Usaha Pemijahan dan Pembesaran Ikan Andalkan Pakan Kombinasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penggunaan pakan kombinasi jadi solusi usaha pemijahan dan pembesaran ikan di Lampung Selatan (Lamsel).

Lilik Toto Wisojo, pemilik usaha pemijahan ikan lele mutiara menyebut menggunakan pakan pelet pabrik, dedak bekatul dan cacing darah. Semua jenis pakan tersebut menurutnya diperoleh dengan cara membeli dari toko pakan.

Ketersediaan pakan pelet menurut Lilik sapaan akrabnya bisa diperoleh dari toko di wilayah Penengahan. Namun untuk pasokan pakan cacing darah atau Larva Chironomus sp, didatangkan dari wilayah Lampung Tengah.

Cacing darah menurutnya jadi sumber pakan alami bagi indukan lele mutiara sebanyak 40 pasang. Selain indukan pakan cacing darah digunakan untuk lele yang telah menetas usai pemijahan.

Jenis pakan pelet dibeli dari ukuran min 1 hingga P1000 kerap dibeli dengan sistem karungan atau sak. Ia membeli pakan dengan harga mulai Rp170.000 hingga 280.000 sesuai ukuran pelet.

Pembelian dalam jumlah banyak menjadi cara untuk efisiensi pembelian pakan. Khusus untuk pakan dedak dibeli seharga Rp30.000 seberat 30 kilogram. Pakan cacing darah dibeli seharga Rp70.000 per gayung.

“Satu gayung cacing darah bisa mencapai berat tujuh kilogram karena saat ini saya belum bisa melakukan budidaya mandiri sehingga harus membeli untuk pakan tambahan dalam usaha pemijahan ikan lele,” terang Lilik Toto Wisojo saat ditemui Cendana News, Selasa (30/6/2020).

Pakan kombinasi yang digunakan menurut Lilik diberikan agar indukan dan benih mendapat asupan gizi yang baik. Pada periode pemijahan semester kedua tahun ini Lilik menyebut bisa memproduksi lebih dari 300 ribu benih.

Benih ikan lele mutiara kerap akan dilepas saat ukuran 5 hingga 7 cm. Rata-rata pembeli benih lele merupakan pemilik usaha pembesaran.

Permintaan benih lele sangkuriang menurut Lilik rata-rata mencapai 1000 hingga 6000 ekor sekali budidaya. Stok benih yang cukup banyak membuat ia menjual per ekor benih lele hanya seharga Rp200.

Semakin cepat benih keluar dari sejumlah kolam pemijahan ia menyebut kebutuhan pakan akan semakin berkurang.

“Permintaan benih kini berasal dari luar kabupaten meliputi Pesawaran, Tanggamus hingga Lampung Tengah karena stok melimpah,” terang Lilik.

Permintaan pembenih lokal menurut Lilik rata-rata merupakan pemilik usaha pembesaran. Usaha pembesaran menjadi penopang rantai permintaan usaha kuliner.

Sebab lele yang dijual dalam bentuk pecel banyak dijual oleh sejumlah pemilik usaha kuliner di sepanjang Jalinsum. Pasokan pakan, benih dan usaha pembesaran ikut mendorong tumbuhnya sektor usaha lain.

Lele mutiara yang merupakan akronim dari mutu tinggi tiada tara diakui Lilik sangat diminati. Hal tersebut karena tingkat hidup lele jenis tersebut sangat tinggi dan tahan penyakit.

Pola kebutuhan pakan satu kilogram menghasilkan satu kilogram ikan membuat pakan kombinasi banyak diterapkan. Sebab pakan pabrikan yang dibeli akan meningkatkan biaya produksi.

Mikael Anggi, pemilik usaha pembesaran ikan nila, gurame dan mas menyebut pakan jadi faktor suksesnya budidaya. Menebar bibit sekitar 5000 ekor ikan nila ia menyebut menghabiskan pakan hingga 1 ton untuk satu siklus budidaya.

Mikael Anggi, pemilik usaha pembesaran ikan nila dan mas menyiapkan pakan pelet pabrikan untuk budidaya selama tiga bulan, Selasa (30/6/2020) – Foto: Henk Widi

Satu siklus budidaya disebutnya butuh waktu selama tiga bulan. Benih yang dibeli dari wilayah Palas merupakan jenis bibit berkualitas.

Menggunakan pakan pelet P1000 Mikael Anggi menghabiskan lima kilogram per hari. Ia memilih membeli pelet satu sak ukuran 30 kilogram dan butuh puluhan sak. Sisanya kebutuhan pakan memakai bekatul atau dedak penggilingan padi.

Dedak dibeli dengan harga Rp30.000 untuk ukuran 30 kilogram dan semakin murah saat panen padi. Asupan pakan tambahan diberikan sebagai selingan dan mengurangi pakan pabrikan.

“Saat ini saya masih melakukan pembuatan formula pakan dari bahan alternatif agar bisa menghemat biaya produksi,” terangnya.

Budidaya ikan nila dengan modal Rp5 juta menurutnya sekali siklus produksi sudah termasuk biaya operasional. Saat panen dengan harga jual Rp18.000 per kilogram ia masih bisa mendapat omzet kotor Rp10 juta.

Dikalkulasikan dengan biaya operasional yang dikeluarkan ia bisa mendapat untung bersih Rp5 juta. Semakin sedikit pakan pabrikan dipakai ia menyebut operasional bisa ditekan.

Pengairan dari Gunung Rajabasa yang lancar menurut Mikael Anggi jadi peluang usaha menjanjikan. Memiliki kolam disekat menjadi tiga petak dengan luasan mencapai ratusan meter persegi ia menerapkan sistem tebar terjadwal.

Saat satu petak kolam panen ia masih memiliki petak yang belum panen. Setahun ia menyebut bisa panen tiga kali dengan masa panen tiga bulan.

Lihat juga...