Kelompok Tenun Alami di Sikka Peragakan Hasil Karya
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Tiga kelompok tenun pewarna alami dari Desa Munerana, Watublapi dan Takaplager di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, melakukan peragaan busana mengenakan aksesori produksi mereka. Peragaan busana yang dilaksanakan di pesisir pantai Lokaria ini tampak berbeda, karena hanya disaksikan oleh para penenun tradisional pewarna alami dan beberapa pegiat pariwisata.
“Peragaan busana ini dilakukan untuk memberi motivasi kepada para penenun tradisional pewarna alami, agar mereka lebih percaya diri,” kata Wenefrida Efodia Susilowati, pegiat wisata dan lingkungan di Kabupaten Sikka, Minggu (26/7/2020).
Menurut Susi, sapaannya, pakaian dan aksesori yang dikenakan para peserta merupakan hasil karya pribadi para penenun. Dengan begitu, para penenun bisa termotivasi untuk mencintai dan terus melestarikan tenun ikat, khususnya pewarna alam.

Dia juga mengaku memberi ruang kepada para penenun berkreasi, agar bisa percaya diri dalam mengenakan dan mempromosikan kain tenun karya mereka sendiri.
“Kami ingin memberi ruang kepada para penenun untuk menampilkan karya mereka, agar mereka bisa percaya diri. Ini juga bagian memberikan mereka ruang untuk berani mempromosikan hasil karya mereka di depan umum,” terangnya.
Susi berharap, pasar kain tenun pewarna alam produksi perajin di Kabupaten Sikka bisa bergairah kembali setelah pandemi Corona berakhir.
Pegiat tenun ikat pewarna alami, Anselina Sidok, mengaku terharu melihat semangat para anggota kelompok yang mayoritas orang tua bersemangat mempergakan hasil karya mereka.
Anak muda yang bergiat di tenun ikat ini mengaku selalu mendampingi kelompok tenun ikat pewarna alam, agar terus berkarya menghasilkan produk yang bisa terserap pasar.
“Kami ikut mendorong dan memberikan pelatihan kepada mereka untuk berkarya menghasilkan produk kain tenun pewarna alam. Pelatihan memproduksi suvenir dan aksesori dari kain tenun juga kami selenggarakan,” ungkapnya.
Anselina mengatakan, dirinya bersama Susi tergerak untuk mempromosikan dan mencari pangsa pasar, agar hasil karya penenun bisa laku terjual sesuai selera pasar.
Disebutkannya, meskipun proses menenun masih dilakukan secara tradisional, namun kualitas tetap terjaga sehingga penenun selalu didampingi.
“Setelah pandemi Corona berakhir, kita berharap agar kain tenun ikat pewarna alam mulai banyak dibeli. Selama ini, penjualan hanya mengandalkan kunjungan wisatawan dan di gerai-gerai lokal saja, sehingga pihaknya mencoba menjual lewat virtual marketing,” pungkasnya.