Materi Genetik Enam Pasien Positif Covid-19 di Sikka Sudah Mati

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sebanyak enam pasien Covid-19 di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah menjalani pemeriksaan swab menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) selama 12 kali namun masih dinyatakan positif.

Dokter spesialis penyakit dalam RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di ruang isolasi, Senin (20/7/2020). Foto : Ebed de Rosary

Pasien ini sudah menjalani karantina terpusat di Gedung Sikka Convention Center (SCC) selama 16 hari dan berada di ruang isolasi RS TC Hillers Maumere selama 2 bulan karena masih dianggap positif Covid-19.

“Pemeriksaan PCR untuk mendeteksi materi genetik sel, virus ataupun bakteri pada Covid-19,” ungkap dokter spesialis penyakit dalam RS TC Hillers Maumere Kabupaten Sikka, NTT, dr. Asep Purnama, Sp. PD, Senin (20/7/2020).

Dokter Asep sapaannya menjelaskan, pemeriksaan PCR untuk mendeteksi materi genetik virus SARS-Cov-2. Materi genetik ini tidak bisa menentukan apakah virus ini hidup atau mati.

Ada penelitian di beberapa negara termasuk yang terbaru salah satunya di Singapura sebutnya, disampaikan bahwa setelah diteliti virus itu bertahan selama 7 sampai 10 hari.

“Setelah rentang waktu tersebut materi genetiknya masih ada sehingga kalau diswab masih positif. Tetapi virus ini bukan virus yang hidup sehingga tidak menular,” ungkapnya.

Makanya World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia mengambil pedoman baru yang saat ini diadopsi. Ini untuk menentukan seorang pasien Covid-19 kata dia bisa dipulangkan dari ruang isolasi.

Jadi seorang pasien bisa dipulangkan bukan karena hasil pemeriksaan PCR ucapnya, karena dalam kasus 6 pasien di Sikka sudah 12 kali dilakukan swab hasilnya positif dan sudah 2 bulan dirawat di ruang isolasi.

“Sekarang ada perubahan penanganan dan ini sudah disampaikan WHO mulai minggu kemarin sudah masuk dalam pedoman penanganan Covid-19 versi Indonesia di Kementerian Kesehatan,” terangnya.

Untuk memastikan seseorang positif Covid-19 dikeluarkan dari ruang isolasi kata Asep maka dicek gejalanya dan juga dengan pemeriksaan kulturnya serta pembiakan virusnya tapi tentu tidak bisa dilakukan disini.

Sehingga beberapa penelitian sambungnya, diadopsi dan dijadikan pedoman oleh WHO atau badan kesehatan dunia.

“Jadi setelah 7 sampai 10 hari tanpa gejala maka dianggap negatif dan virusnya tidak menular. Tapi kalau bergejala maka ditangani sampai 3 hari sehingga bebas gejala,”terangnya.

Dengan begitu tambah Asep akan membuat alat PCR tidak habis percuma dan bisa dipakai untuk mendeteksi kasus baru.

Mungkin dianggap materi genetiknya tidak hidup lanjutnya, maka mungkin maksudnya begitu dan disebut bangkai Corona, mungkin maksudnya begitu penyampaiannya.

Beberapa penelitian ucapnya mengatakan kalau tidak bergejala maka virusnya tidak bisa berkembangbiak atau mati dan tidak akan menularkan lagi.

“Jadi dia bukan virus hidup yang bisa menularkan. Jadi namanya materi genetiknya sudah mati dan tidak bisa berkembangbiak,” ujarnya.

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo saat melepaskan 6 pasien positif Covid-19 dan dinyatakan sembuh maka mereka sudah bisa dikembalikan ke rumah masing-masing.

Robi sapaannya menambahkan, sesuai prosedurnya maka dengan demikian Kabupaten Sikka sudah dinyatakan masuk zona hijau sebab tidak ada lagi pasien positif Covid-19.

“Berdasarkan pemeriksaan laboratorium,analisa dan gejala-gejala dinyatakan sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan.Kita tidak perlu takut karena mereka sudah dinyatakan sembuh,” ujarnya.

Lihat juga...