Pengelolaan Hutan Berbasis Konservasi di Lampung, Terus Digencarkan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pengelolaan hutan kemasyarakatan (Hkm) di wilayah Lampung terus didorong untuk upaya konservasi. Demikian ditegaskan Wahyudi Kurniawan, Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) XIII Gunung Rajabasa-Way Pisang- Batu Serampok, Dinas Kehutanan Lampung. 

Upaya konservasi hutan kemasyarakatan disebut Wahyudi dilakukan dengan memilih tanaman kayu produktif. Definisi tanaman kayu produktif berupa penghasil buah, hasil hutan bukan kayu (HHBK) penunjang ekonomi masyarakat. Jenis tanaman yang bisa dijadikan pilihan adalah alpukat, petai, jengkol, cengkeh, kemiri, duku, pinang, durian dan damar.

Sesuai dengan potensi produksi hasil rehabilitasi lahan berbasis konservasi pada Hkm, nilai ekonomis yang diperoleh cukup tinggi. Estimasi penanaman pada sebanyak 10 jenis tanaman produktif sebanyak 6.600.000 tanaman bisa diperoleh nilai ekonomis sebanyak 5,7 miliar. Asumsinya dari perhitungan harga jual komoditas HHBK dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

“Banyak kawasan hutan kemasyarakatan oleh warga ditanami multy purpose tree species atau tumpangsari berbagai jenis tanaman produktif, saat musim panen bisa menghasilkan keuntungan berlipat namun upaya konservasi tetap berjalan,” terang Wahyudi Kurniawan saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (22/7/2020).

Salah satu kawasan Hkm yang ada di Lampung Selatan menurutnya ada di wilayah Register 6 Way Buatan, Desa Suak. Sisanya merupakan kawasan hutan produksi di Register 1 Way Pisang seluas 8395 hektare, kawasan pengelolaan hutan lindung Register 3 Way Pisang. Sejumlah kawasan Hkm di Batu Serampok dimanfaatkan untuk penanaman pohon produktif.

Wahyudi Kurniawan, Kepala UPT KPH XIII Gunung Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok memperlihatkan bibit pohon damar mata kucing yang memiliki prospek ekonomis untuk hutan kemasyarakatan, Rabu (22/7/2020). -Foto Henk Widi

Sebagian masyarakat menyebut memanfaatkan Hkm untuk menanam pohon penghasil buah tahunan. Sebagian menyelingi dengan tanaman kayu yang bisa dipanen setiap pekan jenis damar, karet, kelapa dan aren. Prinsip kelestarian tanpa melakukan penggundulan hutan digencarkan untuk menghindari kerusakan hutan.

“Sosialisasi terus kami lakukan agar Hkm,hutan produksi dan kawasan penyangga hutan lindung dijaga untuk kelestarian,” terang Wahyudi Kurniawan.

Pada kawasan KPHL Gunung Rajabasa, pasokan sumber air bersih jadi pendorong kesadaran masyarakat melestarikan hutan. Konservasi air yang dibutuhkan saat kemarau membuat sejumlah desa mempertahankan kawasan penyangga hutan. Penanaman pohon produktif terus dilakukan sekaligus menjaga pohon usia puluhan tahun sebagai sumber mata air.

Wilayah hutan produksi di Register 1 Way Pisang berbatasan dengan pantai Timur berbatasan dengan tambak rakyat. Wahyudi menyebut Dinas Kehutanan tidak memberikan izin pembukaan tambak baru untuk mempertahankan mangrove. Kawasan hutan mangrove sebagai sabuk hijaun (greenbelt) seluas 50 hektare disebutnya masih dipertahankan.

“Hutan mangrove tetap dipertahankan dan petambak diminta menanam mangrove pada wilayah berhadapan dengan pantai,” terang Wahyudi.

Pengelolan sejumlah kawasan hutan diakui Wahyudi Kurniawan melibatkan masyarakat. Sebagian masyarakat membentuk kelompok tani hutan (KTH) untuk pengelolaan berbasis konservasi. KTH diantaranya mengelola hutan damar yang bisa diambil getahnya,hutan gaharu sebagai penghasil HHBK. Sebagian mengembangkan lebah madu. Ada sebanyak 30 KTH yang telah diberi izin di Lamsel untuk mengelola hasil hutan dengan tetap mempertahankan konservasi.

Idi Bantara (kiri), Kepala BPDASHL Way Seputih Way Sekampung meninjau register 6 Way Buatan Desa Suak Kecamatan Sidomulyo sebagai kawasan hutan kemasyarakatan untuk dikelola sebagai agroforestri, Rabu (22/7/2020). -Foto Henk Widi

Pihak yang dilibatkan dalam pengelolaan Hkm diantaranya Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Way Seputih Way Sekampung (BPDASHL WSS). Idi Bantara, Kepala BPDASHL WSS menyebut satu kawasan Hkm yang jadi pilot project adalah register 6 Way Buatan. Terletak di pesisir barat Lampung Selatan kawasan tersebut memiliki topografi perbukitan, sungai dan laut.

“Kami bekerja sama dengan pengelola hutan register, masyarakat melakukan konsep agroforestri memadukan hutan dan tanaman produksi bernilai ekonomi,” terang Idi Bantara.

Penyediaan bibit menurutnya akan bekerjasama dengan Persemaian Permanen. Jenis tanaman yang dikembangkan berupa alpukat, kelenkeng, mangga. Wilayah register 6 Way Buatan di dekat pantai Cukuh Perak sekaligus jadi kawasan wisata. Konsep agroforestri diharapkan meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan konservasi.

Selain tanaman buah, menyesuaikan alam pantai, penanaman pohon kelapa dan cemara dianjurkan. Sebab berkaca pada tsunami Selat Sunda oleh Gunung Anak Krakatau pohon di tepi pantai efektif mencegah tsunami. Dalam jangka pendek penanaman pohon mencegah abrasi. Kelapa yang ditanam bisa dipanen saat muda dan menjadi komoditas ekonomi bagi wisatawan di Pantai Cukuh Perak.

Lihat juga...