Penyakit Busuk Akar Masih Jadi Momok Petani Vanili
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Penyakit busuk akar maupun busuk batang masih menjadi momok menakutkan bagi para petani vanili di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Pasalnya hingga saat ini mereka masih belum menemukan cara ampuh untuk mengatasi penyakit yang disebabkan karena jamur atau parasit tersebut.
Salah seorang petani vanili asal Dusun Sinogo, Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Sigit Sujatmoko, mengaku penyakit busuk akar dan busuk batang biasa menyerang tanaman vanili secara tiba-tiba. Jika salah satu tanaman sudah terserang, maka dalam waktu singkat akan mampu menularkan penyakit ke tanaman lainnya.
“Penyakit ini tidak mengenal musim. Bisa datang kapan saja. Jika sudah terserang, maka buah vanili akan langsung menghitam, busuk dan rontok. Sehingga tidak bisa dipanen. Sampai saat ini kita belum menemukan cara untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya kepada Cendana News belum lama ini.
Sigit menyebut, pihaknya melalui kelompok petani vanili Rube Mbajing di desanya sebenarnya telah berupaya meminta bantuan kepada pihak terkait untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Namun sayangnya, baik PPL maupun pihak lain seperti peneliti dari sejumlah kampus pertanian juga belum mampu memberikan solusi.
“Dari PPL juga belum bisa memberikan solusi. Begitu juga peneliti dari UGM. Malah kita diminta membeli bibit dari mereka, yang ternyata setelah kita tanam juga masih saja terserang penyakit yang sama,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sementara ini para petani di kawasan perbukitan Menoreh Kulonp Progo ini, hanya bisa melakukan antisipasi dengan cara secepat mungkin menebang pohon vanili begitu mengetahui ada yang terserang penyakit busuk akar dan busuk batang. Hal ini diharapkan agar penyebaran penyakit tidak meluas ke tanaman lainnya.
Dusun Sinogo, Pagerharjo, Samigaluh, sendiri selama ini memang dikenal sebagai daerah penghasil vanili selama puluhan tahun. Warga membudidayakan tanaman vanili secara turun temurun untuk dimanfaatkan sebagai aroma atau perasa makanan.
Terdapat dua jenis vanili lokal yang ditanam petani. Yakni jenis Tahiti yang berbuah pendek serta jenis Vlani yang memiliki buah lebih panjang serta aroma lebih tajam. Tingginya harga jual vanili hingga mencapai Rp300 ribu per kilo basah atau Rp1,3 juta per kilo kering mampu memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani.
“Pohon vanili ini biasa berbuah setahun sekali. Yakni pertama kali berbuah saat sudah berumur 2 tahun. Satu pohon rata-rata bisa menghasilkan 1 kilo vanili basah. Untuk perawatannya hampir sama dengan anggrek. Karena vanili ini termasuk tanaman merambat yang hidup di bawah tegakan, dengan suhu cukup lembab atau dingin,” katanya.