Sistem Saturasi Oksigen Diharapkan Digunakan Secara Luas
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Penelitian yang mendapatkan penghargaan dan dana untuk implementasi dalam perawatan COVID 19 salah satunya yakni penelitian terkait Sistem Pemantauan Tingkat Pernapasan dan Saturasi Oksigen dan Sistem Kendali Regulator Oksigen Terintegrasi dengan Teknologi Internet of Things untuk Perawatan Pasien COVID-19 dari Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir BATAN Yogyakarta.
Kedepannya, penelitian ini diharapkan dapat digunakan secara luas pada gangguan pernapasan, bukan hanya untuk perawatan COVID 19.
Ketua Tim Peneliti dan yang juga merupakan Dosen Prodi Elektronika Instrumentasi Jurusan Teknofisika Nuklir Ayu Jati Puspitasari, M.Si menjelaskan, penelitian ini berkaitan dengan pengintegrasian sistem pemantauan kondisi pernapasan dengan kendali regulator tabung oksigen.
“Dengan sistem ini, pasien secara terus menerus akan dipantau tingkat pernafasan dan saturasi oksigen (SpO2)-nya. Jika tidak normal maka akan ada pengendalian aliran oksigen pada regulator tabung oksigen,” kata Ayu saat dihubungi, Sabtu (6/6/2020).
Ia menyatakan kendali dapat dilakukan secara otomatis maupun kendali oleh tenaga medis, untuk mencegah penularan dan menjadi solusi atas kurangnya ketersediaan APD.
“Sistem pemantauan dan kendali ini dapat dilakukan dari jarak jauh menggunakan teknologi Internet of Things (IoT),” ujarnya.
Ia menyebutkan sistem ini akan membantu pemantauan pernapasan pasien secara kontinu karena bersifat realtime dan membantu pengendalian aliran oksigen dalam kasus terapi oksigen.
“Yang dimaksudkan dengan tingkat pernafasan (respiration rate) adalah jumlah pernafasan (inspirasi dan ekspirasi) dalam 1 menit. Saturasi oksigen adalah persentase oksigen dalam aliran darah. Jadi dengan sistem ini akan bisa dilihat nilai RR (respiration rate) dan SpO2 nya, apakah ada gangguan atau tidak,” urainya.
Ia mencontohkan, respiration normal orang dewasa adalah 8-20 kali per menit dan saturasi oksigen normal dewasa adalah 95-100 persen.
“Jika tidak sesuai dengan itu maka ada indikasi ketidaknormalan, tapi justifikasi mengenai kondisi pasien hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis,” tandasnya.
Kedepannya, Ayu menyebutkan, alat pemantauan ini diharapkan tidak hanya digunakan untuk pasien COVID 19 saja. Tapi juga dapat digunakan pada seluruh pemantauan pernapasan.
“Saya melakukan penelitian bersama dua mahasiswa saya, Arya Nicosa dan Dian Bayu Prakarsa. Targetnya, bulan November, alat ini sudah selesai,” ujarnya.
Kepala Subbagian Perencanaan dan Kerjasama STTN BATAN Yogyakarta Rita Tyas Mulatsih, SH, MH, menyatakan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa merupakan capaian yang luar biasa.
“Tentu STTN sebagai Perguruan Tinggi Vokasi sangat mengapresiasi capaian ini. Output Perguruan Tinggi Vokasi terkait dengan Tridarma Perguruan Tinggi dalam hal penelitian memang mengarah pada penelitian yang bersifat aplikatif, dapat diterapkan secara langsung sebagai respon atas kebutuhan masyarakat,” kata Rita.
Ia menyatakan bentuk dukungan yang diberikan oleh STTN adalah dengan terbukanya fasilitas kampus seluas-luasnya untuk keperluan penelitian dan pengembangan serta dukungan teknis lain yang memungkinkan.
“Untuk potensi kerjasama dengan pihak lain, ini tahapan teknis yang Bu Ayu nanti bisa laksanakan, termasuk dengan pihak mana saja, kami di bagian kerja sama mendukung sepenuhnya jika diperlukan. Selama ini untuk kerja sama dengan instansi kesehatan, STTN telah bekerja sama dengan beberapa RS baik negeri atau swasta maupun lembaga pendidikan yang fokus di bidang kesehatan, sangat mungkin untuk saling mendukung menghasilkan aplikasi ilmu yang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya saat ini,” pungkasnya.