemi Covid-19 menurut Sujito mengalami penurunan drastis. Sepinya pembeli dirasakan oleh pedagang musiman yang memilih lokasi berjualan di Jalan Cut Nyak Dien, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung itu. Harga kambing kurban yang dijual mulai Rp1,5juta hingga Rp3,8 juta dengan jenis meliputi etawa, rambon, kacang dan garut.

Sepinya pembelian hewan kurban menurut Sujito imbas dari lesunya ekonomi. Tahun sebelumnya pembelian hewan kurban banyak dilakukan oleh sejumlah organisasi maupun perseorangan. Namun imbas Covid-19 pembelian kambing kurban menurun.

“Meski hanya menjual separuh dari biasanya namun kambing yang telah kami siapkan tetap bisa dipelihara oleh peternak, sebagian dibeli oleh para pemilik usaha kuliner sate dan sop sehingga pasti tetap laku terjual,” terang Sujito saat ditemui Cendana News, Senin (27/7/2020).

Sepinya pembelian kambing kurban menurutnya imbas daya beli masyarakat rendah. Sebagian warga kerap menawar dengan harga serendah mungkin. Jenis rambon dan kacang Rp1,5juta, Sementara harga paling mahal jenis etawa Rp3,8juta dengan ukuran besar.

Sebagian kambing yang telah terjual akan diberi tanda cat merah dengan kode tertentu. Pembeli akan diberi kupon dan bisa berfoto dengan kambing yang telah dibeli untuk diantar sehari sebelum hari Idul Adha.

“Pembeli kerap tidak memiliki kandang dan pemberian pakan akan diserahkan ke kami dengan tambahan biaya perawatan,” cetusnya.

Sujito memastikan semua hewan kurban yang dijual telah mendapat kartu sehat yang diperoleh dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemkot Bandar Lampung yang melakukan pemeriksaan. Hewan yang cacat dan sakit akan dipisahkan dan tidak boleh dijual untuk hewan kurban.

Paimin, pedagang hewan kurban sapi di Jalan Cut Nyak Dien menyebutkan pembelian hewan kurban yang sepi terimbas pandemi Covid-19. Tahun sebelumnya ia bisa menjual sebanyak 15 ekor ternak sapi titipan peternak. Kini ia hanya bisa menjual sebanyak 6 ekor.

“Penjualan hewan ternak sapi tidak sebanyak tahun lalu, karena pandemi Covid-19 warga menunda untuk melakukan kurban,” cetusnya.

Sapi kurban yang dijual menurut Paimin memiliki harga bervariasi sesuai jenisnya. Jenis sapi peranakan ongole dijual seharga Rp18 juta hingga Rp20 juta, limousin dijual seharga Rp21 juta hingga Rp23 juta.

Lihat juga...