Ekonomi Nasional Diprediksi Tumbuh 6 Persen di 2022
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Meski ekonomi nasional tahun 2020 tengah terseok akibat wabah Covid-19, namun pemerintah meyakini, loncatan akan segera terjadi pasca pemulihan. Bahkan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mampu tembus di angka 6 persen pada tahun 2022.
“Dengan kebijakan yang tepat, kami proyeksikan ekonomi akan tumbuh 4,8 persen tahun depan dan 6 persen di tahun selanjutnya,” ujar Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam acara Webinar Launch of Eurocham Position Papers, Rabu (15/7/2020) di Jakarta.
Airlangga menilai, walaupun pandemi melemahkan perekonomian, namun di lain sisi, pandemi juga menimbulkan momentum untuk reformasi struktural dan ekonomi, peningkatan keahlian, mengubah metode bisnis dari offline ke online, serta menguatkan digitalisasi untuk aktivitas ekonomi dan sosial.
“Kami sangat meyakini bahwa digitalisasi dari berbagai proses bisnis yang digabungkan dengan industrialisasi pada beberapa sektor merupakan prasyarat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, inklusif, seimbang, dan berkelanjutan. Momentum ini yang kita harus maksimalkan setelah pandemi,” tukas Airlangga.
Seperti di ketahui, sejak awal Juni 2020, Indonesia secara bertahap memasuki masa adaptasi kebiasaan baru (new normal). Keputusan tersebut diambil pemerintah berdasarkan kajian ilmiah mengenai penyebaran Covid-19 dan aspek sosial ekonomi.
“Pemerintah ingin menciptakan keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi, karena kedua hal ini ibarat dua sisi mata uang. Sebab, pembukaan kembali kegiatan ekonomi akan membantu banyak perusahaan yang selama beberapa bulan terakhir harus menanggung beban operasionalnya, dengan mengurangi gaji karyawan, memutus hubungan kerja, dan mereduksi aset,” terang Airlangga.
Selama masa pandemi, kata Airlanggga, ada bisnis-bisnis yang menang dan pula yang terpukul. Sektor pemenang termasuk perusahaan yang mengedepankan teknologi digital dan beroperasi dalam bidang pembayaran digital, logistik, kesehatan, teknologi informasi dan edukasi.
Untuk bisnis yang luar sektor digital, ada beberapa sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif, yakni rokok, batu bara, makanan pokok, farmasi dan kesehatan, serta minyak nabati. Sementara, yang menjadi pecundang ada pada sektor pariwisata, jasa tidak esensial dan lainnya.
“Kita harus memastikan sektor pemenang itu terus bertahan, sedangkan sektor yang sangat terkena imbasnya harus diberi perhatian penuh supaya dapat kembali beraktivitas, mempekerjakan kembali dan mengembalikan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga,” jelas Menko Airlangga.
Hal ini sejalan dengan rekomendasi bisnis yang terdapat dalam Eurocham Position Papers 2020 untuk memperkuat ketahanan industri dan ekonomi. Rekomendasi tersebut terdiri atas; mendorong keterlibatan sektor swasta; simplifikasi proses dan birokrasi; mempercepat transformasi digital; meningkatkan konektivitas; dan menambah pilihan konsumen dan akses pada produk-produk inovatif.
“EuroCham Position Papers 2020 terdiri atas 12 Sectoral Position Papers dan 1 Executive Summary. Laporan tersebut diharapkan bisa membantu pemerintah Indonesia dalam mempercepat pemulihan ekonominya dan meraih pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, serta dapat menjadi salah satu dasar pengambilan kebijakan ke depannya,” pungkas Airlangga.